himpunan doa
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

PURSUIT of HAPPYNESS

“Happyness is the meaning and purpose of life, the whole aim and end of human existence”
- Aristotle -

Ketika mulai memikirkan apa yang akan saya tulis saat harus menyelesaikan tugas membuat essai tentang tujuan hidup ini saya belum mendapatkan ide apa pun yang cemerlang. Browsing sana-sini, ngubek-ubek situs-situs motivasi, tapi belum juga saya temukan ide itu.

Betapa sulit ternyata “hanya” untuk memulai menuliskan satu dua kalimat inti apa tujuan hidup kita sebenarnya. Padahal tak jarang dari kita mungkin suatu ketika dihadapkan pada pertanyaan “ Apa tujuan hidup Anda ?” atau mungkin “Apa sih kamu cari di dunia ini” atau “Apa yang ingin kamu capai dalam hidupmu?” .

Pertanyaan-pertanyaan yang sedikit banyak membuat kita berpikir kembali, merenungkan dan mencari jawabannya dalam hati kita. Ya, tujuan hidup kita. Mengejar kehidupan yang nyaman, kehidupan duniawi yang serba nyaman , hanya memilih hidup dalam kesederhanaan atau hidup dalam penghambaan diri kepada Sang Pencipta. Mungkin itu hanya beberapa alternatif yang dipilih . Masih banyak, tak terhitung jumlahnya, sebanyak populasi manusia itu sendiri mungkin jawaban atas pertanyaan tersebut.

Lalu, apa tujuan hidup kita sebenarnya? Berpikir. Memutar otak, membuka kembali ingatan, mencari-cari di dalam memori hal-hal yang inspiratif. Nihil. Saya malah membuka folder film, berharap ada yang bisa ditonton dan mendapat inspirasi. Tiba-tiba saya teringat satu judul film yang sangat saya favoritkan. The most touching and inspiring movie ever, I think.

Film yang bercerita tentang perjuangan seorang manusia mengejar tujuan hidupnya. Cerita film ini berfokus pada seorang kulit hitam, Chris Gardner (Will Smith) dalam usahanya meraih kebahagiaan, sebuah perjuangan panjang yang harus ia tempuh demi membahagiakan keluarganya. Sebenarnya saya sudah menonton beberapa kali, tapi entah, seperti tak ada bosannya saya menyimak kisah yang menyentuh ini, tentang perjuangan mencapai tujuan hidup manusia, meraih kebahagiaan.

Dalam film tersebut dikutip sebuah kalimat dari “ United States Declaration of Independence “ pada second sentence “ A sweeping Statement of Human Rights “ yang berisi :

“We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by Creator with certain unalienable Rights, that among these are LIFE, LIBERTY AND THE PURSUIT OF HAPPYNESS”
…Ada kata yang sangat menarik di sini, yaitu “Pursuit of Happyness”. Mengapa Thomas Jefferson (Author) menulis “Pursuit of Happyness”, bukan “Happy” atau “To be Happy”. Sebuah pemilihan kata yang menurut saya mempunyai arti tersirat. Sebuah pesan coba disampaikan oleh Thomas Jefferson melalui kata tersebut, pesan yang jika kita cermati akan bermakna sangat luas dan mendalam. Pesan itu pula lah yang ingin Chris Gardner terjemahkan dalam film The Pursuit of Happyness ini, film yang dilatarbelakangi kisah nyata.

Berkisah tentang seorang sales alat kesehatan, Chris berjuang untuk menghidupi keluarganya, seorang istri dan seorang anak laki-laki yang masih kecil. Karena penghasilan yang sangat pas-pasan, dan tekanan ekonomi yang stressful, sang istri terpaksa meninggalkannya. Alhasil, dia sendiri lah yang harus membesarkan anaknya.

Pekerjaan sebagai agen penjualan tak mencukupi kebutuhan. Ia pun melamar untuk bekerja sebagai broker. Magang selama enam bulan dan tidak mendapatkan bayaran sepeserpun merupakan masa-masa yang sangat menyentuh dalam cerita ini. Bagaimana ia pontang-panting mencari sekedar tempat berteduh untuk anaknya, mulai tempat penampungan tuna wisma hingga toilet umum stasiun kereta api.

Dan masih banyak kisah-kisah perjuangannya yang membuat kita meneteskan air mata haru. Hingga akhirnya, dengan segala jerih payahnya Chris berhasil masuk sebagai pegawai tetap di perusahaan pialang tersebut, dan mulai menapaki sisi kehidupan yang membaik, hingga akhirnya ia menjadi broker terkenal yang memiliki kekayaan fantastik.

Chris Gardner mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya. Kebahagiaan akan kita dapatkan, jika kita mau berusaha, dan kita harus bekerja keras serta pantang menyerah untuk mencapai kebahagiaan atau tujuan hidup kita tersebut. Kebahagiaan tidak akan kita dapatkan dengan hanya duduk berdiam diri dan berpangku tangan. Kebahagiaan itu harus kita kejar atau raih. Seperti kalimat Tuhan yang mengatakan “Tuhan tidak akan merubah nasib umatnya, jika umatnya tersebut tidak berusaha untuk mencoba merubah nasibnya sendiri” dengan berusaha dan berikhtiar tentunya…

Mencoba meraih kebahagiaan sebagai tujuan hidup adalah sesuatu yang sebenarnya kita lakukan setiap hari. Bekerja keras, berangkat pagi pulang larut malam. Semuanya pasti punya tujuan yang hendak dicapai. Pula, setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sangat beragam, dan setiap orang pasti juga mempunyai pendapat yang beragam tentang definisi kata kebahagiaan itu sendiri. Dengan bekerja dan mencari nafkah, maka itu adalah salah satu jalan kita untuk meraih tujuan hidup atau kebahagiaan kita masing-masing…Banyak dari kita, mungkin bekerja tidak sesuai dengan kegemaran kita. Banyak orang yang bercita-cita menjadi dokter akan tetapi berkecimpung di bidang mesin, tidak sedikit pula orang yang ingin menjadi tentara akan tetapi pada akhirnya bekerja sebagai jurnalis, dan banyak sarjana ekonomi yang harus berkarir di bidang komputer, dan sebagainya. Akan tetapi semua itu tidak akan menghalangi kita untuk mencapai tujuan hidup kita, yaitu meraih kebahagiaan…

Sebagai manusia kita wajib untuk terus berusaha dan pantang menyerah untuk mencapai tujuan hidup kita, apapun kendalanya. Apapun profesi kita, pada suatu waktu mungkin kita akan terbentur pada sebuah batu karang yang kokoh, sehingga perasaan menyerah terkadang menyeruak dalam benak kita…Saat-saat ini, saat yang tepat bagi saya pribadi, untuk memulai kembali perjuangan itu. Perjuangan mencari ilmu, perjuangan meraih masa depan yang lebih baik, serta perjuangan untuk mencapai tujuan menjalani tugas belajar ini. Harus sukses dan ingin membahagiakan orang-orang di sekeliling kita yang senantiasa mendukung, mengasihi, mencintai, dan menjaga kita melalui doa-doa mereka.

Maka haruslah saya katakan pada diri saya sendiri untuk memulai dari sekarang untuk terus berlari mengejar kebahagiaan, jangan pernah berhenti, jika terjatuh bangkit lagi seperti saat dulu masih kanak-kanak dan balajar berjalan. Kita tidak pernah berhenti belajar berjalan walaupun sering jatuh bangun saat belajar berjalan. Bukankah kita pernah mengalami keberhasilan di masa kanak-kanak dulu. Terus berusaha hingga sukses meraih apa yang kita impikan.

Dengan demikian saya sadari, bahwa apa yang saya hadapi saat ini, adalah salah satu jalan saya untuk meraih kebahagiaan saya, atau “To Pursue My Happyness”…So.. saya katakan sekali lagi pada diri sendiri Jangan pernah menyerah !! Berjuanglah meraih tujuan hidupmu, raihlah kesuksesan itu, because success is your right !!!Karena sebagai manusia, Kita berhak untuk “Hidup”, Berhak untuk “Bebas” dan berhak untuk “Meraih Kebahagiaan”…

Ganbatte ^_^

. . Tentang Perjalanan . .

Aku selalu rindu perjalanan karena di sana ada ruang sempit untuk menaksir jarak antara hatiku dan hatimu. Tak peduli kulalui dengan apa perjalanan itu; bus, pesawat, kereta, angkutan, taksi, becak, sepeda, bahkan dengan kakiku. Dan, saat ini aku sedang berpikir tentang perjalanan yang tak butuh media. Perjalanan dengan sayap. Perjalanan dengan keteguhan hati. Jadi, ayo pergilah bersamaku ke suatu tempat yang tidak membutuhkan jalanan untuk dipijak dan tak seorangpun tahu di mana kita akan mengakhiri perjalanan ini.

Kita akan menyaksikan langit-langit yang warnanya pudar dan hijau dedaunan yang menjelma jadi sephia. Kita akan menyusuri kios-kios di jalan-jalan sempit sepanjang kota impian atau terbang dari satu bintang ke bintang lainnya dengan mata terpejam.

Perjalanan, ke manapun itu akan selalu kumaknai sebagai sebuah rute panjang menuju hatimu, pulang, merumah selamanya di sana. Aku selalu berharap kamu menjemputku di terminal, di stasiun, di bandara, atau di mana pun itu, selama aku bisa menghambur ke pelukanmu setelahnya, menamatkan rindu terpanjang dalam hidupku.  Seperti hari ini, ketika aku hanya mampu duduk di balik kaca yang basah oleh hujan, memandangi kota kita yang diserbu kelabu. Tak ada kamu di bangku semen itu. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa berharap perjalanan ini adalah kepulangan.

Aku tak henti memikirkanmu dalam perjalanan ini. Aku tahu kamu akan menjemputku besok pagi, di terminal, di bandara, di stasiun atau di mana pun itu, berdiri di dekat bangku, memasukkan kedua tanganmu dalam saku jaket, dan tersenyum ketika kau dapati sosokku di kejauhan. Dan, entah kenapa senyumku mendadak pudar, buku kecil dalam genggaman tanganku sudah penuh goresan. Rasanya aku memang rindu. Rindu yang sepi. Padamu.

Bersanding Kepakan Di Bawah Senja
Aku rindu gelak manjamu yang merajut senyum ke buluh waktu.
Langkah ceriamu seperti sepasang kepakan yang mendendangkan angin berlalu.
Kapan kita dapat bersanding langkah kembali, senja tanpa jiwamu menjadi kehilangan arti.
Datanglah wahai beludru perduku, sebelum sinar terakhir menjadi kisah yang lalu.
Karena tanpamu, sepasang sayapku hanyalah kenangan berdebu.

*Sebuah sajak yang dipersembahkan untukku. Dari sahabatku Wuland. Terima kasih, Semoga tulisan ini bisa melengkapi sajakmu.

SMALL THING

Titik-titik air merapuh, jatuh ke bumi, dan membuat tanah jadi lembek. Aku duduk di bawah gazebo, sendirian saja, dengan segelas jus jeruk dan sepiring gado-gado. Hari ini penat. Dan tetes-tetes air hujan tak jua membawa gelisahku pergi. Hari ini aku dapat email dari wulan. Seminggu lagi dia operasi, rahimnya diangkat. Musuh kecilnya itu makin lama makin tak bisa diatasi dan operasi jadi jalan satu-satunya. Alternatif lain tak bisa diandalkan dan wulan terlalu lama menunggu. Ia terlalu sabar. Terlalu kuat. Tapi sesungguhnya rapuh. Perempuan mana yang masih merasa lengkap tanpa rahim?

Wulan. Dia sahabatku satu-satunya. Orang yang paling mengerti bagaimana aku ini. Teman yang tak pernah pergi saat aku bahagia juga sedih. Seseorang yang selalu tahu apa yang aku rasakan sebelum aku mengatakannya. Pundak yang kusandari saat aku lelah menyangga kepala. Wulan. Aku sering menyebutnya soulmate. Tak ada yang seperti dia.

Wulan. Bagaimana aku bisa membiarkan diriku sendiri bersenang-senang sedang ia dalam penantian keputusan akan kehidupannya di masa yang akan datang? Dia bilang, hidupnya tak mampu mencipta rencana. Buatnya cinta jadi bertambah rumit. Dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya menikmati hari dan bersyukur begitu malam datang. Hidup yang teramat sederhana namun ternyata itulah esensi dari hidup. Wulan, aku merindukannya.

Sekarang kami terpisah ratusan kilo. Harusnya saat ini aku duduk berhadapan dengannya, mendengarkan semua keluh kesahnya, dan berusaha membuatnya sedikit melupakan musuh kecilnya itu dengan sebuah kelakar. Ia suka leluconku.

“Tolong bil-nya” kataku pada seorang pelayan yang kebetulan lewat.

Tak lama pelayan tadi menyodoriku selebar kertas. Dua puluh ribu. Mahal sekali, batinku. Namun kukeluarkan selembar uang dua puluh ribu dari dompet dan kusodorkan pada pelayan tadi. Hujan mereda. Langit kembali terang namun matahari tak juga muncul. Sekilas kusambut hadirnya pelangi. Udara dingin membuatku merapatkan jaket dan bersedekap sambil berjalan menuju jalan raya. Beberapa angkot penuh sesak. Aku malas menghentikannya dan menolak mentah-mentah ajakan kernet yang terdedengar seperti rayuan. Dua kali aku bergeser begitu kernet-kernet itu menyentuh punggungku. Kesempatan dalam kesempitan. Seperti tak pernah melihat perempuan cantik saja, umpatku.Kulirik jam tanganku. Masih pukul empat.

Dari kejauhan sebuah bus melaju dengan santai. Lengang. Hanya ada beberapa orang yang duduk berpencar-pencar. Aku naik begitu bus itu berhenti. Perjalanan sampai ke rumah memakan waktu satu jam. Lumayan untuk tidur sebentar. Sayang kantuk tak juga datang. Dari balik kaca bus akhirnya kupusatkan perhatian pada kegiatan di sepanjang trotoar. Ada seorang penjual nasi goreng mendorong gerobak dengan santai. Beberapa orang turun dari mobil di depan toko sepatu. Barangkali mereka mengantar anak-anak mereka membeli sepatu. Aku jadi ingat kalau ini tahun ajaran baru. Di sebuah halte, bus ini berhenti, namun tak mengangkut penumpang. Sepasang muda mudi berseragam putih abu-abu tampak asyik ngobrol dan tidak tertarik menaiki bus ini.Tak lama kemudian, sebuah sms masuk. Dari ibunya Gita salah satu muridku di SLB.
Ibu guru, apa tadi Gita buat onar di kelas?

Aku tersenyum dan menulis balasan untuk wanita berwajah oriental itu. Hari ini Gita sangat patuh meski aku masih harus memksanya untuk membuatnya terfokus. Dia dapat nilai 100 dalam pelajaran Bahasa Indonesia, dan mengikuti bina diri dengan baik. Setelah membalas sms, aku melamun dengan tatapan kosong. Aku ingat murid-murid istimewaku. Anak-anak luar biasa yang membuatku selalu bisa bersyukur dengan apa yang ada dalam diriku sendiri. Hidup sangat sederhana buat mereka. Beberapa dari anak-anak itu terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tak peduli dengan segala  hiruk pikuk dunia. Mereka tak mampu mengungkapkan keinginan karena bahasa menjadi teramat sulit, huruf jadi asing, dan hanya senyuman yang ada. Tak ada kebencian disana. Ambisi dan keserakahan hampir minim dijumpai. Yang ada hanya naluri. Kebebasan. Juga liar.

“Turun mana, Mbak? “tanya kernet.
Aku tersentak kaget.
“Pom bensin aja, Mas”
Aku beranjak dari duduk, bersiap-siap turun.
“Pom bensin, pom bensin” kernet itu berteriak lantang. Lebih lantang dari pemimpin upacara di hari Senin.
Aku turun dari bus. Udara dingin menyambutku lagi. Kali ini aku berlari-lari kecil menyusuri jalan tikus yang menghubungkan jalan raya dengan rumahku tanpa harus lewat pos satpam. Sampai di rumah, aku dikejutkan sebuah buket bunga mawar yang tergeletak di lantai dekat pintu. Ada titik-titik air di sana. Sepertinya buket ini baru saja diletakkan. Disampingnya ada kotak dengan pita mungil diatasnya. Aku memungutinya dan membawanya masuk.Kue blackforest kesukaanku. Aku mencomot sebuah cerry dan melahapnya seketika.
Dear Annelis,
Aku mencintai hidup, tapi jenuh dengan kehidupan… hanya sedikit kawan yang mau berbagi umpatan pada dunia denganku. Aku punya banyak kemarahan pada hal-hal yang tidak beres pada dunia. Bagaimana aku mengendalikannya?
Apa aku salah bergaul? Apa aku salah membaca buku? Aku kadang-kadang tidak suka dengan hal-hal yang lazim dilakukan orang.
Sayang, makasih… aku benar-benar nyaman bersamamu dan aku menikmati hubungan ini meski aku masih tak tahu bagaimana membuatmu lebih bahagia. Aku tak ingin menyakitimu lagi, Annelis. Aku rindu matamu…Annelis, aku kesepian…
Kulipat surat dari pacarku itu. Aku berjalan ke kamar untuk berganti baju dan menghidupkan kran kamar mandi. Setelah itu aku duduk di depan komputer, menulis email untuk pacarku.
Dear pacarku,Kemarahan pada dunia hanya akan membuatmu jadi debu. Kenapa harus membenci dunia yang ada sebelum kita ada? Kita hanya pemain film, Sayang…
Sayang, kamu terlalu pandai untuk orang-orang awam. Resiko menjadi kaum minoritas tidak sama dengan menjatuhkan setitik darah pada susu yang putih.
Sayang, belajarlah bersyukur. Hanya dengan itu segala kebencian akan tergilas. Kamu punya banyak hal bisa disyukuri tanpa harus menyimpan kemarahan pada hal lain.
Sayang, kamu bukan orang yang menderita kanker, kamu bukan orang tua yang punya anak dengan keterbelakangan mental, kamu juga bukan orang yang cacat…
Sayang, kamu punya ayah yang bangga padamu, kamu punya otak brilian yang tak dimiliki orang lain, kamu punya beberapa teman yang mau berbagi, dan kamu punya kehidupan yang jauh lebih baik dari seorang anak jalanan.
Sayang, kamu tak perlu membuat aku lebih bahagia. Aku sangat bahagia bersamamu. Ini cukup buatku dan aku tak mau memiliki kebahagiaan yang berlebih. Kita hanya manusia yang sering lupa bila diberi banyak kebahagiaan.
Sayang, bila sesekali aku sakit hati dan tidak mengatakannya itu bukan apa-apa, aku hanya tak ingin orang yang aku sayangi bersedih karena merasa menyakitiku.
Aku juga rindu… makasih blackforest dan buket mawarnya… sejak kapan kamu romantis, Sayang? Hehehe…

Selesai menulis aku pergi ke kamar mandi, membenamkan tubuh dalam bathtub yang penuh air hangat dan membuat busa sabun. Kucium aroma Lavender. Kucium keheningan. Aku rindu pacarku yang penuh dengan idealisme itu. Pria yang membawaku mengembara dalam lautan aksara. Tiba-tiba ingatan membawaku pada suatu ketika dimana kami menghabiskan waktu bersama sambil mencoba melawan dinginnya udara kota Jakarta di malam hari. Makan malam dibawah langit malam, menyusuri jalanan tanpa punya tujuan, ngobrol tanpa topik jelas, mengunjungi teman baiknya, dan berusaha menikmati tiap detik waktu dengan saling bertatap mata

andai ia tahu, dia bukan satu-satunya orang didunia yang merasa disakiti. bentuk rasa sakit atau penderitaan kurasa bermacam-macam. banyak orang yang menderita dan tak sempat merasakan rasa sakit atau kemarahan. ada banyak alasan untuk bahagia asal kita bisa mensyukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan. hal-hal kecil yang terkadang terlewat untuk disyukuri. ya, hal-hal kecil…
aku makin membenamkan kepala, menyatu dengan air sabun yang wangi itu. dan satu yang ada di kepalaku. aku ingin bertanya sebuah hal padanya “bila hari ini adalah hari terakhirmu di dunia, sayang… apa yang akan kamu lakukan?”

untuk kekasihku…
dan terima kasih untuk sahabatku…

Kamis, 19 Januari 2012

. . . Dari sebuah kehilangan


All right,,

Sekarang saya lagi sedikit calming down myself,after having such a quite bold week..well, dimulai dari betapa ‘zoonk’nya saya akan akun, kuis statek  yang selalu ‘mencekam’ karena dosennya galak, dan fenomena adaptasi di lingkungan kampus STAN ini..

Accounting and “Oh My Gosh!”

Let’s skip about lectures…kuliah mah dijalanin aja,,bukan buat dicurhatin,,haha…

Okay…ada banyak poin yang menarik buat saya akhir – akhir ini. Sebenernya bukan hal yang so damn serious or touchy. Ini poin – poin yang akhirnya berhasil saya ‘underline’ dalam pikiran dan idealisme saya.

“People come and go. Things born and die.”

Ini sangat klise pada awalnya. Tapi setelah saya ngobrol sama beberapa orang, tentang sesuatu yang datang di kehidupan mereka dengan caranya masing – masing, menyerap tenaga kita untuk  put some attentions or even efforts, sampai akhirnya menampar kita keras saat sesuatu itu harus pergi.

‘Menampar’ disini bukan cuma berarti membuat kita feeling so suffered, merasa ditinggalkan, atau merasa kehilangan. Saat sesuatu itu pergi dan tepat setelahnya, kita ‘ditampar’ oleh unlimited regrets. Penyesalan; yang bahkan bisa membuat kita merasa lebih bodoh dari definisi bodoh yang selama ini kita ketahui. “Ini terlalu bodoh”. Dan bodoh disini bukan karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini harus pergi, tapi karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini pernah DATANG ke kehidupan kita.

“You will never know what you’ve got until you lose them all”

Ini juga klise…dan bisa jadi sangat betul. Tapi saya yakin, ada saatnya dimana kehilangan gak selalu membuat kita sadar kalau sesuatu yang berharga telah pergi, lalu rasanya seluruh dunia bilang,”See! I told you!”, dan akhirnya membuat kita merasa makin..dan makin BODOH untuk alasan yang emosional.
Gak selalu.
Coba kita ganti susunan kata – katanya…

“you will never know what you WILL GET after you lose them all”

Ini terdengar lebih positif buat saya.
Well okay, saya bukan orang yang maniak akan positive thinking. (come on, there are black and white, right and wrong, good and bad. Just be realistic!).
Tapi pada saat saya jatuh, saya gak mau merasa jatuh juga. I  mean, bukan berarti saya egois dan angkuh. People make mistakes. People fall. Dan saya pasti pernah jatuh. Tapi buat saya, being fallen means figure it out! Kalo jatuh, usaha buat kembali berdiri lagi…

Jadi saya lebih suka mendengar sesuatu yang menguatkan saya saat saya jatuh. Jujur, saya bukan orang yang menikmati berlama – lama dikasihani. My brain and my faith dominate more than a half of me. Then I’ve found that sentence mentioned above…

Saat dimana saya menyesali kenapa saya sampai membiarkan itu datang, dan akhirnya pergi saat saya udah terlalu membiarkan diri saya hablur dalam zona abu-abu, gak bisa lagi menilai perilaku saya sendiri karena suatu ketidaksadaran akan betapa tidak seharusnya saya jadi BODOH seperti ini.

Inilah contoh living proof akan subjek yang menyesal. SAYA  yang menyesal.

Dibantu dengan kalimat diatas tadi, saya mulai berusaha mencari sesuatu yang bisa menghentikan “what a fool you?! What did you do?! How could you?!” yang saya tujukan pada diri saya sendiri. It hurt a lot, knowing that you are so damn fool for letting this happened.

Lalu percakapan dengan beberapa teman di sekitar,,menguatkan saya.

*True! If you have problems, then share it with your trusted people…It helps! Even if you are a really and totally introvert people. Every people are to be helped.*

Dan fenomena di sekitar saya…Banyak yang kehilangan. Banyak yang sedih. Bahkan, banyak yang memutuskan untuk menangis…banyak perasaan yang sulit. Menyesal. Marah. Tidak Terima. Kecewa. Putus Asa. Kosong.

Tapi pada satu titik, mereka harus berhenti menjadi ‘feeler’- perasa – and star to be a thinker.
See! Look! Evaluate! and…figure it out!
Kita gak boleh membiarkan a boldness of suffering getting more suffered to be felt. Ini gak boleh terus berlanjut…back again, People fall. Tapi, kita juga gak boleh membiarkan sesuatu yang gak menyenangkan ini terjadi dan terlewati begitu aja.

Inget teori causa prima? Everything has its own reason why it’s exist.
Kenapa harus ‘hitam’..kenapa harus ‘putih’…kenapa harus ‘benar’…harus ‘salah’…harus ‘senang’…atau ‘sedih’..
Kenapa…kenapa…dan kenapa…

Dan itulah yang hanya akan bisa dijawab oleh para ‘thinker’…sementara para ‘feeler’ masih terus mempertanyakan perasaannya sendiri…’gimana ini? Kok jadi kayak gini?’ Dan sebagainya…

Disinilah saya  menyimpulkan sesuatu.

“Losing doesn’t always mean bad. Because it will always give you something..A LEARN”
Dan saya belajar banyak dari kehilangan…yang jauuuh lebih mendewasakan dari saat saya  menghadapi suatu keberhasilan. Merelakan sesuatu itu pergi, ‘menangis’ sebentar di hati, lalu…menjadikannya suatu pelajaran agar suatu saat nanti,,,jangan sampai kehilangan lagi. Atau setidaknya, jangan sampai hilang karena kesalahan yang sama…People do fall, but not to be repeated.

Dari sini juga,,,saya belajar untuk tidak membenci apa yang hilang tadi, tanpa harus memaksakan diri untuk kembali memandangnya sebagai sesuatu yang putih lagi. Ini hak saya untuk memberikan penilaian. Dan saya memilih untuk tidak menilai BENCI. Kalau memang harus pergi, saya hanya bisa bilang “well..thanks for everything. Good luck for us and see you; perhaps…next time”

…..
“People come and go. Things born and die. Either Success or Failure, they will be nothing more than a part of our memories. The point is just how you learn from what you’ve been through”
*these are the pendings words, which had been postponed for couple of time*

Banyak bisa. Banyak mau. Tidak banyak mampu.


Sepertinya sekarang saya sedang ada di fase de javu…
Kalau kamu diberikan sejuta kapasitas utuk memproses mimpi dan rencana masa depan, seharusnya kamu sudah sadar kalau kamu juga punya kapabilitas untuk itu. Ingin jadi penyanyi, karena kamu bisa bernyanyi. Ingin jadi pebisnis karena kamu bisa mengambil risiko. Ingin jadi politikus karena kamu bisa bekerja secara birokrat. Ingin jadi sesuatu karena, setidaknya, kamu tahu kalau kamu bisa.

Bisa disini bukan berarti harga mati, bakat yang turun dari langit dan anti kata tidak. Pernah tahu kalau ada orang yang bisa melakukan sesuatu, tapi orang itu malah tidak melakukan sesuatu itu?

Seorang Dian Sastro yang memiliki potensi untuk bisa lebih produktif di depan layar kaca lewat sinetron atau program showbiz lainnya, tapi pada kenyataannya tidak menjadi seperti itu; mungkin karena memilih untuk idealis dengan prinsip sendiri.

Seorang Anggun C. Sasmi yang bisa saja melupakan Indonesia karena sudah punya standara hidup kelas dunia dan karyanya sudah diapresiasi dengan lebih baik di belahan dunia lain di luar sana, tapi ia tidak menjadi seperti itu. Rambutnya tetap hitam, putri pertamanya tetap bernama Kirana dan tetap diajari bahasa Indonesia.
Karena menjadi bisa itu pilihan.

Inilah yang saya sebut MAU.

Bisa karena terbiasa juga sudah masuk kategori MAU, karena seseorang sudah memilih untuk MAU jadi bisa, makanya ia membiasakan dirinya. Ini butuh waktu, tapi waktu itu kan memang diberikan Tuhan untuk mengubah suatu negasi menjadi afirmasi, mengubah kata belum menjadi kata sudah. Merasa ketinggalan kereta karena membutuhkan waktu lebih lama dari yang lain? Apa masalahnya? Kalau kamu orang yang menghargai setiap pembelajaran dari suatu proses, saya kira kamu tidak akan terlalu menyukai hal-hal yang bersifat instan. Premature; you might call…

MAU ini juga yang menuntut effort psikologis paling besar. Banyak pemikiran dan pertimbangan yang harusnya kamu lalui untuk menjadi MAU. Makanya, secara religius, niat lah yang paling menentukan balasan Tuhan untuk setiap perbuatan. Karena niat itulah yang menjadi refleksi kualitas seorang kamu, kamu secara keseluruhan.
Walaupun kata MAU bisa berasal dari faktor eksternal, seperti terpaksa atau terpengaruh, tapi saya yakin, faktor eksternal ini tidak akan berhasil membuat kamu senang menyatakan kamu MAU.

Walaupun kamu tidak sadar betul, atau tidak mengerti bagaimana cara mendeskripisikannya, tapi perasaan “Somehow, I just feel that…there is something wrong” ini adalah indikator kuat akan kata MAU yang tidak merefleksikan kamu secara keseluruhan.
Di titik ini kamu butuh berhenti sesaat, otherwise…some parts of you will haunt your willingness with such a weird negation, forever; even if you are already done making this willingness comes real; not comes right.
Katakanlah kamu sudah bisa dan sudah mau. Next stage is…mampu.

Banyak orang yang menjadikan bisa dan mampu sebagai sinonim satu sama lain. Menurut saya tidak. Karena bisa, belum tentu mampu. Dan tidak seperti mau, mampu itu bukan pilihan. Mampu itu suatu hasil dari harmonisasi MAU dan REALITA. Dan manusia tidak bisa memilih realita. Manusia hanya bisa memilih untuk memperjuangkan suatu realita. Inilah yang menjadikan kata GAGAL ada di dunia.

Contoh simpel…ada seorang subjek yang begitu bertalenta. Bisa banyak hal, Mau banyak hal, semua melambung tinggi menjadi suatu mimpi yang luar biasa hebat. Bahkan tidak semua subjek bisa merancang mimpi seperti itu, atau mungkin…tidak semua mau.

Then, hold a second…ada dunia yang punya kendalinya sendiri. Ada dunia yang hanya menyediakan 24 jam sehari. Ada dunia yang menganut falsafahnya sendiri. Ada dunia yang menyeleksi kekuatan-kekuatannya sendiri. Dan ada kamu yang mendadak terhenti; terpengarah dengan ironi kata MAMPU. Mulai terpikir untuk mencari kambing hitam, padahal sebenarnya…sederhana saja,

Kamu dan dunia tidak MAMPU berharmoni.
Ya. Inilah fase saya saat ini. Fase yang terulang lagi. Saya terhenti. Kalau dulu saya memaksakan semuanya…awalnya saya mengira saya mampu memaksakan suatu harmoni, karena saya akhirnya mampu mewujudkan banyak hal besar. Tapi pada akhirnya, dan baru belakangan ini, saya menyadari bahwa saya memang tidak mampu karena ternyata saya harus membayar dengan beberapa kehilangan besar lainnya.
Saat saya harus memilih untuk mencukupi kemauan saya, menyisihkannya, menyimpannya ke dalam lemari ambisi saya, dan belajar untuk membesarkan hati.
Banyak bisa. Banyak mau. Tidak banyak mampu.
Mau apa lagi?

De Javu ini seperti memberikan kesempatan untuk saya membuktikan kalau saya adalah orang yang mampu belajar dari kesalahan hari kemarin. Saya tidak akan membiarkan diri saya menukar lagi ‘hal-hal yang saya sayang’ dengan bintang-bintang di atas sana. Saya tidak mau berkompetisi dengan ambisi sendiri. Kalau saya menang, yang kalah tetap saya juga. Yang merasakan hanya saya, yang akhirnya ditinggalkan juga hanya saya.Hhh..ini lelucon.
***
“Go get jealous with someone whom you think luckier than you, you just have no idea how they think the same way about you, too”

Rabu, 28 Desember 2011

Kanashimi Wo Yasashisa Ni [Little by Little]


Category:
Music
Genre:
Soundtracks
Artist:
Little by Little

sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
mayoinagarademo ii arukidashite
mou ikkai mou ikkai
dareka no kitai ni zutto kotae
homerarerunoga suki nano desuka?
naritai jibun wo surikaetemo
egao wa itsudemo suteki desuka?
hajimaridake yume mite okiru
sono saki nara itsuka jibun no ude de
souda daiji na mono wa itsumo
katachi no nai mono dake
te ni iretemo nakushitemo
kizukanumama
sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
mayoinagarademo ii arukidashite
mou ikkai mou ikkai
zurui otona wa deau tabi
atama gohashi na sekkyou dake
jibun wo sunao ni dasenaku natte
kizutsukinagara sugu ni togatte
atarashii kaze mikata ni tsukete
sagashite iinda itsuka aoi tori wo
souda daiji na mono wa itsumo
katachi no nai mono dake
te ni iretemo nakushitemo
kizukanumama
sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
mayoinagarademo ii arukidashite
namida no ato ni wa nazeka fukkireta
sora ni niji ga deru you ni shizen na koto
ame wa agatta
dakara daiji na mono wa itsumo
katachi no nai mono dake
te ni iretemo nakushitemo
kizukanumama
sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
kiminara kitto yareru shinjite ite
mou ikkai mou ikkai
mou ikkai mou iikai?
—————————————————
English Translation
——————-
turning sadness into kindeness
your uniqueness into strenght
it’s okay to get lost so begin walking
once again, once again
do you like to be praised by
answering everyone’s expectations?
will your smile always be beautiful
even if you hide your true self?
just dreaming the beginning then waking up
the continuation can be reached someday by myself
the most important thing is always
without any shape
even if you have it or lose it
you’ll never know
turning sadness into kindeness
your uniqueness into strenght
it’s okay to get lost so begin walking
once again, once again
unfair adults are always
giving lectures everytime we meet
being unable to show their true selves
they get grouchy as they get hurt
getting the new wind on your side
it’s now okay to search for the blue bird
the most important thing is always
without any shape
even if you have it or lose it
you’ll never know
turning sadness into kindeness
your uniqueness into strenght
it’s okay to get lost so begin walking
it’s natural like the rainbow
that somehow appears after tears
the rain stopped
so the most important thing is always
without any shape
even if you have it or lose it
you’ll never know
turning sadness into kindness
your uniqueness into strenght
believeing that you should be able to do it
once again, once again
once again, are you ready?
——————————————————
Satu lagi soundtrack Naruto yang kusuka…^^

Selasa, 20 Desember 2011

Kawan . .


Kawan…….
Ketika berkenalan menapaki jalan terjal kehidupan disana ada secercah harapan.
Sebuah harapan bercampur tantangan.Saat kita berlayar di hamparan samudera pembelajaran,di sana pula terdapat indahnya persahabatan.kadangkala kegersangan menerpa taman perjuangan,namun …seketika jambangan hati menjadi segar dan merekah tersirami air penyejuk dari telaga kearifan..
Teman….
Kegalauanpun pernah melanda,ketika suka duka dan emosi menggelitik jiwa,tetapi semua itu adalah bagian dari hiruk pikuk dan dinamika sekolah
Sahabat….
Terkadang keceriaan menyapa kita.ketika dunia remaja dipenuhi romantika,canda tawa,gita dan cinta,merona didalam dada,bahkan tersulam rajutan kisah kasih disekolah.
Saudara….
Pelayaran yang begitu jauh dan melelahkan dalam mengarungi samudera yang luas dan dalam Pada akhirnya tibalah di “pulau Tujuan” dan harus merapat di”dermaga perpisahan”


Jumat, 02 Desember 2011

Akhwat dan Ikhwan Sejati

Akhwat Sejati itu.......

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari kecantikan parasnya…
Tetapi dari kecantikan hati yang ada dibaliknya…


@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari bentuk tubuh yang mempesona…
Tetapi dari sejauh mana dia berhasil menutup tubuhnya…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari begitu banyaknya dia melakukan kebaikan…
Tetapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan itu…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya…
Tetapi dari apa yang sering mulutnya bicarakan…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari keahliannya berbicara…
Tetapi dari bagaimana caranya berbicara….

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian…
Tetapi dari sejauh mana dia mempertahankan kehormatannya…

Lari Dari Realita

Kau amati dirimu dari cermin
“Ya hari ini ku sempurna.”
bertemu manusia-manusia
yang kau pikir juga sempurna
.
kau takkan pernah tahu nasib manusia sekitarmu
karena kau s’lama ini hanya melihat jiwamu
hidup sempurnamu selalu berdiri yakin
di barisan terdepan pikiranmu
.
Kau terus berlari dari realita
mendorong orang tak bersalah
Kau takkan bisa merubah apapun
Karena tak ada hidup sempurna
.

Satu Persen

Dia adalah kawan, sahabat, serta teman hidup yang demikian saya hormati. Wawasan keilmuannya luas, tapi dia selalu mengerti bagaimana cara merendahkan hati dan menyuguhkan kenyamanan pada setiap orang di sekelilingnya. Kali ini, saya berkesempatan meletakkan tulisannya di sini, sungguh suatu kesempatan langka buat saya. Kami bersepakat bahwa saya berhak melakukan perubahan disana-sini apabila memang diperlukan. Maka, tanpa bermaksud mengurangi atau menambah esensi tulisan, ada beberapa perbaikan elementer yang dikenakan pada tulisan, atas nama pelestarian penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Selamat membaca dan menikmati setiap jengkal kejujurannya!



Kamis, 01 Desember 2011

Aku pasti Menikah !!

Sebuah motivasi untuk saudariku yg gelisah menunggu datangnya sang pujaan hati.

Dari Seorang Perempuan biasa: for everyone !

Aku akan menikah
Tahun ini juga
Meski belum ada tanda dariNya

Aku akan menikah
Bulan ini juga
Meski belum jelas kepastian dariNya

Pelangi Ukhuwah Bidadari

Saat aku terjatuh engkau senantiasa berusaha membuatku bangkit
Saat aku tersenyum, engkau pun tersenyum dengan indah
Saat aku bersedih, engkau senantiasa menghiburku
Dan saat aku melakukan kesalahan, engkau senantiasa menegurku…
Tidak mengenal waktu, tempat, kapan dan dimana
Engkau selalu siap siaga membantuku
Engkau selalu membantuku disaat aku kesulitan
Engkau selalu ada saat aku membutuhkanmu

Saat diri ini futur, dering smsmu di sepertiga malam menjadi obat penentram jiwa..
Saat salah satu hati benar2 membeku, kata ‘Assalamualaikum’ menjadi penyejuk hati, itu katamu..
Saat suatu masalah memuncak, saling diam ternyata membawa muhasabah diri..
Karena saling diam tidak selamanya menunjukkan kebencian..

Kekuatan Sebuah Janji

Ketika kita berjanji untuk lebih menguasai diri... itu baik,
Ketika kita menepati janji itu saat menghadapi berbagai ujian dan pencobaan...
itu jauh lebih baik.

Ketika kita berjanji untuk lebih lembut lagi dalam berkata-kata... itu baik,
Ketika kita menepati janji itu saat harus menjawab kata-kata makian yang pedas...
itu jauh lebih baik.

Ada Seseorang Yang selalu Menjagaku

 
Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika seorang wanita muda berpenampilan menarik dan cantik memakai tongkat putih menaiki tangga bus. Dia membayar kondektur bus,lalu dgn tangan meraba-raba kursi dia berjalan menyusuri lorong sampai menenukan kursi yg kosong. Kemudian dia duduk,meletakkan tasnya dipangkuannya, dan menyandarkan tongkat di tungkai kakinya.





Setahun sudah lewat sejak wanita buta itu, Susan, baru berumur 24 tahun didiagnosa kehilangan penglihatannya ketika suatu penyakit merenggut matanya. Dia merasa terlempar kedalam dunia yg gelap gulita,penuh amarah, frustasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri. Sebagai wanita karier yg biasa independen, Susan merasa dikutuk oleh nasib mengerikan yg membuatnya merasa kehilangan kemampuan, tak berdaya, dan menjadi beban bagi orang2 di sekelilingnya.