himpunan doa
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Desember 2012

DAN PERJUANGAN ITU BELUMLAH USAI




Dan perjuangan itu belumlah usai
Sudah bertahun-tahun, mungkin benak tak lagi menghitung
Ketika martir dan peluru adalah sarapan sehari-hari
Ketika pekik takbir adalah musik kehidupan kami
Ketika batu selaksa berharga... genggam erat,
lemparkan

Tapi perjuangan belumlah usai

Sudah berapa duka?
Tak terhitung. Tak kami hitung. Mungkin sudah jadi terlalu tegar.
Tanah ini tanah kami.
Sudah berapa luka?
Tak terasa. Tak kami rasa. Sebab perjuangan belum usai.

Maju. Maju. Maju.
Singkirkan takut. Percaya.
Allah bersama kita.
Genggam erat batu itu, lemparkan.

Intifadha!
Perjuangan belum usai.

Bahkan sejak sebelum kami ada di dunia
Hingga nanti...
Seadanya, ya. Seadanya.

Tapi kami rasa dengan berjuang ini kami kaya.
Terbuka lebar pintu menuju muara rindu...
Belum, belum usai.
Akan terus kami kepalkan tangan kami.
Kami pekikkan takbir kami.
Hanya satu ingin kami...

Hidup mulia,
Atau mati sebagai syuhada.


((in a memory of those intifadha children..))


-------------

ya, sampai sekarang perjuangan memang belum usai.
aku mencari beritaberitanya, kutemukan banyak kontradiksi.

ada pihak yang mengutuk, tapi bahkan ada pihak yang mendukung!

gaza in war. massacre. genocide. even holocaust. whatever is it.

tapi faktanya, sudah ratusan korban jatuh. luka-luka. hancurlebur. gedung pemerintahan, rumah warga sipil, universitas, rumah sakit, sekolah, semuanya. tapi mereka belum juga berhenti. sekalipun dunia sudah mengecam.

astaghfirullah...


((KHAIBAR-KHAIBAR YA YAHUD! JAISYU MUHAMMAD SAUFA YA'UD!!))

Ukhuwah kita...
Ayo eratkan! Demi saudara-saudara kita...

di PALESTINA...


------------


"Saat langit berwarna merah saga, dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru, terbang bersama teriakan takbir

Semua menjadi saksi, atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi, atas keteguhanmu

Ketika Yahudi-Yahudi membantaimu, merah berkesimbah di tanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu, membebaskan bumi jihad PALESTINA
Perjuangan telah kau bayar dengan jiwa
Syahid dalam cintaNYA..."

-- Merah Saga, Shoutul Harakah


ALLAHU AKBAR!!!

Senin, 16 April 2012

JANJI

Sungguh. Jangan menyepelekan janji. Janji terhadap manusia, juga terhadap Allah.
Jika janji itu disiakan, tidak ditunaikan, atau terlambat ditunaikan…
Mungkin….
Ada hak orang lain yang terebut
Ada waktu orang lain yang terbuang
Ada hati yang terluka
Ada perasaan yang kecewa
Aku tidak marah pada mereka yang menyiakan janji
Hanya berharap mereka mendapat hidayah dan memperbaiki dirinya
Aku juga sadar
Aku bukan orang sempurna
Yang tak pernah salah
Banyak salah kuperbuat
Dan Allah Maha Pemaaf dan Maha Penerima Taubat bukan?
Maka, maafkanlah dan do’akanlah mereka…

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.

كُلُّ بنِي آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak adam senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa bertaubat.”
  (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohihut Targhib, no. 3139)


Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya.Yaitu, jika diberi amanat dia khianat,jika berbicara dia dusta,jika berjanji dia mengingkari,dan jika berseteru dia berbuat kefajiran”.


(HR. Al-Bukhari no. 89 dan Muslim no. 58)

. . Tentang Perjalanan . .

Aku selalu rindu perjalanan karena di sana ada ruang sempit untuk menaksir jarak antara hatiku dan hatimu. Tak peduli kulalui dengan apa perjalanan itu; bus, pesawat, kereta, angkutan, taksi, becak, sepeda, bahkan dengan kakiku. Dan, saat ini aku sedang berpikir tentang perjalanan yang tak butuh media. Perjalanan dengan sayap. Perjalanan dengan keteguhan hati. Jadi, ayo pergilah bersamaku ke suatu tempat yang tidak membutuhkan jalanan untuk dipijak dan tak seorangpun tahu di mana kita akan mengakhiri perjalanan ini.

Kita akan menyaksikan langit-langit yang warnanya pudar dan hijau dedaunan yang menjelma jadi sephia. Kita akan menyusuri kios-kios di jalan-jalan sempit sepanjang kota impian atau terbang dari satu bintang ke bintang lainnya dengan mata terpejam.

Perjalanan, ke manapun itu akan selalu kumaknai sebagai sebuah rute panjang menuju hatimu, pulang, merumah selamanya di sana. Aku selalu berharap kamu menjemputku di terminal, di stasiun, di bandara, atau di mana pun itu, selama aku bisa menghambur ke pelukanmu setelahnya, menamatkan rindu terpanjang dalam hidupku.  Seperti hari ini, ketika aku hanya mampu duduk di balik kaca yang basah oleh hujan, memandangi kota kita yang diserbu kelabu. Tak ada kamu di bangku semen itu. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa berharap perjalanan ini adalah kepulangan.

Aku tak henti memikirkanmu dalam perjalanan ini. Aku tahu kamu akan menjemputku besok pagi, di terminal, di bandara, di stasiun atau di mana pun itu, berdiri di dekat bangku, memasukkan kedua tanganmu dalam saku jaket, dan tersenyum ketika kau dapati sosokku di kejauhan. Dan, entah kenapa senyumku mendadak pudar, buku kecil dalam genggaman tanganku sudah penuh goresan. Rasanya aku memang rindu. Rindu yang sepi. Padamu.

Bersanding Kepakan Di Bawah Senja
Aku rindu gelak manjamu yang merajut senyum ke buluh waktu.
Langkah ceriamu seperti sepasang kepakan yang mendendangkan angin berlalu.
Kapan kita dapat bersanding langkah kembali, senja tanpa jiwamu menjadi kehilangan arti.
Datanglah wahai beludru perduku, sebelum sinar terakhir menjadi kisah yang lalu.
Karena tanpamu, sepasang sayapku hanyalah kenangan berdebu.

*Sebuah sajak yang dipersembahkan untukku. Dari sahabatku Wuland. Terima kasih, Semoga tulisan ini bisa melengkapi sajakmu.

Kamis, 19 Januari 2012

. . . Dari sebuah kehilangan


All right,,

Sekarang saya lagi sedikit calming down myself,after having such a quite bold week..well, dimulai dari betapa ‘zoonk’nya saya akan akun, kuis statek  yang selalu ‘mencekam’ karena dosennya galak, dan fenomena adaptasi di lingkungan kampus STAN ini..

Accounting and “Oh My Gosh!”

Let’s skip about lectures…kuliah mah dijalanin aja,,bukan buat dicurhatin,,haha…

Okay…ada banyak poin yang menarik buat saya akhir – akhir ini. Sebenernya bukan hal yang so damn serious or touchy. Ini poin – poin yang akhirnya berhasil saya ‘underline’ dalam pikiran dan idealisme saya.

“People come and go. Things born and die.”

Ini sangat klise pada awalnya. Tapi setelah saya ngobrol sama beberapa orang, tentang sesuatu yang datang di kehidupan mereka dengan caranya masing – masing, menyerap tenaga kita untuk  put some attentions or even efforts, sampai akhirnya menampar kita keras saat sesuatu itu harus pergi.

‘Menampar’ disini bukan cuma berarti membuat kita feeling so suffered, merasa ditinggalkan, atau merasa kehilangan. Saat sesuatu itu pergi dan tepat setelahnya, kita ‘ditampar’ oleh unlimited regrets. Penyesalan; yang bahkan bisa membuat kita merasa lebih bodoh dari definisi bodoh yang selama ini kita ketahui. “Ini terlalu bodoh”. Dan bodoh disini bukan karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini harus pergi, tapi karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini pernah DATANG ke kehidupan kita.

“You will never know what you’ve got until you lose them all”

Ini juga klise…dan bisa jadi sangat betul. Tapi saya yakin, ada saatnya dimana kehilangan gak selalu membuat kita sadar kalau sesuatu yang berharga telah pergi, lalu rasanya seluruh dunia bilang,”See! I told you!”, dan akhirnya membuat kita merasa makin..dan makin BODOH untuk alasan yang emosional.
Gak selalu.
Coba kita ganti susunan kata – katanya…

“you will never know what you WILL GET after you lose them all”

Ini terdengar lebih positif buat saya.
Well okay, saya bukan orang yang maniak akan positive thinking. (come on, there are black and white, right and wrong, good and bad. Just be realistic!).
Tapi pada saat saya jatuh, saya gak mau merasa jatuh juga. I  mean, bukan berarti saya egois dan angkuh. People make mistakes. People fall. Dan saya pasti pernah jatuh. Tapi buat saya, being fallen means figure it out! Kalo jatuh, usaha buat kembali berdiri lagi…

Jadi saya lebih suka mendengar sesuatu yang menguatkan saya saat saya jatuh. Jujur, saya bukan orang yang menikmati berlama – lama dikasihani. My brain and my faith dominate more than a half of me. Then I’ve found that sentence mentioned above…

Saat dimana saya menyesali kenapa saya sampai membiarkan itu datang, dan akhirnya pergi saat saya udah terlalu membiarkan diri saya hablur dalam zona abu-abu, gak bisa lagi menilai perilaku saya sendiri karena suatu ketidaksadaran akan betapa tidak seharusnya saya jadi BODOH seperti ini.

Inilah contoh living proof akan subjek yang menyesal. SAYA  yang menyesal.

Dibantu dengan kalimat diatas tadi, saya mulai berusaha mencari sesuatu yang bisa menghentikan “what a fool you?! What did you do?! How could you?!” yang saya tujukan pada diri saya sendiri. It hurt a lot, knowing that you are so damn fool for letting this happened.

Lalu percakapan dengan beberapa teman di sekitar,,menguatkan saya.

*True! If you have problems, then share it with your trusted people…It helps! Even if you are a really and totally introvert people. Every people are to be helped.*

Dan fenomena di sekitar saya…Banyak yang kehilangan. Banyak yang sedih. Bahkan, banyak yang memutuskan untuk menangis…banyak perasaan yang sulit. Menyesal. Marah. Tidak Terima. Kecewa. Putus Asa. Kosong.

Tapi pada satu titik, mereka harus berhenti menjadi ‘feeler’- perasa – and star to be a thinker.
See! Look! Evaluate! and…figure it out!
Kita gak boleh membiarkan a boldness of suffering getting more suffered to be felt. Ini gak boleh terus berlanjut…back again, People fall. Tapi, kita juga gak boleh membiarkan sesuatu yang gak menyenangkan ini terjadi dan terlewati begitu aja.

Inget teori causa prima? Everything has its own reason why it’s exist.
Kenapa harus ‘hitam’..kenapa harus ‘putih’…kenapa harus ‘benar’…harus ‘salah’…harus ‘senang’…atau ‘sedih’..
Kenapa…kenapa…dan kenapa…

Dan itulah yang hanya akan bisa dijawab oleh para ‘thinker’…sementara para ‘feeler’ masih terus mempertanyakan perasaannya sendiri…’gimana ini? Kok jadi kayak gini?’ Dan sebagainya…

Disinilah saya  menyimpulkan sesuatu.

“Losing doesn’t always mean bad. Because it will always give you something..A LEARN”
Dan saya belajar banyak dari kehilangan…yang jauuuh lebih mendewasakan dari saat saya  menghadapi suatu keberhasilan. Merelakan sesuatu itu pergi, ‘menangis’ sebentar di hati, lalu…menjadikannya suatu pelajaran agar suatu saat nanti,,,jangan sampai kehilangan lagi. Atau setidaknya, jangan sampai hilang karena kesalahan yang sama…People do fall, but not to be repeated.

Dari sini juga,,,saya belajar untuk tidak membenci apa yang hilang tadi, tanpa harus memaksakan diri untuk kembali memandangnya sebagai sesuatu yang putih lagi. Ini hak saya untuk memberikan penilaian. Dan saya memilih untuk tidak menilai BENCI. Kalau memang harus pergi, saya hanya bisa bilang “well..thanks for everything. Good luck for us and see you; perhaps…next time”

…..
“People come and go. Things born and die. Either Success or Failure, they will be nothing more than a part of our memories. The point is just how you learn from what you’ve been through”
*these are the pendings words, which had been postponed for couple of time*

Rabu, 04 Januari 2012

Saat penciptaan ibu…

Bismillah..
Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. Kini giliran diciptakan para ibu.
Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut,
“Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?”
dan Tuhan menjawab pelan,
“Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan? Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik. Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai. Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya. Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukkan hati anaknya. Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah dan Enam pasang tangan! “
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasang tangan?”
“Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik” balas Tuhan.
“Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.”
“Bagaimana modelnya?” Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk- angguk.
“Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya: ‘Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?’, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.”
“Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: ‘Saya mengerti dan saya sayang padamu’ Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.”
“Tuhan”, kata malaikat itu lagi, “Istirahatlah”
“Saya tidak bisa, Saya sudah hampir selesai.”
“Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit. Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging. Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi.”
Akhirnya Malaikat membalik-balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat”, kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita.”
“Apakah ia dapat berpikir?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi.
“Eh, ada kebocoran disini”
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan.
“Itu adalah air mata. Air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata, airmata….”
Sudahkah Anda mengucap syukur karena Anda mempunyai ibu yang luar biasa ?