himpunan doa

Minggu, 11 Maret 2012

Terlambat

senja ini 
rintik hujan berubah menjadi guyuran air 
sebatang bunga kecil itu sendirian diluar sana
beratapkan langit
kedinginan
dan patah.
langit persembahkan pelangi untuknya
karena tak mampu menjaganya
namun,
bunga itu takkan dapat kembali..

Kembali Pulang

Berlarilah...
Yang jauh,
Sesuka kakimu melangkah
Sampai kau lelah
Dan kau akan tetap akan berakhir dengan kembali ke sampingku
Berteriklah...
Yang kencang,
Sampai kamu puas
Sampai tenggorokanmu sakit
Dan kau akan menghampiriku, karena disinilah airmu

Kamis, 19 Januari 2012

. . . Dari sebuah kehilangan


All right,,

Sekarang saya lagi sedikit calming down myself,after having such a quite bold week..well, dimulai dari betapa ‘zoonk’nya saya akan akun, kuis statek  yang selalu ‘mencekam’ karena dosennya galak, dan fenomena adaptasi di lingkungan kampus STAN ini..

Accounting and “Oh My Gosh!”

Let’s skip about lectures…kuliah mah dijalanin aja,,bukan buat dicurhatin,,haha…

Okay…ada banyak poin yang menarik buat saya akhir – akhir ini. Sebenernya bukan hal yang so damn serious or touchy. Ini poin – poin yang akhirnya berhasil saya ‘underline’ dalam pikiran dan idealisme saya.

“People come and go. Things born and die.”

Ini sangat klise pada awalnya. Tapi setelah saya ngobrol sama beberapa orang, tentang sesuatu yang datang di kehidupan mereka dengan caranya masing – masing, menyerap tenaga kita untuk  put some attentions or even efforts, sampai akhirnya menampar kita keras saat sesuatu itu harus pergi.

‘Menampar’ disini bukan cuma berarti membuat kita feeling so suffered, merasa ditinggalkan, atau merasa kehilangan. Saat sesuatu itu pergi dan tepat setelahnya, kita ‘ditampar’ oleh unlimited regrets. Penyesalan; yang bahkan bisa membuat kita merasa lebih bodoh dari definisi bodoh yang selama ini kita ketahui. “Ini terlalu bodoh”. Dan bodoh disini bukan karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini harus pergi, tapi karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini pernah DATANG ke kehidupan kita.

“You will never know what you’ve got until you lose them all”

Ini juga klise…dan bisa jadi sangat betul. Tapi saya yakin, ada saatnya dimana kehilangan gak selalu membuat kita sadar kalau sesuatu yang berharga telah pergi, lalu rasanya seluruh dunia bilang,”See! I told you!”, dan akhirnya membuat kita merasa makin..dan makin BODOH untuk alasan yang emosional.
Gak selalu.
Coba kita ganti susunan kata – katanya…

“you will never know what you WILL GET after you lose them all”

Ini terdengar lebih positif buat saya.
Well okay, saya bukan orang yang maniak akan positive thinking. (come on, there are black and white, right and wrong, good and bad. Just be realistic!).
Tapi pada saat saya jatuh, saya gak mau merasa jatuh juga. I  mean, bukan berarti saya egois dan angkuh. People make mistakes. People fall. Dan saya pasti pernah jatuh. Tapi buat saya, being fallen means figure it out! Kalo jatuh, usaha buat kembali berdiri lagi…

Jadi saya lebih suka mendengar sesuatu yang menguatkan saya saat saya jatuh. Jujur, saya bukan orang yang menikmati berlama – lama dikasihani. My brain and my faith dominate more than a half of me. Then I’ve found that sentence mentioned above…

Saat dimana saya menyesali kenapa saya sampai membiarkan itu datang, dan akhirnya pergi saat saya udah terlalu membiarkan diri saya hablur dalam zona abu-abu, gak bisa lagi menilai perilaku saya sendiri karena suatu ketidaksadaran akan betapa tidak seharusnya saya jadi BODOH seperti ini.

Inilah contoh living proof akan subjek yang menyesal. SAYA  yang menyesal.

Dibantu dengan kalimat diatas tadi, saya mulai berusaha mencari sesuatu yang bisa menghentikan “what a fool you?! What did you do?! How could you?!” yang saya tujukan pada diri saya sendiri. It hurt a lot, knowing that you are so damn fool for letting this happened.

Lalu percakapan dengan beberapa teman di sekitar,,menguatkan saya.

*True! If you have problems, then share it with your trusted people…It helps! Even if you are a really and totally introvert people. Every people are to be helped.*

Dan fenomena di sekitar saya…Banyak yang kehilangan. Banyak yang sedih. Bahkan, banyak yang memutuskan untuk menangis…banyak perasaan yang sulit. Menyesal. Marah. Tidak Terima. Kecewa. Putus Asa. Kosong.

Tapi pada satu titik, mereka harus berhenti menjadi ‘feeler’- perasa – and star to be a thinker.
See! Look! Evaluate! and…figure it out!
Kita gak boleh membiarkan a boldness of suffering getting more suffered to be felt. Ini gak boleh terus berlanjut…back again, People fall. Tapi, kita juga gak boleh membiarkan sesuatu yang gak menyenangkan ini terjadi dan terlewati begitu aja.

Inget teori causa prima? Everything has its own reason why it’s exist.
Kenapa harus ‘hitam’..kenapa harus ‘putih’…kenapa harus ‘benar’…harus ‘salah’…harus ‘senang’…atau ‘sedih’..
Kenapa…kenapa…dan kenapa…

Dan itulah yang hanya akan bisa dijawab oleh para ‘thinker’…sementara para ‘feeler’ masih terus mempertanyakan perasaannya sendiri…’gimana ini? Kok jadi kayak gini?’ Dan sebagainya…

Disinilah saya  menyimpulkan sesuatu.

“Losing doesn’t always mean bad. Because it will always give you something..A LEARN”
Dan saya belajar banyak dari kehilangan…yang jauuuh lebih mendewasakan dari saat saya  menghadapi suatu keberhasilan. Merelakan sesuatu itu pergi, ‘menangis’ sebentar di hati, lalu…menjadikannya suatu pelajaran agar suatu saat nanti,,,jangan sampai kehilangan lagi. Atau setidaknya, jangan sampai hilang karena kesalahan yang sama…People do fall, but not to be repeated.

Dari sini juga,,,saya belajar untuk tidak membenci apa yang hilang tadi, tanpa harus memaksakan diri untuk kembali memandangnya sebagai sesuatu yang putih lagi. Ini hak saya untuk memberikan penilaian. Dan saya memilih untuk tidak menilai BENCI. Kalau memang harus pergi, saya hanya bisa bilang “well..thanks for everything. Good luck for us and see you; perhaps…next time”

…..
“People come and go. Things born and die. Either Success or Failure, they will be nothing more than a part of our memories. The point is just how you learn from what you’ve been through”
*these are the pendings words, which had been postponed for couple of time*

Banyak bisa. Banyak mau. Tidak banyak mampu.


Sepertinya sekarang saya sedang ada di fase de javu…
Kalau kamu diberikan sejuta kapasitas utuk memproses mimpi dan rencana masa depan, seharusnya kamu sudah sadar kalau kamu juga punya kapabilitas untuk itu. Ingin jadi penyanyi, karena kamu bisa bernyanyi. Ingin jadi pebisnis karena kamu bisa mengambil risiko. Ingin jadi politikus karena kamu bisa bekerja secara birokrat. Ingin jadi sesuatu karena, setidaknya, kamu tahu kalau kamu bisa.

Bisa disini bukan berarti harga mati, bakat yang turun dari langit dan anti kata tidak. Pernah tahu kalau ada orang yang bisa melakukan sesuatu, tapi orang itu malah tidak melakukan sesuatu itu?

Seorang Dian Sastro yang memiliki potensi untuk bisa lebih produktif di depan layar kaca lewat sinetron atau program showbiz lainnya, tapi pada kenyataannya tidak menjadi seperti itu; mungkin karena memilih untuk idealis dengan prinsip sendiri.

Seorang Anggun C. Sasmi yang bisa saja melupakan Indonesia karena sudah punya standara hidup kelas dunia dan karyanya sudah diapresiasi dengan lebih baik di belahan dunia lain di luar sana, tapi ia tidak menjadi seperti itu. Rambutnya tetap hitam, putri pertamanya tetap bernama Kirana dan tetap diajari bahasa Indonesia.
Karena menjadi bisa itu pilihan.

Inilah yang saya sebut MAU.

Bisa karena terbiasa juga sudah masuk kategori MAU, karena seseorang sudah memilih untuk MAU jadi bisa, makanya ia membiasakan dirinya. Ini butuh waktu, tapi waktu itu kan memang diberikan Tuhan untuk mengubah suatu negasi menjadi afirmasi, mengubah kata belum menjadi kata sudah. Merasa ketinggalan kereta karena membutuhkan waktu lebih lama dari yang lain? Apa masalahnya? Kalau kamu orang yang menghargai setiap pembelajaran dari suatu proses, saya kira kamu tidak akan terlalu menyukai hal-hal yang bersifat instan. Premature; you might call…

MAU ini juga yang menuntut effort psikologis paling besar. Banyak pemikiran dan pertimbangan yang harusnya kamu lalui untuk menjadi MAU. Makanya, secara religius, niat lah yang paling menentukan balasan Tuhan untuk setiap perbuatan. Karena niat itulah yang menjadi refleksi kualitas seorang kamu, kamu secara keseluruhan.
Walaupun kata MAU bisa berasal dari faktor eksternal, seperti terpaksa atau terpengaruh, tapi saya yakin, faktor eksternal ini tidak akan berhasil membuat kamu senang menyatakan kamu MAU.

Walaupun kamu tidak sadar betul, atau tidak mengerti bagaimana cara mendeskripisikannya, tapi perasaan “Somehow, I just feel that…there is something wrong” ini adalah indikator kuat akan kata MAU yang tidak merefleksikan kamu secara keseluruhan.
Di titik ini kamu butuh berhenti sesaat, otherwise…some parts of you will haunt your willingness with such a weird negation, forever; even if you are already done making this willingness comes real; not comes right.
Katakanlah kamu sudah bisa dan sudah mau. Next stage is…mampu.

Banyak orang yang menjadikan bisa dan mampu sebagai sinonim satu sama lain. Menurut saya tidak. Karena bisa, belum tentu mampu. Dan tidak seperti mau, mampu itu bukan pilihan. Mampu itu suatu hasil dari harmonisasi MAU dan REALITA. Dan manusia tidak bisa memilih realita. Manusia hanya bisa memilih untuk memperjuangkan suatu realita. Inilah yang menjadikan kata GAGAL ada di dunia.

Contoh simpel…ada seorang subjek yang begitu bertalenta. Bisa banyak hal, Mau banyak hal, semua melambung tinggi menjadi suatu mimpi yang luar biasa hebat. Bahkan tidak semua subjek bisa merancang mimpi seperti itu, atau mungkin…tidak semua mau.

Then, hold a second…ada dunia yang punya kendalinya sendiri. Ada dunia yang hanya menyediakan 24 jam sehari. Ada dunia yang menganut falsafahnya sendiri. Ada dunia yang menyeleksi kekuatan-kekuatannya sendiri. Dan ada kamu yang mendadak terhenti; terpengarah dengan ironi kata MAMPU. Mulai terpikir untuk mencari kambing hitam, padahal sebenarnya…sederhana saja,

Kamu dan dunia tidak MAMPU berharmoni.
Ya. Inilah fase saya saat ini. Fase yang terulang lagi. Saya terhenti. Kalau dulu saya memaksakan semuanya…awalnya saya mengira saya mampu memaksakan suatu harmoni, karena saya akhirnya mampu mewujudkan banyak hal besar. Tapi pada akhirnya, dan baru belakangan ini, saya menyadari bahwa saya memang tidak mampu karena ternyata saya harus membayar dengan beberapa kehilangan besar lainnya.
Saat saya harus memilih untuk mencukupi kemauan saya, menyisihkannya, menyimpannya ke dalam lemari ambisi saya, dan belajar untuk membesarkan hati.
Banyak bisa. Banyak mau. Tidak banyak mampu.
Mau apa lagi?

De Javu ini seperti memberikan kesempatan untuk saya membuktikan kalau saya adalah orang yang mampu belajar dari kesalahan hari kemarin. Saya tidak akan membiarkan diri saya menukar lagi ‘hal-hal yang saya sayang’ dengan bintang-bintang di atas sana. Saya tidak mau berkompetisi dengan ambisi sendiri. Kalau saya menang, yang kalah tetap saya juga. Yang merasakan hanya saya, yang akhirnya ditinggalkan juga hanya saya.Hhh..ini lelucon.
***
“Go get jealous with someone whom you think luckier than you, you just have no idea how they think the same way about you, too”

Sedang sakit,cuaca jelek ................


Saya lagi sakit, sakit tapi bisa nulis Note ?

yah begitulah teman…teman…ini sakit emang rada aneh, abis cuaca lagi nyebelin banget….pagi2 teh dingin sampe -4 derajat, udah gitu siang2 0 derajat celsius, tapi matahari bersinar terang benderang kayak matahari di Bengalon  !

jadilah badan saya kerasa panas tapi kalo dipegang dingin. bahasa bekennya mah disebut..panas dingin. Dulu mah praktis, tinggal dikerokin sama Ibu, minum Panadol Cold & Flu (IKLAN ! Panadol harus bayar ke saya ! hehe) makan makanan bergizi+DAGING, tidur..besoknya pasti sembuh.

Eh, sekarang ? metode penyembuhan mutakhir made in Indonesia bernama ‘KEROK’ ! udah jarang.. sakit dikit, ayo..ke dokter !

Bee juga udah nanyain, “mau ke dokter gak ?”
saya bilang aja, GAK. ya iyalah,,gaya bener saya, panas dingin doang langsung ke dokter.

Mau mengaplikasikan metode kurasi PANAS DINGIN ala Ibu aja, jadilah saya pergi ke supermarket terdekat. Mau beli daging ayam+sapi.. Walopun saya lagi sakit, tapi keukeuh lah saya jalan ke supermarket itu. Secara bee belum pulang jam segini..maklum,bee itu sibuknya udah ngalahin Presiden aja, cepet banget ‘ngilang dan muncul’ lagi ! jadilah saya harus fight jalan ke supermarket dengan muka lecek dan mata merah ‘khas’ saya…

DAPAT ! dengan harga Rp 86.000, saya mendapatkan daging sapi+ayam , let's go cooking

saya tinggalin itu daging di kamar (masih dalam kantong plastik yang terikat rapat) coz saya ke kamar mandi bentar, eh…begitu saya balik,

JRENG ! JRENG ! JRENG !

semua daging itu ludes ! tersangka utamanya siapa lagi kalo bukan CAMCAM! Kucing super agresif kesayangan bee yang sedang ‘berguling – guling’ tanpa dosa sambil masih menjilat2 bungkus daging itu…dengan nikmatnya.
Speechless. 

AAAAA…dia kangen makan daging kali yah, giliran begitu saya beli, Haduu…ludes dimakan kucing. BETE ! Mana lagi PMS, tambah BETE, mau BETE sama siapa coba ? sama kucing ?
Gak ada Ibu yang ngerokin, gak ada PANADOL, gak ada daging.. Sabar Pitha .… 
Beee ...... Malam ini gak ada futsal ya,:*