Sepertinya sekarang saya sedang ada di fase de javu…
Kalau kamu diberikan sejuta kapasitas utuk memproses mimpi dan rencana masa depan, seharusnya kamu sudah sadar kalau kamu juga punya kapabilitas untuk itu. Ingin jadi penyanyi, karena kamu bisa bernyanyi. Ingin jadi pebisnis karena kamu bisa mengambil risiko. Ingin jadi politikus karena kamu bisa bekerja secara birokrat. Ingin jadi sesuatu karena, setidaknya, kamu tahu kalau kamu bisa.
Bisa disini bukan berarti harga mati, bakat yang turun dari langit dan anti kata tidak. Pernah tahu kalau ada orang yang bisa melakukan sesuatu, tapi orang itu malah tidak melakukan sesuatu itu?
Seorang Dian Sastro yang memiliki potensi untuk bisa lebih produktif di depan layar kaca lewat sinetron atau program showbiz lainnya, tapi pada kenyataannya tidak menjadi seperti itu; mungkin karena memilih untuk idealis dengan prinsip sendiri.
Seorang Anggun C. Sasmi yang bisa saja melupakan Indonesia karena sudah punya standara hidup kelas dunia dan karyanya sudah diapresiasi dengan lebih baik di belahan dunia lain di luar sana, tapi ia tidak menjadi seperti itu. Rambutnya tetap hitam, putri pertamanya tetap bernama Kirana dan tetap diajari bahasa Indonesia.
Karena menjadi bisa itu pilihan.
Inilah yang saya sebut MAU.
Bisa karena terbiasa juga sudah masuk kategori MAU, karena seseorang sudah memilih untuk MAU jadi bisa, makanya ia membiasakan dirinya. Ini butuh waktu, tapi waktu itu kan memang diberikan Tuhan untuk mengubah suatu negasi menjadi afirmasi, mengubah kata belum menjadi kata sudah. Merasa ketinggalan kereta karena membutuhkan waktu lebih lama dari yang lain? Apa masalahnya? Kalau kamu orang yang menghargai setiap pembelajaran dari suatu proses, saya kira kamu tidak akan terlalu menyukai hal-hal yang bersifat instan. Premature; you might call…
MAU ini juga yang menuntut effort psikologis paling besar. Banyak pemikiran dan pertimbangan yang harusnya kamu lalui untuk menjadi MAU. Makanya, secara religius, niat lah yang paling menentukan balasan Tuhan untuk setiap perbuatan. Karena niat itulah yang menjadi refleksi kualitas seorang kamu, kamu secara keseluruhan.
Walaupun kata MAU bisa berasal dari faktor eksternal, seperti terpaksa atau terpengaruh, tapi saya yakin, faktor eksternal ini tidak akan berhasil membuat kamu senang menyatakan kamu MAU.
Walaupun kamu tidak sadar betul, atau tidak mengerti bagaimana cara mendeskripisikannya, tapi perasaan “Somehow, I just feel that…there is something wrong” ini adalah indikator kuat akan kata MAU yang tidak merefleksikan kamu secara keseluruhan.
Di titik ini kamu butuh berhenti sesaat, otherwise…some parts of you will haunt your willingness with such a weird negation, forever; even if you are already done making this willingness comes real; not comes right.
Katakanlah kamu sudah bisa dan sudah mau. Next stage is…mampu.
Banyak orang yang menjadikan bisa dan mampu sebagai sinonim satu sama lain. Menurut saya tidak. Karena bisa, belum tentu mampu. Dan tidak seperti mau, mampu itu bukan pilihan. Mampu itu suatu hasil dari harmonisasi MAU dan REALITA. Dan manusia tidak bisa memilih realita. Manusia hanya bisa memilih untuk memperjuangkan suatu realita. Inilah yang menjadikan kata GAGAL ada di dunia.
Contoh simpel…ada seorang subjek yang begitu bertalenta. Bisa banyak hal, Mau banyak hal, semua melambung tinggi menjadi suatu mimpi yang luar biasa hebat. Bahkan tidak semua subjek bisa merancang mimpi seperti itu, atau mungkin…tidak semua mau.
Then, hold a second…ada dunia yang punya kendalinya sendiri. Ada dunia yang hanya menyediakan 24 jam sehari. Ada dunia yang menganut falsafahnya sendiri. Ada dunia yang menyeleksi kekuatan-kekuatannya sendiri. Dan ada kamu yang mendadak terhenti; terpengarah dengan ironi kata MAMPU. Mulai terpikir untuk mencari kambing hitam, padahal sebenarnya…sederhana saja,
Kamu dan dunia tidak MAMPU berharmoni.
Ya. Inilah fase saya saat ini. Fase yang terulang lagi. Saya terhenti. Kalau dulu saya memaksakan semuanya…awalnya saya mengira saya mampu memaksakan suatu harmoni, karena saya akhirnya mampu mewujudkan banyak hal besar. Tapi pada akhirnya, dan baru belakangan ini, saya menyadari bahwa saya memang tidak mampu karena ternyata saya harus membayar dengan beberapa kehilangan besar lainnya.
Saat saya harus memilih untuk mencukupi kemauan saya, menyisihkannya, menyimpannya ke dalam lemari ambisi saya, dan belajar untuk membesarkan hati.
Banyak bisa. Banyak mau. Tidak banyak mampu.
Mau apa lagi?
De Javu ini seperti memberikan kesempatan untuk saya membuktikan kalau saya adalah orang yang mampu belajar dari kesalahan hari kemarin. Saya tidak akan membiarkan diri saya menukar lagi ‘hal-hal yang saya sayang’ dengan bintang-bintang di atas sana. Saya tidak mau berkompetisi dengan ambisi sendiri. Kalau saya menang, yang kalah tetap saya juga. Yang merasakan hanya saya, yang akhirnya ditinggalkan juga hanya saya.Hhh..ini lelucon.
***
“Go get jealous with someone whom you think luckier than you, you just have no idea how they think the same way about you, too”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar