himpunan doa

Kamis, 19 Januari 2012

. . . Dari sebuah kehilangan


All right,,

Sekarang saya lagi sedikit calming down myself,after having such a quite bold week..well, dimulai dari betapa ‘zoonk’nya saya akan akun, kuis statek  yang selalu ‘mencekam’ karena dosennya galak, dan fenomena adaptasi di lingkungan kampus STAN ini..

Accounting and “Oh My Gosh!”

Let’s skip about lectures…kuliah mah dijalanin aja,,bukan buat dicurhatin,,haha…

Okay…ada banyak poin yang menarik buat saya akhir – akhir ini. Sebenernya bukan hal yang so damn serious or touchy. Ini poin – poin yang akhirnya berhasil saya ‘underline’ dalam pikiran dan idealisme saya.

“People come and go. Things born and die.”

Ini sangat klise pada awalnya. Tapi setelah saya ngobrol sama beberapa orang, tentang sesuatu yang datang di kehidupan mereka dengan caranya masing – masing, menyerap tenaga kita untuk  put some attentions or even efforts, sampai akhirnya menampar kita keras saat sesuatu itu harus pergi.

‘Menampar’ disini bukan cuma berarti membuat kita feeling so suffered, merasa ditinggalkan, atau merasa kehilangan. Saat sesuatu itu pergi dan tepat setelahnya, kita ‘ditampar’ oleh unlimited regrets. Penyesalan; yang bahkan bisa membuat kita merasa lebih bodoh dari definisi bodoh yang selama ini kita ketahui. “Ini terlalu bodoh”. Dan bodoh disini bukan karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini harus pergi, tapi karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini pernah DATANG ke kehidupan kita.

“You will never know what you’ve got until you lose them all”

Ini juga klise…dan bisa jadi sangat betul. Tapi saya yakin, ada saatnya dimana kehilangan gak selalu membuat kita sadar kalau sesuatu yang berharga telah pergi, lalu rasanya seluruh dunia bilang,”See! I told you!”, dan akhirnya membuat kita merasa makin..dan makin BODOH untuk alasan yang emosional.
Gak selalu.
Coba kita ganti susunan kata – katanya…

“you will never know what you WILL GET after you lose them all”

Ini terdengar lebih positif buat saya.
Well okay, saya bukan orang yang maniak akan positive thinking. (come on, there are black and white, right and wrong, good and bad. Just be realistic!).
Tapi pada saat saya jatuh, saya gak mau merasa jatuh juga. I  mean, bukan berarti saya egois dan angkuh. People make mistakes. People fall. Dan saya pasti pernah jatuh. Tapi buat saya, being fallen means figure it out! Kalo jatuh, usaha buat kembali berdiri lagi…

Jadi saya lebih suka mendengar sesuatu yang menguatkan saya saat saya jatuh. Jujur, saya bukan orang yang menikmati berlama – lama dikasihani. My brain and my faith dominate more than a half of me. Then I’ve found that sentence mentioned above…

Saat dimana saya menyesali kenapa saya sampai membiarkan itu datang, dan akhirnya pergi saat saya udah terlalu membiarkan diri saya hablur dalam zona abu-abu, gak bisa lagi menilai perilaku saya sendiri karena suatu ketidaksadaran akan betapa tidak seharusnya saya jadi BODOH seperti ini.

Inilah contoh living proof akan subjek yang menyesal. SAYA  yang menyesal.

Dibantu dengan kalimat diatas tadi, saya mulai berusaha mencari sesuatu yang bisa menghentikan “what a fool you?! What did you do?! How could you?!” yang saya tujukan pada diri saya sendiri. It hurt a lot, knowing that you are so damn fool for letting this happened.

Lalu percakapan dengan beberapa teman di sekitar,,menguatkan saya.

*True! If you have problems, then share it with your trusted people…It helps! Even if you are a really and totally introvert people. Every people are to be helped.*

Dan fenomena di sekitar saya…Banyak yang kehilangan. Banyak yang sedih. Bahkan, banyak yang memutuskan untuk menangis…banyak perasaan yang sulit. Menyesal. Marah. Tidak Terima. Kecewa. Putus Asa. Kosong.

Tapi pada satu titik, mereka harus berhenti menjadi ‘feeler’- perasa – and star to be a thinker.
See! Look! Evaluate! and…figure it out!
Kita gak boleh membiarkan a boldness of suffering getting more suffered to be felt. Ini gak boleh terus berlanjut…back again, People fall. Tapi, kita juga gak boleh membiarkan sesuatu yang gak menyenangkan ini terjadi dan terlewati begitu aja.

Inget teori causa prima? Everything has its own reason why it’s exist.
Kenapa harus ‘hitam’..kenapa harus ‘putih’…kenapa harus ‘benar’…harus ‘salah’…harus ‘senang’…atau ‘sedih’..
Kenapa…kenapa…dan kenapa…

Dan itulah yang hanya akan bisa dijawab oleh para ‘thinker’…sementara para ‘feeler’ masih terus mempertanyakan perasaannya sendiri…’gimana ini? Kok jadi kayak gini?’ Dan sebagainya…

Disinilah saya  menyimpulkan sesuatu.

“Losing doesn’t always mean bad. Because it will always give you something..A LEARN”
Dan saya belajar banyak dari kehilangan…yang jauuuh lebih mendewasakan dari saat saya  menghadapi suatu keberhasilan. Merelakan sesuatu itu pergi, ‘menangis’ sebentar di hati, lalu…menjadikannya suatu pelajaran agar suatu saat nanti,,,jangan sampai kehilangan lagi. Atau setidaknya, jangan sampai hilang karena kesalahan yang sama…People do fall, but not to be repeated.

Dari sini juga,,,saya belajar untuk tidak membenci apa yang hilang tadi, tanpa harus memaksakan diri untuk kembali memandangnya sebagai sesuatu yang putih lagi. Ini hak saya untuk memberikan penilaian. Dan saya memilih untuk tidak menilai BENCI. Kalau memang harus pergi, saya hanya bisa bilang “well..thanks for everything. Good luck for us and see you; perhaps…next time”

…..
“People come and go. Things born and die. Either Success or Failure, they will be nothing more than a part of our memories. The point is just how you learn from what you’ve been through”
*these are the pendings words, which had been postponed for couple of time*

Banyak bisa. Banyak mau. Tidak banyak mampu.


Sepertinya sekarang saya sedang ada di fase de javu…
Kalau kamu diberikan sejuta kapasitas utuk memproses mimpi dan rencana masa depan, seharusnya kamu sudah sadar kalau kamu juga punya kapabilitas untuk itu. Ingin jadi penyanyi, karena kamu bisa bernyanyi. Ingin jadi pebisnis karena kamu bisa mengambil risiko. Ingin jadi politikus karena kamu bisa bekerja secara birokrat. Ingin jadi sesuatu karena, setidaknya, kamu tahu kalau kamu bisa.

Bisa disini bukan berarti harga mati, bakat yang turun dari langit dan anti kata tidak. Pernah tahu kalau ada orang yang bisa melakukan sesuatu, tapi orang itu malah tidak melakukan sesuatu itu?

Seorang Dian Sastro yang memiliki potensi untuk bisa lebih produktif di depan layar kaca lewat sinetron atau program showbiz lainnya, tapi pada kenyataannya tidak menjadi seperti itu; mungkin karena memilih untuk idealis dengan prinsip sendiri.

Seorang Anggun C. Sasmi yang bisa saja melupakan Indonesia karena sudah punya standara hidup kelas dunia dan karyanya sudah diapresiasi dengan lebih baik di belahan dunia lain di luar sana, tapi ia tidak menjadi seperti itu. Rambutnya tetap hitam, putri pertamanya tetap bernama Kirana dan tetap diajari bahasa Indonesia.
Karena menjadi bisa itu pilihan.

Inilah yang saya sebut MAU.

Bisa karena terbiasa juga sudah masuk kategori MAU, karena seseorang sudah memilih untuk MAU jadi bisa, makanya ia membiasakan dirinya. Ini butuh waktu, tapi waktu itu kan memang diberikan Tuhan untuk mengubah suatu negasi menjadi afirmasi, mengubah kata belum menjadi kata sudah. Merasa ketinggalan kereta karena membutuhkan waktu lebih lama dari yang lain? Apa masalahnya? Kalau kamu orang yang menghargai setiap pembelajaran dari suatu proses, saya kira kamu tidak akan terlalu menyukai hal-hal yang bersifat instan. Premature; you might call…

MAU ini juga yang menuntut effort psikologis paling besar. Banyak pemikiran dan pertimbangan yang harusnya kamu lalui untuk menjadi MAU. Makanya, secara religius, niat lah yang paling menentukan balasan Tuhan untuk setiap perbuatan. Karena niat itulah yang menjadi refleksi kualitas seorang kamu, kamu secara keseluruhan.
Walaupun kata MAU bisa berasal dari faktor eksternal, seperti terpaksa atau terpengaruh, tapi saya yakin, faktor eksternal ini tidak akan berhasil membuat kamu senang menyatakan kamu MAU.

Walaupun kamu tidak sadar betul, atau tidak mengerti bagaimana cara mendeskripisikannya, tapi perasaan “Somehow, I just feel that…there is something wrong” ini adalah indikator kuat akan kata MAU yang tidak merefleksikan kamu secara keseluruhan.
Di titik ini kamu butuh berhenti sesaat, otherwise…some parts of you will haunt your willingness with such a weird negation, forever; even if you are already done making this willingness comes real; not comes right.
Katakanlah kamu sudah bisa dan sudah mau. Next stage is…mampu.

Banyak orang yang menjadikan bisa dan mampu sebagai sinonim satu sama lain. Menurut saya tidak. Karena bisa, belum tentu mampu. Dan tidak seperti mau, mampu itu bukan pilihan. Mampu itu suatu hasil dari harmonisasi MAU dan REALITA. Dan manusia tidak bisa memilih realita. Manusia hanya bisa memilih untuk memperjuangkan suatu realita. Inilah yang menjadikan kata GAGAL ada di dunia.

Contoh simpel…ada seorang subjek yang begitu bertalenta. Bisa banyak hal, Mau banyak hal, semua melambung tinggi menjadi suatu mimpi yang luar biasa hebat. Bahkan tidak semua subjek bisa merancang mimpi seperti itu, atau mungkin…tidak semua mau.

Then, hold a second…ada dunia yang punya kendalinya sendiri. Ada dunia yang hanya menyediakan 24 jam sehari. Ada dunia yang menganut falsafahnya sendiri. Ada dunia yang menyeleksi kekuatan-kekuatannya sendiri. Dan ada kamu yang mendadak terhenti; terpengarah dengan ironi kata MAMPU. Mulai terpikir untuk mencari kambing hitam, padahal sebenarnya…sederhana saja,

Kamu dan dunia tidak MAMPU berharmoni.
Ya. Inilah fase saya saat ini. Fase yang terulang lagi. Saya terhenti. Kalau dulu saya memaksakan semuanya…awalnya saya mengira saya mampu memaksakan suatu harmoni, karena saya akhirnya mampu mewujudkan banyak hal besar. Tapi pada akhirnya, dan baru belakangan ini, saya menyadari bahwa saya memang tidak mampu karena ternyata saya harus membayar dengan beberapa kehilangan besar lainnya.
Saat saya harus memilih untuk mencukupi kemauan saya, menyisihkannya, menyimpannya ke dalam lemari ambisi saya, dan belajar untuk membesarkan hati.
Banyak bisa. Banyak mau. Tidak banyak mampu.
Mau apa lagi?

De Javu ini seperti memberikan kesempatan untuk saya membuktikan kalau saya adalah orang yang mampu belajar dari kesalahan hari kemarin. Saya tidak akan membiarkan diri saya menukar lagi ‘hal-hal yang saya sayang’ dengan bintang-bintang di atas sana. Saya tidak mau berkompetisi dengan ambisi sendiri. Kalau saya menang, yang kalah tetap saya juga. Yang merasakan hanya saya, yang akhirnya ditinggalkan juga hanya saya.Hhh..ini lelucon.
***
“Go get jealous with someone whom you think luckier than you, you just have no idea how they think the same way about you, too”

Sedang sakit,cuaca jelek ................


Saya lagi sakit, sakit tapi bisa nulis Note ?

yah begitulah teman…teman…ini sakit emang rada aneh, abis cuaca lagi nyebelin banget….pagi2 teh dingin sampe -4 derajat, udah gitu siang2 0 derajat celsius, tapi matahari bersinar terang benderang kayak matahari di Bengalon  !

jadilah badan saya kerasa panas tapi kalo dipegang dingin. bahasa bekennya mah disebut..panas dingin. Dulu mah praktis, tinggal dikerokin sama Ibu, minum Panadol Cold & Flu (IKLAN ! Panadol harus bayar ke saya ! hehe) makan makanan bergizi+DAGING, tidur..besoknya pasti sembuh.

Eh, sekarang ? metode penyembuhan mutakhir made in Indonesia bernama ‘KEROK’ ! udah jarang.. sakit dikit, ayo..ke dokter !

Bee juga udah nanyain, “mau ke dokter gak ?”
saya bilang aja, GAK. ya iyalah,,gaya bener saya, panas dingin doang langsung ke dokter.

Mau mengaplikasikan metode kurasi PANAS DINGIN ala Ibu aja, jadilah saya pergi ke supermarket terdekat. Mau beli daging ayam+sapi.. Walopun saya lagi sakit, tapi keukeuh lah saya jalan ke supermarket itu. Secara bee belum pulang jam segini..maklum,bee itu sibuknya udah ngalahin Presiden aja, cepet banget ‘ngilang dan muncul’ lagi ! jadilah saya harus fight jalan ke supermarket dengan muka lecek dan mata merah ‘khas’ saya…

DAPAT ! dengan harga Rp 86.000, saya mendapatkan daging sapi+ayam , let's go cooking

saya tinggalin itu daging di kamar (masih dalam kantong plastik yang terikat rapat) coz saya ke kamar mandi bentar, eh…begitu saya balik,

JRENG ! JRENG ! JRENG !

semua daging itu ludes ! tersangka utamanya siapa lagi kalo bukan CAMCAM! Kucing super agresif kesayangan bee yang sedang ‘berguling – guling’ tanpa dosa sambil masih menjilat2 bungkus daging itu…dengan nikmatnya.
Speechless. 

AAAAA…dia kangen makan daging kali yah, giliran begitu saya beli, Haduu…ludes dimakan kucing. BETE ! Mana lagi PMS, tambah BETE, mau BETE sama siapa coba ? sama kucing ?
Gak ada Ibu yang ngerokin, gak ada PANADOL, gak ada daging.. Sabar Pitha .… 
Beee ...... Malam ini gak ada futsal ya,:* 

KATALIS


Bercerita, tampaknya tidak hanya menjadi monopoli huruf atau kata-kata. Sehingga, demi sesekali tak mengikuti arus monopoli, saya coba hadirkan cerita metamorfosa kami, titik balik proses pencarian, kebahagiaan menemukan, dan keharuan pencapaian, dalam beberapa potong kisah sederhana yang rela tertuang bahagia lewat goresan tinta, beberapa waktu lalu.


Retinaku terdistraksi ketika pendar jingga senja yang hendak merambat masuk melalui pintu kaca ruangan terhambat sekejap oleh kelebatmu. Dua atau tiga detik, kira-kira.

Kau sedang terbalut kerudung hitam, kaos longgar merah tua, celana jins panjang coklat pekat, dan sepatu olahraga putih bermotif garis ungu muda. Ya, setidaknya informasi singkat itu saja yang mampu terkumpul oleh lirikan sekilasku. Oh, tidak, aku bahkan tak melirikmu. Tentu saja mata kiriku cukup cerdas untuk mampu merekam otomatis sosokmu yang tiba-tiba muncul di ambang pintu, tanpa perlu repot melirik sedikitpun, bukan? Keping hitam mataku bahkan tak bergeser sejengkal kaki semut pun. Mereka masih setia pada gemerlap layar monitor. Tubuh jangkung ini juga cukup statis, duduk tenang menempel di kursi empuk biru, bersama tangan kanan yang betah menjamahi tetikus mungil, mengajak pointer berjalan-jalan ke beberapa halaman kesukaan.

Langkahmu tertahan. Acuhku yang kadang tingginya nyaris menyentuh ujung menara petir, tempat Pai Su Chen diasingkan, runtuh begitu saja oleh sesuatu, entah apa. Persendian dan tulang-belulang tak lagi menaati instruksi tuannya untuk tetap diam di tempat, tak bergerak. Hingga pada akhirnya, seulas senyum pendek dan anggukan kecil kuisyaratkan demi membalas pertanyaan non verbalmu. "Silakan masuk", begitu kurang lebih maksudku.

Ah, kau lagi. Si wajah polos tanpa dosa, kembali memporak-porandakan sistem pertahanan tubuhku. Mengacaukan disiplin koordinasi antar lini. Bahkan si pelatih keras kepala, bernama Gengsi, tak luput kau buat kehabisan akal. Selalu saja begitu.

Hei, tahukah kau bahwa seandainya dirimu adalah selembar artikel ilmu pengetahuan, niscaya kau adalah salah satu varietas yang selalu sukses menstimulasi otakku untuk terus mencetak berlembar-lembar pertanyaan, ini dan itu. Kau seolah dipenuhi coretan formula unik, sekaligus aneh. Tiap kali semesta menayangkanmu di hadapanku, ribuan tanya selalu jatuh dari langit, menghujan, lalu membanjir tak karuan. Denganmu, aku menjadi makhluk cerewet dadakan.

Sebenarnya siapakah dirimu? Sebelumnya, aku mengenalmu tak lebih dari rekan kerja yang hanya saling bertemu sepintas di ruang makan, dapur, atau selasar gedung. Kau dan wajahmu yang nyaris tak pernah tersapu riasan merah, hijau, kuning, dan biru seperti mereka, kaum hawa lainnya. Kau dan langkahmu yang kerap lebih mirip seperti langkah atlet jalan cepat. Kau dan sepatu ratamu, yang sepertinya tak pernah membuat lantai terketuk berulang penuh derita. Sebelumnya, kau hanya sekadar itu, bukan? Ya, seingatku.

Hingga aku tiba di suatu titik pada dimensi masa dimana tiba-tiba kau, bagiku tak lagi menjadi sekadarnya.

Lihatlah, sore mulai kadaluarsa. Kita masih larut bercengkerama tentang apa saja, bertukar cerita dan saling tertawa. Sesekali kita saling terdiam lalu mencoba memulai berbicara kembali, dan lucunya, kita selalu memulainya hampir di waktu yang bersamaan. Kau lekas tersenyum, bermaksud menunda bicaramu. Sedangkan aku tergagap bodoh, lupa semuanya. Mungkin otakku gegar akibat tertimpa senyum sederhanamu sekian detik lalu.

Ada kita, tersisa enggan di jejak kaki jingga senja. 

Aku yang menunggu malam datang dan kau yang menanti seorang kawan. Begitulah, kita selalu saja diletakkan dalam sebuah kebetulan. Kamus di otakku tak lagi berfungsi baik untuk memberi definisi. Hanya sepertinya ada sesuatu yang terkatalisasi disini, di ufuk timur hati.

========================================================

Ada sesuatu yang tak terpadankan aksara
ketika aku telah menjadi separuh dari kita

ketika jengkal di antara memupus, tiada
dan keentahan bahagia oleh percaya


demikian, semoga kita menjadi cinta
yang bertumbuh menyusuri sungai masa
menjalari pepohonan usia

hingga kelak ketiadaan
mengantar kita, bertemu di taman surga

semoga.

==============================================================

Pannenkoek


Menikah adalah belajar. Belajar apapun, termasuk mempelajari hal yang sebelumnya belum pernah, belum sempat, atau bahkan sama sekali enggan kita pelajari.

Termasuk pula, belajar memasak. 

Bagi saya, memasak adalah kompor, memasak adalah pasar, memasak adalah para bumbu rempah yang membingungkan, memasak adalah ketajaman ingatan, memasak adalah kepekaan lidah dan penciuman, memasak adalah percikan minyak goreng, memasak adalah kepuasan. Bahkan mungkin, memasak adalah kolaborasi simbol kecerdasan, keterampilan, dan pengabdian seorang wanita.

Dibesarkan oleh Ibu yang cukup pandai memasak, selama ini yang terekam di otak saya justru hanya sebatas daftar beberapa resep masakan ringan sederhana. Sudah ringan, sederhana pula. Sungguh memalukan. Mungkin letak kesalahannya adalah, saya hanya rajin menyaksikan Ibu memasak dan kalaupun sedang bersemangat, saya cukup memperhatikan apa-apa saja yang ia racik di dalam masakannya.

Saya belum pernah melakukannya dengan tangan saya sendiri. Maka semua ingatan terasa percuma.

Sekarang, ketika saya tidak lagi hanya menjadi anak dari seorang Ibu, melainkan juga telah menjelma menjadi seorang istri yang tentunya tidak pernah bercita-cita membuat suami kelaparan atau anggaran rumah tangga terus membengkak untuk membeli makanan matang di luar, maka belajarlah saya memasak.

Tidak ada catat-mencatat, tidak ada pula acara membuka-buka buku resep masakan. Karena bagi saya, bagian itu akan membuat proses belajar menjadi lebih lama dan menciutkan nyali. Saya cukup mendengarkan Ibu atau Ibu mertua saya menyebutkan satu-persatu komposisi masakan yang saya tanyakan, lalu jika saya sedang tidak malas, esok harinya, mulailah saya mencobanya. Sederhana, bukan?

Nah, tempo waktu, dengan percaya diri yang meluap-luap, saya mencoba resep kue ringan ini. Dulu, saya hanya kebagian mencetak adonannya di pan/wajan kecil anti lengket, tanpa tahu racikan detailnya. Ini kue favorit saya, pancake (Amerika) atau pannenkoek (Belanda) atau panekuk (Indonesia), kue dadar yang biasanya diisi olesan selai nanas oleh Mama, sekarang sukses saya sajikan untuk suami dan Ibu mertua. Yay!

Silakan dicermati resep berikut, tapi tolong jangan salahkan saya kalau nanti terjadi sesuatu dengan kue kalian. Ah, kita kan masih sama-sama belajar.

Bahan Kulit/Dadar :
§  1/4 tepung terigu
§  1 butir telur ayam
§  1 sendok makan susu bubuk
§  1/2 sendok makan gula pasir
§  1/4 sendok makan garam
§  2 sendok makan mentega, dicairkan, didinginkan
§  Air, secukupnya
§  Selai buah/krim coklat/semacamnya

Metode :
1.     Semua bahan (kecuali mentega) dicampur di satu wadah, diaduk hingga tidak ada tepung yang menggumpal. Jangan terlalu kental, jangan pula terlalu cair. Silakan diestimasi sendiri, sehingga nantinya jika adonan itu dicetak/didadar di pan, ia mampu dengan mudah didistribusikan menjadi bentuk bulatan/lingkaran/cakram sempurna, memenuhi bidang pan. Mentega cair yang telah didinginkan dicampur ke dalam adonan, aduk rata. 
2.     Setelah adonan tercampur sempurna, mulailah mencetak adonan di atas pan/wajan kecil anti lengket.  Gunakan sendok sayur (irus) setiap kali mencetak, tuangkan adonan ke atas pan, lalu segeralah distribusikan adonan itu dengan cara memutar pan perlahan, hingga adonan memenuhi bidang lingkaran. Ulangi membaca instruksi ini, jika merasa kebingungan yang mendalamlalu pejamkan mata sejenak.
3.     Lakukan proses di langkah 2, hingga adonan habis.
4.     Olesi bagian dalam (maksudnya : bagian atas ketika masih berada di pan) setiap kulit dadar dengan selai pilihan anda, satu-persatu. Kuantitas olesan diserahkan sepenuhnya pada penyaji.
5.     Lipat kulit dadar yang telah terolesi selai/semacamnya, menjadi bentuk akhir seperempat lingkaran, susun di piring saji serapi mungkin.
6.     Pancake/pannenkoek/panekuk siap dinikmati.

Pannenkoek/Pancake/Panekuk

Rahasia :
Demi mempermudah proses pencampuran adonan kulit dadar, libatkan saringan (alat saring, biasanya untuk menyaring santan) dengan ukuran sedang untuk menyaring seluruh campuran adonan cair. Sehingga kita tidak perlu lagi berlama-lama memastikan tak ada lagi gumpalan disitu. cukup campur, aduk, lalu saring. Luar biasa!

Jika adonan terlalu kental, maka ia akan terasa lebih tebal dan kurang matang pada proses pencetakan. Sebaliknya jika adonan terlalu cair, ia akan menjadi lebih tipis dan rentan sobek. Jadi, dosis air sangat menentukan. Waspadalah!

Semoga bermanfaat, menyenangkan, dan layak dicoba. Have a great cooking time, people!

Primordial Pagi " Selamat Hari Jadi Bee "


Aku menikmati wajahmu yang terpantul sempurna oleh lantai keramik beranda rumah, diam-diam.

Pagi belia ini bernama Sabtu, kita kembali duduk berdua, dengan kau di ujung timur dan aku di ujung barat. Sesekali kubuang pandang pada para rumput gajah dan tanaman hias Ibu yang masih segar terkecup embun pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau dapati sedang memandangi pahatan yang Tuhan kerjakan pada parasmu. Pekerjaan yang menurutku sempurna, tegas, damai, dan menyenangkan. Kau masih ditemani ranselmu, kali ini tak seraksasa ransel tempo hari, mungkin kau menggantinya. Bibirmu bergerak tenang, bercerita tentang apa saja yang kau ketahui dengan baik dan belum pernah kuketahui sama sekali. Kau selalu menoleh ke arahku  sembari mengulas senyum setiap satu kalimatmu selesai, dan setiap kali itu pula, konsentrasiku mendadak bubar jalan. Aku terlalu sibuk mendidik mata supaya mereka tak terlalu berbinar riang, menatapmu.

Seekor kucing belang tiga melintas di depan pagar. Ah, sepertinya dia sedang menyeringai nakal, menertawakan muka gugupku. Sialan.

Entah apa yang membawamu kemari. Seingatku, belum pernah kita bertukar alamat rumah. Seingatku pula, kita hanya sesekali terlibat obrolan santai di tempat kerja dan beberapa kali berpapasan tak sengaja, tanpa rencana. Kesadaranku belum genap, jiwaku tercengang lalu terasa ringan hingga melayang kesana-kemari, dan otakku sepertinya baru saja pingsan, mendapatimu bertamu ke rumah, memaksaku mati gaya. Kau datang seolah ini merupakan kunjungan ke sekian kali. Bahasa tubuhmu cukup santai dan tenang. Sedangkan aku hilang diantara rimba pertanyaan monolog. Doaku, semoga ini adalah kenyataan. Namun sayang, mekanisme tubuh yang sedang kurang tertib membuatku lebih percaya bahwa pagi ini  dan semua yang terjadi di dalamnya, hanya mimpi belaka. 

Mataku mengerjap, kau masih disana. Kukerjapkan lagi dan kau tetap disana. Oh, baiklah aku  memang tak sedang bermimpi.

Waktu memulihkan semuanya, memungkinkanku menata dan mengembalikan seluruh komponen kesadaran kembali kepada tempatnya. Kita terus berbaur mencicipi kemewahan pagi. Aku mulai mampu mengacuhkan ketaktahuanku. Sementara partikel-partikel oksigen sedikit demi sedikit telah berdifusi ke dalam tubuh, membantu menjadikanku lebih waras dan normal. Aku bertanya ini dan itu dan kau menjawab pertanyaanku bagai guru taman kanak-kanak yang sedang membantu muridnya belajar hal baru. Aku melempar canda, kau melepas tawa. Sesekali gugup melintas dan aku mengabaikannya dengan baik. Sepintas kulihat Ibu sedang mengintip kita dari celah tirai ruang tamu. Sekilas pula, di batas timur, matahari mulai sibuk bertugas menghangatkan bumi, dan lihatlah, tampaknya ia tak sengaja melukis jejak cahaya jingga di wajahmu. Kau berpendar, ruang antara kita terisi biasan lembut cahaya, menjadikan semua berkerlip indah.

Pagi terasa semakin megah dan kau bagaikan makhluk surga yang baru saja diturunkan ke bumi. Aku begitu ingin mengawetkan waktu.

Hari ini bernama Sabtu, ketika akhirnya kau berpamitan dan kita bertukar senyuman. Aku membiarkan mataku mengikutimu hingga kau lenyap di balik tikungan, hingga bunyi deru motormu benar-benar tak lagi terdengar dan aroma asap knalpotmu lesap terlumat udara. Aku ingin episode pagi ini terekam sempurna, tak terpenggal, bahkan untuk sepersekian detik pun. Mungkin saja dapat kuputar kembali nanti, jika rindu mulai benyali hinggap, menjahili imunitas jiwaku.

"Rindu? Ah, bahkan aku tak tahu apakah nanti aku akan merindukanmu", otakku angkat bicara. Kulihat hatiku diam, tampaknya ia sedang khidmat, mendengarkan isyarat semesta.

Satu pesan singkat masuk, mengedipkan layar telepon genggamku, dua jam setelah kau pulang.

"Terima kasih sudah mengijinkanku menemuimu, di rumah. Semoga kelak, kita punya waktu untuk kembali bertemu"

Ada namamu di akhir kalimat. Aku menyublim ke awan, kembali bertanya pada semesta, apakah ia sedang menyiapkan hadiah untukku, melalui wujudmu.

===================================
Setiap kelahiran patut dirayakan
menyelamati niatan
menghargai kesungguhan
menapaktilasi perjalanan

terimakasih semua lamunan
segala patah arang
setiap remuk redam
semua tawa riang
segala reda sesudah lara

terimakasih Tuhan maha penyembuh hati
dengan penuh kesengajaan merancang setiap pertemuan
yang menyempurnakan,
menumbuhkan lalu menyadarkan

Terimakasih untuk jiwa-jiwa yang selalu meramaikan
namun tetap menaruh hormat pada sunyi dan diam

Terimakasih semuanya,

Selamat Dua Tahun
============================================= 

Wanita

... bukan dari tulang ubun ia dicipta
sebab bahaya menjadikannya dalam sanjung dan puja
tak juga dari tulang kaki
sebab nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
tapi dari tulang rusuk kiri
dekat di hati untuk dicintai
dekat di lengan untuk dilindungi...

^_^ mulia seorang wanita ..