himpunan doa

Senin, 16 April 2012

PURSUIT of HAPPYNESS

“Happyness is the meaning and purpose of life, the whole aim and end of human existence”
- Aristotle -

Ketika mulai memikirkan apa yang akan saya tulis saat harus menyelesaikan tugas membuat essai tentang tujuan hidup ini saya belum mendapatkan ide apa pun yang cemerlang. Browsing sana-sini, ngubek-ubek situs-situs motivasi, tapi belum juga saya temukan ide itu.

Betapa sulit ternyata “hanya” untuk memulai menuliskan satu dua kalimat inti apa tujuan hidup kita sebenarnya. Padahal tak jarang dari kita mungkin suatu ketika dihadapkan pada pertanyaan “ Apa tujuan hidup Anda ?” atau mungkin “Apa sih kamu cari di dunia ini” atau “Apa yang ingin kamu capai dalam hidupmu?” .

Pertanyaan-pertanyaan yang sedikit banyak membuat kita berpikir kembali, merenungkan dan mencari jawabannya dalam hati kita. Ya, tujuan hidup kita. Mengejar kehidupan yang nyaman, kehidupan duniawi yang serba nyaman , hanya memilih hidup dalam kesederhanaan atau hidup dalam penghambaan diri kepada Sang Pencipta. Mungkin itu hanya beberapa alternatif yang dipilih . Masih banyak, tak terhitung jumlahnya, sebanyak populasi manusia itu sendiri mungkin jawaban atas pertanyaan tersebut.

Lalu, apa tujuan hidup kita sebenarnya? Berpikir. Memutar otak, membuka kembali ingatan, mencari-cari di dalam memori hal-hal yang inspiratif. Nihil. Saya malah membuka folder film, berharap ada yang bisa ditonton dan mendapat inspirasi. Tiba-tiba saya teringat satu judul film yang sangat saya favoritkan. The most touching and inspiring movie ever, I think.

Film yang bercerita tentang perjuangan seorang manusia mengejar tujuan hidupnya. Cerita film ini berfokus pada seorang kulit hitam, Chris Gardner (Will Smith) dalam usahanya meraih kebahagiaan, sebuah perjuangan panjang yang harus ia tempuh demi membahagiakan keluarganya. Sebenarnya saya sudah menonton beberapa kali, tapi entah, seperti tak ada bosannya saya menyimak kisah yang menyentuh ini, tentang perjuangan mencapai tujuan hidup manusia, meraih kebahagiaan.

Dalam film tersebut dikutip sebuah kalimat dari “ United States Declaration of Independence “ pada second sentence “ A sweeping Statement of Human Rights “ yang berisi :

“We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by Creator with certain unalienable Rights, that among these are LIFE, LIBERTY AND THE PURSUIT OF HAPPYNESS”
…Ada kata yang sangat menarik di sini, yaitu “Pursuit of Happyness”. Mengapa Thomas Jefferson (Author) menulis “Pursuit of Happyness”, bukan “Happy” atau “To be Happy”. Sebuah pemilihan kata yang menurut saya mempunyai arti tersirat. Sebuah pesan coba disampaikan oleh Thomas Jefferson melalui kata tersebut, pesan yang jika kita cermati akan bermakna sangat luas dan mendalam. Pesan itu pula lah yang ingin Chris Gardner terjemahkan dalam film The Pursuit of Happyness ini, film yang dilatarbelakangi kisah nyata.

Berkisah tentang seorang sales alat kesehatan, Chris berjuang untuk menghidupi keluarganya, seorang istri dan seorang anak laki-laki yang masih kecil. Karena penghasilan yang sangat pas-pasan, dan tekanan ekonomi yang stressful, sang istri terpaksa meninggalkannya. Alhasil, dia sendiri lah yang harus membesarkan anaknya.

Pekerjaan sebagai agen penjualan tak mencukupi kebutuhan. Ia pun melamar untuk bekerja sebagai broker. Magang selama enam bulan dan tidak mendapatkan bayaran sepeserpun merupakan masa-masa yang sangat menyentuh dalam cerita ini. Bagaimana ia pontang-panting mencari sekedar tempat berteduh untuk anaknya, mulai tempat penampungan tuna wisma hingga toilet umum stasiun kereta api.

Dan masih banyak kisah-kisah perjuangannya yang membuat kita meneteskan air mata haru. Hingga akhirnya, dengan segala jerih payahnya Chris berhasil masuk sebagai pegawai tetap di perusahaan pialang tersebut, dan mulai menapaki sisi kehidupan yang membaik, hingga akhirnya ia menjadi broker terkenal yang memiliki kekayaan fantastik.

Chris Gardner mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya. Kebahagiaan akan kita dapatkan, jika kita mau berusaha, dan kita harus bekerja keras serta pantang menyerah untuk mencapai kebahagiaan atau tujuan hidup kita tersebut. Kebahagiaan tidak akan kita dapatkan dengan hanya duduk berdiam diri dan berpangku tangan. Kebahagiaan itu harus kita kejar atau raih. Seperti kalimat Tuhan yang mengatakan “Tuhan tidak akan merubah nasib umatnya, jika umatnya tersebut tidak berusaha untuk mencoba merubah nasibnya sendiri” dengan berusaha dan berikhtiar tentunya…

Mencoba meraih kebahagiaan sebagai tujuan hidup adalah sesuatu yang sebenarnya kita lakukan setiap hari. Bekerja keras, berangkat pagi pulang larut malam. Semuanya pasti punya tujuan yang hendak dicapai. Pula, setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sangat beragam, dan setiap orang pasti juga mempunyai pendapat yang beragam tentang definisi kata kebahagiaan itu sendiri. Dengan bekerja dan mencari nafkah, maka itu adalah salah satu jalan kita untuk meraih tujuan hidup atau kebahagiaan kita masing-masing…Banyak dari kita, mungkin bekerja tidak sesuai dengan kegemaran kita. Banyak orang yang bercita-cita menjadi dokter akan tetapi berkecimpung di bidang mesin, tidak sedikit pula orang yang ingin menjadi tentara akan tetapi pada akhirnya bekerja sebagai jurnalis, dan banyak sarjana ekonomi yang harus berkarir di bidang komputer, dan sebagainya. Akan tetapi semua itu tidak akan menghalangi kita untuk mencapai tujuan hidup kita, yaitu meraih kebahagiaan…

Sebagai manusia kita wajib untuk terus berusaha dan pantang menyerah untuk mencapai tujuan hidup kita, apapun kendalanya. Apapun profesi kita, pada suatu waktu mungkin kita akan terbentur pada sebuah batu karang yang kokoh, sehingga perasaan menyerah terkadang menyeruak dalam benak kita…Saat-saat ini, saat yang tepat bagi saya pribadi, untuk memulai kembali perjuangan itu. Perjuangan mencari ilmu, perjuangan meraih masa depan yang lebih baik, serta perjuangan untuk mencapai tujuan menjalani tugas belajar ini. Harus sukses dan ingin membahagiakan orang-orang di sekeliling kita yang senantiasa mendukung, mengasihi, mencintai, dan menjaga kita melalui doa-doa mereka.

Maka haruslah saya katakan pada diri saya sendiri untuk memulai dari sekarang untuk terus berlari mengejar kebahagiaan, jangan pernah berhenti, jika terjatuh bangkit lagi seperti saat dulu masih kanak-kanak dan balajar berjalan. Kita tidak pernah berhenti belajar berjalan walaupun sering jatuh bangun saat belajar berjalan. Bukankah kita pernah mengalami keberhasilan di masa kanak-kanak dulu. Terus berusaha hingga sukses meraih apa yang kita impikan.

Dengan demikian saya sadari, bahwa apa yang saya hadapi saat ini, adalah salah satu jalan saya untuk meraih kebahagiaan saya, atau “To Pursue My Happyness”…So.. saya katakan sekali lagi pada diri sendiri Jangan pernah menyerah !! Berjuanglah meraih tujuan hidupmu, raihlah kesuksesan itu, because success is your right !!!Karena sebagai manusia, Kita berhak untuk “Hidup”, Berhak untuk “Bebas” dan berhak untuk “Meraih Kebahagiaan”…

Ganbatte ^_^

Ketidaksamaan Segitiga

Jika kita punya dua titik terpisah satu sama lain, maka jarak tempuh terdekat dari satu titik menuju titik lainnya adalah dengan menarik garis lurus diantara keduanya. Sedangkan kita semua pasti tahu, bahwa semakin pendek jarak tempuh, maka akan semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir, titik tujuan yang kita inginkan.

Bayangkan, jika ada dua kendaraan diletakkan di posisi awal yang sama, lalu para pengemudi diinstruksikan untuk memacu kendaraan masing-masing dengan kecepatan yang sama, menuju pos pemberhentian yang sama pula, namun diharuskan menempuh jalur berbeda, misalkan satu jalur merupakan garis lurus dan jalur lainnya memiliki beberapa belokan dan tikungan tajam. Nenek-nenek galau pun juga akan mampu memastikan, bahwa mobil dengan jalur lurus akan tiba lebih dahulu di titik pemberhentian terakhir.

Kunci lekas sampai adalah, tetaplah berjalan pada garis lurus. Itu saja.
Saya ingin meminjam kaidah ketaksamaan segitiga yang sering digunakan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan matematis, bahwa jika ada tiga titik berbeda, A, B, dan C yang tak segaris, maka secara sederhana, garis (AC) akan selalu kurang dari atau sama dengan garis (AB + BC). Artinya, untuk mencapai Surabaya, dari Bandung, kita tak perlu iseng melewati Pontianak lebih dulu, berlayar dua kali, baru kemudian berlabuh di Tanjung Perak. Kecuali, kita sedang mengalami gangguan rasionalitas pikir atau sial tertipu oleh persekongkolan kejam antara masinis kereta dan nakhoda kapal.

Namun tampaknya, hidup tak sesederhana ketaksamaan segitiga.

Andaikan saja dua titik yang saya sebutkan di awal tulisan dikonversikan pada ‘satuan momentum awal dan akhir kehidupan’ maka saya sudah tidak mampu lagi menjelaskan secara presisi, garis macam apa yang telah saya bentangkan selama ini, diantara kedua titik tadi. Beberapa hari lalu, disuatu malam, ketika saya berkesempatan merunut kembali setiap fase hidup yang telah dilewati, akhirnya saya sadar, telah ‘ratusan’ belokan dan ‘puluhan’ tikungan tajam yang sengaja atau tak sengaja dilintasi. Benar bahwa saya turut ‘berkendara’ bersama mereka lainnya, tapi seringkali tiba-tiba tuas kemudi terdistraksi oleh persimpangan yang tiba-tiba muncul ditengah perjalanan. Saya pun lebih sering terpancing untuk berbelok, menikmati ruas jalan lainnya, sementara yang lain istiqomah, lurus-lurus saja.

Memang, memisalkan akhir kehidupan sebagai titik tujuan akhir saya, meskipun tepat, kelihatannya terlalu muluk dan memberi kesan sok religius. Saya seolah bagai biksuni atau ustadzah yang selalu baik dan benar serta terhindar dari perbuatan tercela, seperti ngupil di sembarang tempat, contohnya. Baiklah, karena saya bukan mereka yang tidak pernah sepakat bahwa Irfan Bachdim lumayan tampan dan facebook dan atau twitter-an itu penting, maka ijinkan saya membuat pemisalan lainnya.

Saya belum tahu persis bagaimana kira-kira wajah titik akhir saya. Jadi mari sedikit menapaktilasi jalan di belakang saya saja, yang cukup seru, kontroversial, dan menegangkan.

Selepas SMA, seperti kebanyakan sebaya lainnya, saya pun berkuliah, menjadi mahasiswi. Saya memulainya pada usia hampir 18 tahun, menuntaskan D1 saya di usia 19 tahun.Kalian boleh membayangkan betapa banyak belokan yang saya lewati selama satu tahun itu. Saya berbelok, bahkan kadang hanya memutar. Kekurangan bahan bakar. Berasap, kehabisan air aki. Lalu sesekali tersesat, salah jalan. Destinasi pun terasa semakin jauh.

Ketika sebagian besar teman-teman, kawan akrab saya telah berhasil menamatkan studinya dan bertahta bangga di panggung penasbihan bersama para guru besar dan petinggi kampus,saya justru mendedikasikan diri pada puluhan rapat koordinasi antar komunitas atau organisasi yang lebih mirip oposisi frontal rektorat daripada rekan bertukar ide dan saran. Saat kawan saya berusaha menemukan cara mudah memahami mata kuliah PPh, subjek pajak & Pengertian subjek dari PPh,Objek pajak umum dan khusus, saya dan kawan lain yang bersudut pandang sama malah bersemangat empat lima berdiskusi spontan, menyusun strategi lanjutan dari A hingga Z, demi menawar kebijakan otoriter kampus. Saat kebanyakan dari mereka duduk manis menyimak ceramah perkuliahan keramat, saya lebih memilih melewatkannya, duduk bercengkerama santai di teras himpunan bersama kawan dari berbagai angkatan, memproyeksikan sistem kaderisasi internal yang kami anggap semakin carut-marut dan terlindas kultur akademis karbitan yang meraksasa dan hiperbola. Saat mereka mengakrabi para dosen untuk sedikit menghisap ilmunya, saya lebih nyaman bercanda dengan para pedagang makanan di kantin yang kerap galau menanyakan peluang mereka untuk tetap dapat menghuni ladang nafkahnya setelah para pejabat rektorat giat menjamahi titik-titik strategis yang telah terlanjur mendapat tempat di hati para mahasiswa. Kami bercanda tentang apa saja, termasuk iseng memberi nama alias untuk setiap tokoh antagonis birokrat, supaya kami bebas membicarakan mereka tanpa harus melirihkan suara. Kawan-kawan saya di kelas sedang melotot serius, sedangkan saya santai-santai saja, tertawa-tawa.

Mereka berangkat ditemani matahari yang masih segar, lalu kembali beristirahat pulang ketika senja mengendap datang. Aktivitas saya, seringkali malah berada pada rentang waktu yang berkebalikan.

Tapi bagaimanapun, bagi saya, tidak ada yang salah dengan jalan mereka, juga dengan jalan saya. Destinasi kami pun sepertinya sama, hanya saja entah mengapa kendaraan saya terkadang lebih menyukai jalur berkelok dan sering melupakan resiko semakin memuainya waktu tempuh. Memang, saat kondisi jiwa sedang kurang ‘sehat’, perasaan inferior muncul tiba-tiba dengan menganggap nyinyir diri sendiri bahwa saya masih berada jauh di belakang mereka, bahwa ketika teman-teman saya telah menjelma menjadi ibu-ibu penekun karir ibukota atau juru ganti popok bagi putra-putrinya, saya masih saja sibuk menyusun kata pengantar Tugas Akhir. Kabar baiknya adalah, seluruh komponen kejiwaan saya cukup jarang terjangkit penyakit yang merepotkan. Saya beranggapan, tidak pernah ada konsep jarak pada hidup sesungguhnya. Kejam rasanya ketika kita menyebutkan bahwa si ini sedang berposisi di belakang si itu, si Fulan telah mendahului si Bondan, atau beragam justifikasi posisi lainnya. Bukankah kita ini adalah para individu unik dengan titik destinasi yang bisa jadi sama namun cenderung memiliki beribu cara yang berbeda? Kita mungkin memang sedang berkendara bersama-sama, tapi tampaknya kita tidak sedang beradu kecepatan lalu mendasarkan keberhasilan pada seberapa sering kita mendahului kendaraan lain dan seberapa cepat kita sampai di garis finish. Tidak, hidup akan terasa demikian tergesa jika kita menjalaninya dengan cara seperti itu.

Hingga kini, saya masih sangat menikmati jalur yang telah  dan akan saya lalui. Sepanjang perjalanan, saya terus belajar bagaimana saling berbagi dan memaklumi bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun, ketika mendadak harus kekurangan bahan bakar atau kehabisan air aki. Saya menyadari sepenuhnya kebodohan diri sendiri ketika ternyata kendaraan saya hanya berputar tanpa kejelasan. Saya belajar menemukan titik balik, mempercayai intuisi, lalu berusaha kembali menuju destinasi. Kadang saya bosan dan kelelahan, tapi tidak akan ada yang mampu mengalahkan kepuasan ketika ada sesuatu berharga yang ditemukan secara sadar dalam satu rentang perjalanan.

Ada konsep solusi kuadrat terkecil, berakar dari konsep ketaksamaan segitiga, untuk mendapatkan solusi optimal dari suatu permasalahan model matematis. Tapi hidup, sepertinya bukan lagi sekedar model matematis yang dapat sedemikian rupa disederhanakan dan diasumsikan kondisi awalnya. Hidup, mungkin akan lebih memberi arti jika kita bersedia memperlakukannya dengan cara-cara manusiawi.


Arfintha Adyanti
Program Diploma III Spesialisasi Pajak – Kurikulum Khusus.
Kelas II B / 32. NPM 103020008261.

Barter Politik Sebagai Laboratorium Integritas dan Kepentingan

“When I do good, I feel good.  When I do bad, I feel bad.  That’s my religion”.~Abraham Lincoln
Saya selalu yakin bahwa setiap hal besar yang seseorang lakukan, baik atau buruk, adalah suatu hasil kompleksitas hal sederhana yang mendasar. Layaknya wujud lahiriah makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang seiring bertambahnya usia, karakter pun mengalami fase yang berbanding lurus dengan waktu dan segala kesempatan pembelajaran disetiap detiknya. Karakter seorang tokoh besar dunia pun pasti pernah dilewati oleh fase pemikiran naif yang tak mengenal wilayah abu-abu dari suatu kehidupan.

“Ketika saya melakukan hal yang baik, saya merasa baik. Ketika saya melakukan hal yang buruk, saya merasa buruk. Itulah keyakinan saya”. ~Abraham Lincoln

Pernyataan diatas kemungkinan besar juga bisa saya dapat dari adik saya yang masih berumur 9 tahun, yang masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar; dalam bentuk yang lebih kanak-kanak tentunya.
“Kalau Nisa ngehibur teman Nisa yang lagi sedih, Nisa pasti senang karena bisa nolong teman. Kalau Nisa lagi iseng ngejek teman Nisa sampai dia sedih, terus nangis, Nisa  pasti jadi ngerasa nakal”, 

begitu kira – kira pernyataan yang mungkin adik saya berikan. Aku anak yang baik kalau aku berbuat baik. Aku anak yang nakal kalau aku berbuat nakal. Titik.

Terdengar naif? Memang. Karena sewaktu kecil, segala konsep kebaikan tidak ditanamkan bersamaan dengan konsep kepentingan. Faktornya bisa jadi ada dua: Daya pikir anak kecil yang belum kompleks atau inilah kaidah pendidikan; dasarilah segala sesuatu dengan yang baik. Kalaupun yang buruk kemudian muncul sebagai pilihan hidup, biarkanlah itu menguji kekuatan dari dasar yang telah tertanam.

Semakin dewasa dan banyaknya pengalaman seseorang, pasti semakin memengaruhi karakter, idealisme, kualitas dan kuantitas pengetahuan, serta cara pandang seseorang tersebut karena itulah inti dari aspek kognitif sebagai kekuatan internal individu. Cara bicara, gaya konsolidasi dan birokrasi, bahasa tubuh, serta aspek behavioral lainnya adalah bentuk penyajian yang siap menjadi faktor atraktif dalam berinteraksi dengan pihak eksternal – atau bisa jadi, itu hanya bentuk pemikiran masa kanak-kanak yang berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Sementara tindakan di lapangan adalah faktor utama yang mengeksekusi batin; mengeksekusi integritas.

Sebagai eksekutor sosial, orang lain mungkin bisa menilai, memperdebatkan, memuji, atau bahkan menghujat integritas kita dengan cara dan perhitungannya masing-masing. Tapi, hanya kita sendiriliah yang sebenarnya paling mampu mengeksekusi integritas itu dengan tepat dan jujur.  “Apakah saya sudah melakukan hal yang saya katakan dan saya yakini? Atau saya sudah membohongi diri saya sendiri dengan berpura-pura lupa kalau saya sudah melakukan hal yang bukan ‘saya’?”

Saya yakin, setiap orang yang bertanya pada diri sendiri, pasti akan tahu jawabannya. Kalaupun ada banyak hal yang menghablurkan jawaban tadi, itu hanya ‘suara-suara mereka’ yang memberikan, mendiktekan, atau mungkin memaksakan opini mereka saja. Ketika integritas dipersoalkan, sebenarnya pikiran sederhana masa kanak-kanak kita tadilah yang dapat menjawab pertanyaan, “am I feeling good after I did this?”

“Integrity is what we do, what we say, and what we say we do”.~Don Galer 

Integritas
Integritas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran” Hal ini erat kaitannya dengan kesesuaian dari apa yang diyakini dengan yang dilakukan sehingga menunjukkan komitmen yang kuat sebagai penghargaan terhadap kualitas diri sendiri.

Banyak yang menjadikan istilah etika, moralitas, dan integritas sebagai sinonim satu sama lain sementara ketiganya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Etika adalah teori yang menjadi standar akan sesuatu untuk dinilai salah, benar, baik, jahat dan segala penilaian lainnya. Moralitas adalah praktik aktual berupa tindakan dari etika berikut nilai-nilai yang dibawanya. Sementara integritas adalah integrasi dari etika dan moralitas yang apabila keduanya semakin terintegrasi, maka semakin tinggi integritas yang dimiliki.

Sebagai suatu harmoni, integritas akan menunjukkan suatu keselarasan keyakinan, kemampuan, dan kenyataan. Persoalannya adalah apakah integritas yang dimiliki mengintegrasi etika yang bernilai luhur sehingga menghasilkan tindakan aktual yang bermoral luhur pula?

Jika melihat dari kecenderungan manusia untuk selalu terlihat baik, tentu saja akan sangat sulit mengakui keburukan diri saat melakukan tindakan buruk. Inilah yang menyebabkan rendahnya integritas manusia; disamping etika dan moralitasnya yang sudah buruk.

Ada beberapa konsep integritas filosofis yang mengaitkannya sebagai fungsi dari moral. Konsep pertama adalah konsep integritas objektif yang diusung Elizabeth Ashford. Dalam konsep ini, seseorang dapat dikatakan memiliki integritas apabila ia memiliki ‘pegangan’ atau etika yang bernilai benar akan kewajiban moralnya dimana etika tersebut tidak akan mengarahkan ia kepada moral yang salah.
Konsep ini mungkin akan sedikit ambigu apabila diaplikasikan dalam contoh kasus dimana seseorang tidak setuju akan nilai demokratis oportunis yang dipegang seorang pemimpin karena nilai tersebut tidak sesuai dengan nilai yang dipegang tadi, sementara seseorang tersebut tetap mengakui bahwa pemimpin tersebut memiliki integritas karena nilai demokratis oportunis tersebut benar-benar tercermin dalam moral pemimpin tersebut secara nyata. Dalam kasus ini, inti dari permasalahannya adalah lebih kepada ruang substansi akan ketidaksetujuan nilai yang dipegang tanpa harus menimbulkan sikap ofensif akan integritas pihak lain secara keseluruhan.

Konsep kedua yang diusung Mark Halfon dimana dijelaskan bahwa integritas merupakan bentuk dedikasi seseorang untuk mengejar kehidupan moral dan tanggung jawab intelektual mereka dalam upaya memahami tuntutan hidupnyaiii. Orang lain mungkin saja menganggap integritas ini memiliki nilai moral yang salah, buruk, atau tidak penting, namun konsep ini lebih menekankan kepada pemenuhan kebutuhan seseorang akan apa yang ia cari dalam hidupnya setelah melalui suatu proses pertimbangan moral yang relevan dengan intelektualnya.

Konsep terakhir berasal dari pemikiran McFall yang menjelaskan bahwa seseorang dengan integritas adalah seseorang yang bersedia menanggung konsekuensi dari keyakinannya, bahkan pada saat – saat sulitiii. Orang yang hanya mencari kesenangan atau hanya ingin menyenangkan banyak pihak dapat kehilangan integritasnya karena ini mencerminkan pribadi yang banyak berkompromi dengan konsekuensi. Sama halnya dengan orang yang hanya mengejar persetujuan dan penerimaan dari khalayak. Kemungkinan besar, konsekuensi yang bersedia ditanggung adalah bukan lagi konsekuensi dari keyakinannya sendiri melaikan keyakinan khalayak. Dalam hal ini, terlihat jelas cermin ketidakmampuan mengontrol khalayak sehingga berujung pada integritas sendiri yang justru dikontrol oleh khalayak.

“We live in a world in which politics has replaced philosophy”. ~Martin L. Gross, A Call for Revolution, 1993 

Integritas dan Politik

McFall menambahkan bahwa keputusan untuk memandang eksistensi dari integritas pun sangat bergantung pada perspektif serta kepentingan dari sang penilai itu sendiri. Walaupun substansinya, entah itu etika atau moralitasnya, sudah benar dan luhur, namun apabila dalam sudut pandang sang penilai integritas tersebut tidak dapat berharmoni dengan kepentingannya atau dengan lingkungan beserta banyak prosedur kehidupannya yang rumit, bisa saja integritas hanya dipandang sebagai suatu eksistensi normatif semata yang tak perlu menjadi aplikatif dalam kehidupan sang penilai tadi.
Mempertanyakan integritas dalam dunia politik berarti mempertanyakan suatu retorika. Ketiga konsep filosofis mengenai integritas diatas seakan dirangkum oleh ‘catatan’ yang ditambahkan oleh McFall di akhir konsepsinya. Catatan itu sekiranya relevan dengan eksistensi integritas dalam dunia politik.

Tujuan utama dari politik adalah untuk meluluskan suatu kepentingan. Dalam prosesnya, tak jarang pihak ‘manajerial’ tidak mengatakan seluruh kebenaran lalu menerapkan konsepsi ‘pengingkaran yang terlihat masuk akal’ pada setiap pemahaman praktikal publik dengan tujuan menghindari penghakiman. Saat inilah, terjadi kesenjangan atau ketidakseimbangan, jika tidak bisa disebut sebagai ‘pelemahan’, pemahaman serta keadaan, sehingga terciptalah ruang yang memaksa sebuah perubahan atau tindakan dilakukan. Dalam ruang inilah, perubahan ditunggangi oleh kepentingan politik tadi sehingga hal ini terlihat seperti kesatuan komponen yang wajar terjadi.

Memang tidak bijaksana apabila suatu generalisasi dikenakan pada citra keseluruhan dari dunia politik. Namun, apabila kita berbicara masalah kecenderungan, memang hal iniliah yang tampak dominan. Politik adalah seni memanipulasi kepentingan dan kenyataan, bukan mengintegrasi etika dan moralitas. Mengingat etika adalah standar yang seharusnya tidak mudah gamang seperti kepentingan yang kental akan kompleksitas hukum alam ‘siapa kuat dia yang menang’, serta moralitas yang seharusnya berkiblat pada etika, bukan pada kepentingan, sepertinya peran integritas tak lagi diposisikan sebagai hal yang penting dalam penciptaan ‘karya seni’ politik ini. Tidak berarti kepentingan yang menjadi tujuan politik ini selalu berkonotasi buruk. Namun, kepentingan ini sulit untuk disetarakan dengan komitmen integritas. Kepentingan terlalu sarat akan kompromi.

Politik menuntut kepiawaian bertindak, termasuk kepiawaian menata keyakinan, mengubah filosofi sesuai kepentingan, serta menyajikan kesan perubahan sebagai sebuah keberhasilan dalam menjembatani ‘sungai buatan’. Begitu ‘fleksibel’ hingga ruang bagi sebuah integritas untuk menyelamatkan nilai – nilai kemanusiaan tampak terlalu sempit adanya.

Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimunculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt.” ~Sri Mulyani Indrawati ~ (mantan Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu II )

Barter Politik Sebagai Laboratorium Integritas dan Kepentingan

Barter politik adalah suatu hal yang atributif dalam dunia politik. Konflik kepentingan seringkali memaksa berbagai pihak untuk mencari jalan keluar yang paling menguntungkan bagi pihak-pihak tersebut; entah dalam kadar keuntungan yang seimbang atau tidak.
Politik dapat menyediakan ruang bagi para pengambil kebijakan atau para pemegang kekuasaan untuk memperhitungkan sesuatu dengan horizon yang lebih luas. Kalaupun ada ‘partisi-partisi’ kecil yang menghalangi, tentu saja itu dapat terpetakan dalam horizon tersebut berikut dengan kemungkinannya untuk ‘dihapus’ oleh sistem kekuasaan. Penghapusan tersebut seringkali dijadikan opportunity cost untuk suatu efek multiplikasi yang lebih besar yang dapat diraih. “Trade-off”; dalihnya…

Barter politik terbesar di era reformasi adalah barter politik yang ditengarai terjadi dibalik pengunduran diri Sri Mulyani Indrawati dari jabatan Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II untuk menerima tawaran menjadi Managing Director World Bank. Kepergian ibu Ani seperti menjadi ‘kesimpulan’ akan serangkaian kasus bail-out Bank Century, Inkonsistensi koalisi politik pemerintahan SBY, serta integritas seorang Sri Mulyani Indrawati terkait strategi politik-bisnis klan Bakrie yang malang melintang dramatis di berbagai media sedemikian lamanya. Semua atensi publik, semua harapan publik, dan semua nilai kebenaran seakan ditutup oleh barter ini. Walaupun banyak pihak yang memperdebatkan kesahihan kasus barter ini, atau bahkan memperdebatkan istilah barter itu sendiri, apapun itu, barter politik adalah suatu moral yang solutif namun belum tentu mengintegrasi etika publik.

Mengapa solutif? karena faktor horizon yang lebih luas yang hanya dapat diperhitungkan oleh para pemegang kekuasaan tadi beserta trade-off untuk sebuah efek multiplikasi yang lebih baik. Dalam perdebatan ini, hipotesis yang muncul dapat menyimpulkan bahwa dengan dilakukannya barter tingkat tinggi ini, hampir semua kepentingan para pemegang kekuasaan yang paling dominan akan terakomodasi, baik kepentingan kesatuan koalisi beserta pemerintahan yang sedang berlangsung, kepentingan rahasia negara, kepentingan stabilitas ekonomi, maupun kepentingan kesalahan – kesalahan politik dan bisnis yang hanya bisa dikoreksi dengan barter politik ini tadi. Semuanya adalah efek multiplikasi yang lebih besar tadi.

Sementara kepergian ibu Sri Mulyani menjadi realita nyata bahwa integritas dan politik memang tidak dapat berjalan berdampingan dalam sistem politik negeri ini; kepergian integritas yang cukup dianggap sebagai opportunity cost dalam sebuah saga ‘trade-off’.

Terlepas dari perdebatan luhur atau tidaknya nilai yang tercermin, peristiwa ini adalah laboratorium nyata akan pilihan untuk terus mempertahankan eksistensi integritas atau kepentingan dalam politik. Memusingkan perhitungan etika, moralitas, ataupun integrasi keduanya dalam horizon yang menjanjikan efek multiplikasi hanyalah sebuah filosofi yang retoris eksistensinya karena politik adalah tempat bagi para seniman tepat tujuan, bukan seniman dengan keyakinan dan tindakan yang sejalan.
*
“am I feeling good after I did this?”, hanya mereka yang memiliki integritas yang dapat menjawab, “Yes, I am”; dan tak perlu mempertanyakannya kepada mereka yang berada dalam dunia politik karena jawabannya pasti serupa. Biarkan mereka mempertanyakannya dalam hati dan akan ada jawaban jujur yang sederhana; tak perlu perhitungkan integrasinya.
***

Critical Essays 2rd winner of Accounting Scientific Competition 2012-Faculty of Taxation of STAN prodip
Arfintha Adyanti

JANJI

Sungguh. Jangan menyepelekan janji. Janji terhadap manusia, juga terhadap Allah.
Jika janji itu disiakan, tidak ditunaikan, atau terlambat ditunaikan…
Mungkin….
Ada hak orang lain yang terebut
Ada waktu orang lain yang terbuang
Ada hati yang terluka
Ada perasaan yang kecewa
Aku tidak marah pada mereka yang menyiakan janji
Hanya berharap mereka mendapat hidayah dan memperbaiki dirinya
Aku juga sadar
Aku bukan orang sempurna
Yang tak pernah salah
Banyak salah kuperbuat
Dan Allah Maha Pemaaf dan Maha Penerima Taubat bukan?
Maka, maafkanlah dan do’akanlah mereka…

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.

كُلُّ بنِي آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak adam senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa bertaubat.”
  (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohihut Targhib, no. 3139)


Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya.Yaitu, jika diberi amanat dia khianat,jika berbicara dia dusta,jika berjanji dia mengingkari,dan jika berseteru dia berbuat kefajiran”.


(HR. Al-Bukhari no. 89 dan Muslim no. 58)

Bee

Bee..
Rindu itu seperti alang-alang
Tumbuh sana-sini tanpa henti
Kalau saja kau tahu, hatiku rimbun kini
Hingga ingin kupangkas tak bersisa
Biar kau tak tahu
Aku jatuh cinta dan patah hati seorang diri

Bee..
Aku merindumu dalam beku
Tak punya kata-kata, apalagi makna
Yang tersisa hanya kumpulan sketsa
Tentangmu, tentangku, tentang kita

Bee..
Ingin kurangkum engkau dalam puisi
Mengabadikannya dalam jutaan diksi
Sampai semua pria iri padamu
Tapi, aku tak mampu

Bee..
Aku amat rindu, sampai tubuhku biru
Apakah kau tahu?

. . Tentang Perjalanan . .

Aku selalu rindu perjalanan karena di sana ada ruang sempit untuk menaksir jarak antara hatiku dan hatimu. Tak peduli kulalui dengan apa perjalanan itu; bus, pesawat, kereta, angkutan, taksi, becak, sepeda, bahkan dengan kakiku. Dan, saat ini aku sedang berpikir tentang perjalanan yang tak butuh media. Perjalanan dengan sayap. Perjalanan dengan keteguhan hati. Jadi, ayo pergilah bersamaku ke suatu tempat yang tidak membutuhkan jalanan untuk dipijak dan tak seorangpun tahu di mana kita akan mengakhiri perjalanan ini.

Kita akan menyaksikan langit-langit yang warnanya pudar dan hijau dedaunan yang menjelma jadi sephia. Kita akan menyusuri kios-kios di jalan-jalan sempit sepanjang kota impian atau terbang dari satu bintang ke bintang lainnya dengan mata terpejam.

Perjalanan, ke manapun itu akan selalu kumaknai sebagai sebuah rute panjang menuju hatimu, pulang, merumah selamanya di sana. Aku selalu berharap kamu menjemputku di terminal, di stasiun, di bandara, atau di mana pun itu, selama aku bisa menghambur ke pelukanmu setelahnya, menamatkan rindu terpanjang dalam hidupku.  Seperti hari ini, ketika aku hanya mampu duduk di balik kaca yang basah oleh hujan, memandangi kota kita yang diserbu kelabu. Tak ada kamu di bangku semen itu. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa berharap perjalanan ini adalah kepulangan.

Aku tak henti memikirkanmu dalam perjalanan ini. Aku tahu kamu akan menjemputku besok pagi, di terminal, di bandara, di stasiun atau di mana pun itu, berdiri di dekat bangku, memasukkan kedua tanganmu dalam saku jaket, dan tersenyum ketika kau dapati sosokku di kejauhan. Dan, entah kenapa senyumku mendadak pudar, buku kecil dalam genggaman tanganku sudah penuh goresan. Rasanya aku memang rindu. Rindu yang sepi. Padamu.

Bersanding Kepakan Di Bawah Senja
Aku rindu gelak manjamu yang merajut senyum ke buluh waktu.
Langkah ceriamu seperti sepasang kepakan yang mendendangkan angin berlalu.
Kapan kita dapat bersanding langkah kembali, senja tanpa jiwamu menjadi kehilangan arti.
Datanglah wahai beludru perduku, sebelum sinar terakhir menjadi kisah yang lalu.
Karena tanpamu, sepasang sayapku hanyalah kenangan berdebu.

*Sebuah sajak yang dipersembahkan untukku. Dari sahabatku Wuland. Terima kasih, Semoga tulisan ini bisa melengkapi sajakmu.

SMALL THING

Titik-titik air merapuh, jatuh ke bumi, dan membuat tanah jadi lembek. Aku duduk di bawah gazebo, sendirian saja, dengan segelas jus jeruk dan sepiring gado-gado. Hari ini penat. Dan tetes-tetes air hujan tak jua membawa gelisahku pergi. Hari ini aku dapat email dari wulan. Seminggu lagi dia operasi, rahimnya diangkat. Musuh kecilnya itu makin lama makin tak bisa diatasi dan operasi jadi jalan satu-satunya. Alternatif lain tak bisa diandalkan dan wulan terlalu lama menunggu. Ia terlalu sabar. Terlalu kuat. Tapi sesungguhnya rapuh. Perempuan mana yang masih merasa lengkap tanpa rahim?

Wulan. Dia sahabatku satu-satunya. Orang yang paling mengerti bagaimana aku ini. Teman yang tak pernah pergi saat aku bahagia juga sedih. Seseorang yang selalu tahu apa yang aku rasakan sebelum aku mengatakannya. Pundak yang kusandari saat aku lelah menyangga kepala. Wulan. Aku sering menyebutnya soulmate. Tak ada yang seperti dia.

Wulan. Bagaimana aku bisa membiarkan diriku sendiri bersenang-senang sedang ia dalam penantian keputusan akan kehidupannya di masa yang akan datang? Dia bilang, hidupnya tak mampu mencipta rencana. Buatnya cinta jadi bertambah rumit. Dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya menikmati hari dan bersyukur begitu malam datang. Hidup yang teramat sederhana namun ternyata itulah esensi dari hidup. Wulan, aku merindukannya.

Sekarang kami terpisah ratusan kilo. Harusnya saat ini aku duduk berhadapan dengannya, mendengarkan semua keluh kesahnya, dan berusaha membuatnya sedikit melupakan musuh kecilnya itu dengan sebuah kelakar. Ia suka leluconku.

“Tolong bil-nya” kataku pada seorang pelayan yang kebetulan lewat.

Tak lama pelayan tadi menyodoriku selebar kertas. Dua puluh ribu. Mahal sekali, batinku. Namun kukeluarkan selembar uang dua puluh ribu dari dompet dan kusodorkan pada pelayan tadi. Hujan mereda. Langit kembali terang namun matahari tak juga muncul. Sekilas kusambut hadirnya pelangi. Udara dingin membuatku merapatkan jaket dan bersedekap sambil berjalan menuju jalan raya. Beberapa angkot penuh sesak. Aku malas menghentikannya dan menolak mentah-mentah ajakan kernet yang terdedengar seperti rayuan. Dua kali aku bergeser begitu kernet-kernet itu menyentuh punggungku. Kesempatan dalam kesempitan. Seperti tak pernah melihat perempuan cantik saja, umpatku.Kulirik jam tanganku. Masih pukul empat.

Dari kejauhan sebuah bus melaju dengan santai. Lengang. Hanya ada beberapa orang yang duduk berpencar-pencar. Aku naik begitu bus itu berhenti. Perjalanan sampai ke rumah memakan waktu satu jam. Lumayan untuk tidur sebentar. Sayang kantuk tak juga datang. Dari balik kaca bus akhirnya kupusatkan perhatian pada kegiatan di sepanjang trotoar. Ada seorang penjual nasi goreng mendorong gerobak dengan santai. Beberapa orang turun dari mobil di depan toko sepatu. Barangkali mereka mengantar anak-anak mereka membeli sepatu. Aku jadi ingat kalau ini tahun ajaran baru. Di sebuah halte, bus ini berhenti, namun tak mengangkut penumpang. Sepasang muda mudi berseragam putih abu-abu tampak asyik ngobrol dan tidak tertarik menaiki bus ini.Tak lama kemudian, sebuah sms masuk. Dari ibunya Gita salah satu muridku di SLB.
Ibu guru, apa tadi Gita buat onar di kelas?

Aku tersenyum dan menulis balasan untuk wanita berwajah oriental itu. Hari ini Gita sangat patuh meski aku masih harus memksanya untuk membuatnya terfokus. Dia dapat nilai 100 dalam pelajaran Bahasa Indonesia, dan mengikuti bina diri dengan baik. Setelah membalas sms, aku melamun dengan tatapan kosong. Aku ingat murid-murid istimewaku. Anak-anak luar biasa yang membuatku selalu bisa bersyukur dengan apa yang ada dalam diriku sendiri. Hidup sangat sederhana buat mereka. Beberapa dari anak-anak itu terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tak peduli dengan segala  hiruk pikuk dunia. Mereka tak mampu mengungkapkan keinginan karena bahasa menjadi teramat sulit, huruf jadi asing, dan hanya senyuman yang ada. Tak ada kebencian disana. Ambisi dan keserakahan hampir minim dijumpai. Yang ada hanya naluri. Kebebasan. Juga liar.

“Turun mana, Mbak? “tanya kernet.
Aku tersentak kaget.
“Pom bensin aja, Mas”
Aku beranjak dari duduk, bersiap-siap turun.
“Pom bensin, pom bensin” kernet itu berteriak lantang. Lebih lantang dari pemimpin upacara di hari Senin.
Aku turun dari bus. Udara dingin menyambutku lagi. Kali ini aku berlari-lari kecil menyusuri jalan tikus yang menghubungkan jalan raya dengan rumahku tanpa harus lewat pos satpam. Sampai di rumah, aku dikejutkan sebuah buket bunga mawar yang tergeletak di lantai dekat pintu. Ada titik-titik air di sana. Sepertinya buket ini baru saja diletakkan. Disampingnya ada kotak dengan pita mungil diatasnya. Aku memungutinya dan membawanya masuk.Kue blackforest kesukaanku. Aku mencomot sebuah cerry dan melahapnya seketika.
Dear Annelis,
Aku mencintai hidup, tapi jenuh dengan kehidupan… hanya sedikit kawan yang mau berbagi umpatan pada dunia denganku. Aku punya banyak kemarahan pada hal-hal yang tidak beres pada dunia. Bagaimana aku mengendalikannya?
Apa aku salah bergaul? Apa aku salah membaca buku? Aku kadang-kadang tidak suka dengan hal-hal yang lazim dilakukan orang.
Sayang, makasih… aku benar-benar nyaman bersamamu dan aku menikmati hubungan ini meski aku masih tak tahu bagaimana membuatmu lebih bahagia. Aku tak ingin menyakitimu lagi, Annelis. Aku rindu matamu…Annelis, aku kesepian…
Kulipat surat dari pacarku itu. Aku berjalan ke kamar untuk berganti baju dan menghidupkan kran kamar mandi. Setelah itu aku duduk di depan komputer, menulis email untuk pacarku.
Dear pacarku,Kemarahan pada dunia hanya akan membuatmu jadi debu. Kenapa harus membenci dunia yang ada sebelum kita ada? Kita hanya pemain film, Sayang…
Sayang, kamu terlalu pandai untuk orang-orang awam. Resiko menjadi kaum minoritas tidak sama dengan menjatuhkan setitik darah pada susu yang putih.
Sayang, belajarlah bersyukur. Hanya dengan itu segala kebencian akan tergilas. Kamu punya banyak hal bisa disyukuri tanpa harus menyimpan kemarahan pada hal lain.
Sayang, kamu bukan orang yang menderita kanker, kamu bukan orang tua yang punya anak dengan keterbelakangan mental, kamu juga bukan orang yang cacat…
Sayang, kamu punya ayah yang bangga padamu, kamu punya otak brilian yang tak dimiliki orang lain, kamu punya beberapa teman yang mau berbagi, dan kamu punya kehidupan yang jauh lebih baik dari seorang anak jalanan.
Sayang, kamu tak perlu membuat aku lebih bahagia. Aku sangat bahagia bersamamu. Ini cukup buatku dan aku tak mau memiliki kebahagiaan yang berlebih. Kita hanya manusia yang sering lupa bila diberi banyak kebahagiaan.
Sayang, bila sesekali aku sakit hati dan tidak mengatakannya itu bukan apa-apa, aku hanya tak ingin orang yang aku sayangi bersedih karena merasa menyakitiku.
Aku juga rindu… makasih blackforest dan buket mawarnya… sejak kapan kamu romantis, Sayang? Hehehe…

Selesai menulis aku pergi ke kamar mandi, membenamkan tubuh dalam bathtub yang penuh air hangat dan membuat busa sabun. Kucium aroma Lavender. Kucium keheningan. Aku rindu pacarku yang penuh dengan idealisme itu. Pria yang membawaku mengembara dalam lautan aksara. Tiba-tiba ingatan membawaku pada suatu ketika dimana kami menghabiskan waktu bersama sambil mencoba melawan dinginnya udara kota Jakarta di malam hari. Makan malam dibawah langit malam, menyusuri jalanan tanpa punya tujuan, ngobrol tanpa topik jelas, mengunjungi teman baiknya, dan berusaha menikmati tiap detik waktu dengan saling bertatap mata

andai ia tahu, dia bukan satu-satunya orang didunia yang merasa disakiti. bentuk rasa sakit atau penderitaan kurasa bermacam-macam. banyak orang yang menderita dan tak sempat merasakan rasa sakit atau kemarahan. ada banyak alasan untuk bahagia asal kita bisa mensyukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan. hal-hal kecil yang terkadang terlewat untuk disyukuri. ya, hal-hal kecil…
aku makin membenamkan kepala, menyatu dengan air sabun yang wangi itu. dan satu yang ada di kepalaku. aku ingin bertanya sebuah hal padanya “bila hari ini adalah hari terakhirmu di dunia, sayang… apa yang akan kamu lakukan?”

untuk kekasihku…
dan terima kasih untuk sahabatku…