“Happyness is the meaning and purpose of life, the whole aim and end of human existence”Ketika mulai memikirkan apa yang akan saya tulis saat harus menyelesaikan tugas membuat essai tentang tujuan hidup ini saya belum mendapatkan ide apa pun yang cemerlang. Browsing sana-sini, ngubek-ubek situs-situs motivasi, tapi belum juga saya temukan ide itu.
- Aristotle -
Betapa sulit ternyata “hanya” untuk memulai menuliskan satu dua kalimat inti apa tujuan hidup kita sebenarnya. Padahal tak jarang dari kita mungkin suatu ketika dihadapkan pada pertanyaan “ Apa tujuan hidup Anda ?” atau mungkin “Apa sih kamu cari di dunia ini” atau “Apa yang ingin kamu capai dalam hidupmu?” .
Pertanyaan-pertanyaan yang sedikit banyak membuat kita berpikir kembali, merenungkan dan mencari jawabannya dalam hati kita. Ya, tujuan hidup kita. Mengejar kehidupan yang nyaman, kehidupan duniawi yang serba nyaman , hanya memilih hidup dalam kesederhanaan atau hidup dalam penghambaan diri kepada Sang Pencipta. Mungkin itu hanya beberapa alternatif yang dipilih . Masih banyak, tak terhitung jumlahnya, sebanyak populasi manusia itu sendiri mungkin jawaban atas pertanyaan tersebut.
Lalu, apa tujuan hidup kita sebenarnya? Berpikir. Memutar otak, membuka kembali ingatan, mencari-cari di dalam memori hal-hal yang inspiratif. Nihil. Saya malah membuka folder film, berharap ada yang bisa ditonton dan mendapat inspirasi. Tiba-tiba saya teringat satu judul film yang sangat saya favoritkan. The most touching and inspiring movie ever, I think.
Film yang bercerita tentang perjuangan seorang manusia mengejar tujuan hidupnya. Cerita film ini berfokus pada seorang kulit hitam, Chris Gardner (Will Smith) dalam usahanya meraih kebahagiaan, sebuah perjuangan panjang yang harus ia tempuh demi membahagiakan keluarganya. Sebenarnya saya sudah menonton beberapa kali, tapi entah, seperti tak ada bosannya saya menyimak kisah yang menyentuh ini, tentang perjuangan mencapai tujuan hidup manusia, meraih kebahagiaan.
Dalam film tersebut dikutip sebuah kalimat dari “ United States Declaration of Independence “ pada second sentence “ A sweeping Statement of Human Rights “ yang berisi :
“We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by Creator with certain unalienable Rights, that among these are LIFE, LIBERTY AND THE PURSUIT OF HAPPYNESS”…Ada kata yang sangat menarik di sini, yaitu “Pursuit of Happyness”. Mengapa Thomas Jefferson (Author) menulis “Pursuit of Happyness”, bukan “Happy” atau “To be Happy”. Sebuah pemilihan kata yang menurut saya mempunyai arti tersirat. Sebuah pesan coba disampaikan oleh Thomas Jefferson melalui kata tersebut, pesan yang jika kita cermati akan bermakna sangat luas dan mendalam. Pesan itu pula lah yang ingin Chris Gardner terjemahkan dalam film The Pursuit of Happyness ini, film yang dilatarbelakangi kisah nyata.
Berkisah tentang seorang sales alat kesehatan, Chris berjuang untuk menghidupi keluarganya, seorang istri dan seorang anak laki-laki yang masih kecil. Karena penghasilan yang sangat pas-pasan, dan tekanan ekonomi yang stressful, sang istri terpaksa meninggalkannya. Alhasil, dia sendiri lah yang harus membesarkan anaknya.
Pekerjaan sebagai agen penjualan tak mencukupi kebutuhan. Ia pun melamar untuk bekerja sebagai broker. Magang selama enam bulan dan tidak mendapatkan bayaran sepeserpun merupakan masa-masa yang sangat menyentuh dalam cerita ini. Bagaimana ia pontang-panting mencari sekedar tempat berteduh untuk anaknya, mulai tempat penampungan tuna wisma hingga toilet umum stasiun kereta api.
Dan masih banyak kisah-kisah perjuangannya yang membuat kita meneteskan air mata haru. Hingga akhirnya, dengan segala jerih payahnya Chris berhasil masuk sebagai pegawai tetap di perusahaan pialang tersebut, dan mulai menapaki sisi kehidupan yang membaik, hingga akhirnya ia menjadi broker terkenal yang memiliki kekayaan fantastik.
Chris Gardner mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya. Kebahagiaan akan kita dapatkan, jika kita mau berusaha, dan kita harus bekerja keras serta pantang menyerah untuk mencapai kebahagiaan atau tujuan hidup kita tersebut. Kebahagiaan tidak akan kita dapatkan dengan hanya duduk berdiam diri dan berpangku tangan. Kebahagiaan itu harus kita kejar atau raih. Seperti kalimat Tuhan yang mengatakan “Tuhan tidak akan merubah nasib umatnya, jika umatnya tersebut tidak berusaha untuk mencoba merubah nasibnya sendiri” dengan berusaha dan berikhtiar tentunya…
Mencoba meraih kebahagiaan sebagai tujuan hidup adalah sesuatu yang sebenarnya kita lakukan setiap hari. Bekerja keras, berangkat pagi pulang larut malam. Semuanya pasti punya tujuan yang hendak dicapai. Pula, setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sangat beragam, dan setiap orang pasti juga mempunyai pendapat yang beragam tentang definisi kata kebahagiaan itu sendiri. Dengan bekerja dan mencari nafkah, maka itu adalah salah satu jalan kita untuk meraih tujuan hidup atau kebahagiaan kita masing-masing…Banyak dari kita, mungkin bekerja tidak sesuai dengan kegemaran kita. Banyak orang yang bercita-cita menjadi dokter akan tetapi berkecimpung di bidang mesin, tidak sedikit pula orang yang ingin menjadi tentara akan tetapi pada akhirnya bekerja sebagai jurnalis, dan banyak sarjana ekonomi yang harus berkarir di bidang komputer, dan sebagainya. Akan tetapi semua itu tidak akan menghalangi kita untuk mencapai tujuan hidup kita, yaitu meraih kebahagiaan…
Sebagai manusia kita wajib untuk terus berusaha dan pantang menyerah untuk mencapai tujuan hidup kita, apapun kendalanya. Apapun profesi kita, pada suatu waktu mungkin kita akan terbentur pada sebuah batu karang yang kokoh, sehingga perasaan menyerah terkadang menyeruak dalam benak kita…Saat-saat ini, saat yang tepat bagi saya pribadi, untuk memulai kembali perjuangan itu. Perjuangan mencari ilmu, perjuangan meraih masa depan yang lebih baik, serta perjuangan untuk mencapai tujuan menjalani tugas belajar ini. Harus sukses dan ingin membahagiakan orang-orang di sekeliling kita yang senantiasa mendukung, mengasihi, mencintai, dan menjaga kita melalui doa-doa mereka.
Maka haruslah saya katakan pada diri saya sendiri untuk memulai dari sekarang untuk terus berlari mengejar kebahagiaan, jangan pernah berhenti, jika terjatuh bangkit lagi seperti saat dulu masih kanak-kanak dan balajar berjalan. Kita tidak pernah berhenti belajar berjalan walaupun sering jatuh bangun saat belajar berjalan. Bukankah kita pernah mengalami keberhasilan di masa kanak-kanak dulu. Terus berusaha hingga sukses meraih apa yang kita impikan.
Dengan demikian saya sadari, bahwa apa yang saya hadapi saat ini, adalah salah satu jalan saya untuk meraih kebahagiaan saya, atau “To Pursue My Happyness”…So.. saya katakan sekali lagi pada diri sendiri Jangan pernah menyerah !! Berjuanglah meraih tujuan hidupmu, raihlah kesuksesan itu, because success is your right !!!Karena sebagai manusia, Kita berhak untuk “Hidup”, Berhak untuk “Bebas” dan berhak untuk “Meraih Kebahagiaan”…
Ganbatte ^_^
