himpunan doa

Sabtu, 22 Desember 2012

Empat Pekerjaan Paling Sulit

Dari Sayyidina Ali RA, sesungguhnya pekerjaan yang paling sulit dilakukan ada empat: (yaitu) memberi maaf ketika marah, bersikap dermawan ketika dalam kesusahan, bersikap ksatria ketika sedang sendirian, dan berkata benar kepada orang yang ditakuti atau disayangi.

Kualitas kepribadian seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana ia konsisten berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran, bahkan ketika berada dalam situasi sulit, rumit, dan dilematis sekalipun. Tak ada alasan bagi seorang muslim untuk menghindar dari situasi itu, selagi mampu membuatnya menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.

Setidaknya, ada empat pekerjaan yang paling sulit dilakukan, seperti dijelaskan dalam riwayat dari Sayyidina Ali RA di atas. Empat pekerjaan sulit itu, sejatinya menjadi tolak ukur kualitas keimanan seseorang. Seorang muslim yang mampu melakukannya dengan baik, sesungguhnya ia dapat dikategorikan sebagai muslim dengan tingkat keimanan sangat tinggi. Demikian sebaliknya.
Berikut ini uraiannya :

Memberi Maaf Ketika Marah

Dalam situasi normal, memberi maaf mudah dilakukan. Tapi, ketika kita sedang dipuncak amarah, alih-alih mau memberi maaf, malah bisa jadi sebaliknya melakukan balas dendam.
Setelah menumpahkan kemarahan, biasanya batin terasa terobati. Kita merasa senang, menang. Padahal, itu hanya sementara, dan perasaan yang datang kemudian justru sebaliknya. Kita selalu akan dihantui rasa bersalah, atau merasa diri kita lebih buruk dari sebelumnya. Disadari atau tidak, tindakan balas dendam, sesungguhnya bertentangan dengan hati nurani.

Bagi muslim sejati, ikhlas memberi maaf akan dilakukan dalam situasi dan kondisi apapun. Tak terkecuali ketika sedang marah. Walau bagi sebagian orang tindakan memaafkan terasa menyesakkan dada, tapi seorang muslim harus menyadari bahwa memberi maaf, apalagi dilakukan ketika sedang marah, akan mempercepat proses turunnya rahmat dan ampunan Allah yang bermuara pada ketenangan batin.

Bahkan, Allah menjanjikan hadiah khusus berupa bidadari jelita di surga bagi orang yang mau memberi maaf ketika marah. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menahan marahnya, padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka Allah kelak akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan segala makhluk hingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya.” (HR. Tirmidzi)
Selain meraih pahala, memberi maaf dapat menjadi obat mujarab untuk mengobati penyakit psikologis. Memberi maaf bisa membebaskan diri kita dari rasa marah, depresi, kesal, bahkan bisa mendongkrak rasa percaya diri. Juga, kita tidak akan mudah terjebak pada lingkaran dendam yang berkepanjangan. Inilah sesungguhnya modal utama untuk mencapai hidup bahagia, harmonis, dan tentram.

Kemampuan memberi maaf menjadi pertanda ”keberanian” seorang muslim untuk mempererat ikatan ukhuwah islamiyah. Sekaligus ”keberanian” untuk mengakui kelemahan dan kealpaan diri. Patut diingat, keberanian seseorang bukan diukur dari keberaniannya untuk berkelahi, tapi ditentukan oleh kemampuan mengendalikan diri dan memberi maaf ketika sedang marah.
Memberi maaf sejatinya juga adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri, sekaligus menjadi modal penting bagi terciptanya kedamaian sosial.

Dermawan Saat Kesusahan

Sikap dermawan bisa diartikan sebagai sikap murah hati. Sikap ini muncul sebagai panggilan nurani seseorang saat melihat orang lain berada dalam kondisi butuh pertolongan. Ketika seorang tetangga tiba-tiba jatuh miskin atau terkena penyakit kronis misalnya, seorang dermawan sejati akan refleks terketuk hati turut membantu meringankan beban tetangganya itu.

Masalahnya, bagaimana kalau tetangga yang tertimpa musibah itu musuh atau orang yang secara ideologis berseberangan dengan kita? Tetapkah kita membantu atau membiarkannya dalam nestapa? Kalau kita sampai bersikukuh tidak membantunya karena berbagai alasan, maka saat itu pula kita mesti melepas gelar kedermawan, atau paling tidak mempertanyakan motif kedermawanan kita.
Seorang dermawan sejati, tak akan pernah memandang ”status” objek yang akan dibantunya. Karena kedermawanan murni untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, bukan kepentingan tertentu, apalagi didasari unsur riya`. Ingin pamer kekayaan

Memang, sulit rasanya mendermakan harta kepada seseorang yang menjadi ”musuh” kita. Tapi, kalau itu dilakukan, dan dibarengi rasa ikhlas untuk membantu, insyâ`allâh pintu hati musuh kita akan Allah buka dan akhirnya ia akan menjadi ”teman baik” yang loyal kepada kita selamanya.

Perlu kita mencermati riwayat berikut ini: Suatu ketika Abu Qatadah datang menagih utang kepada Abdullah yang selalu berusaha menghindar, namun akhirnya bertemu juga. Abdullah lantas mengaku, ”Aku benar-benar dalam keadaan yang sangat sulit.” ”Kamu mau bersumpah?” balas Abu Qatadah. Abdullah menjawab, ”Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa ingin Allah bebas dari huru-hara hari Kiamat, maka hendaklah ia melapangkan orang yang dalam kesempitan atau memaafkan (tidak menagih piutangnya).” (HR. Muslim)
Jelaslah, harta kekayaan yang mengalir dari sikap kedermawan, sungguh akan menjadi perisai dan payung pengaman kiya yang akan melindungi dari huru-hara alam akhirat kelak.

Ksatria Saat Sendiri

Bersikap ksatria ketika sedang sendirian, artinya bagaimana kita jujur kepada diri sendiri, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan yang terpenting, merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi gerak-gerik kita.
Sikap ini sungguh sangat sulit dilakukan. Apalagi bagi remaja yang tengah puber, atau mereka yang selalu ”ragu” bahwa Allah hadir di lubuk hatinya.
Perlu disadari, ketika kita sendirian, sebetulnya kita tengah ditemani seorang kawan bernama setan. Ia akan membisiki hati kecil kita agar melakukan maksiat. Tanpa iman yang kuat, kita akan mudah terbuai bujuk rayu setan, yang akan menjerumuskan kita pada lubang maksiat. Ia akan menggunakan segala taktik licik untuk memperdayai kita, dan tak akan pernah mundur sampai berhasil menaklukkan kita.
Di sinilah penting upaya memperbanyak dzikrullâh ketika sedang sendirian. Biasakan membaca tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr, dan shalawat, agar hati senantiasa ”hidup” dan “nyambung” dengan Allah. Inilah syarat pertama agar Allah senantiasa melindungi kita. Jika dzikrullâh sudah menjadi ”jiwa” kita, tak perlu lagi ada kekhawatiran kita akan terjebak pada perbuatan maksiat, sekalipun ketika sedang sendirian.
Agar kesendirian berbuah pahala dari Allah, penting mengisinya dengan hal-hal produktif, seperti beribadah, belajar, dan aktivitas pribadi lainnya. Di luar itu, kita perlu waspada bahwa waktu kosong dan kesendirian senantiasa menyimpan ”bom waktu” yang siap meledakkan kepribadian kita.

Berkata Benar kepada Siapapun

Berkata benar tak semudah membalik tangan, apalagi jika perkataan itu ditujukan kepada orang yang paling kita takuti atau sayangi. Terutama kepada orang yang kita khawwatir akan terganggu atau tidak berkenan dengan perkataan itu.
Perkataan benar sering menimbulkan efek negatif bagi kita. Ancaman dinonaktifkan dari jabatan bahkan di-PHK, akan kita hadapi jika direktur atau manajer perusahaan tersinggung dengan perkataan benar yang kita sampaikan. Karena mereka bisa merusak reputasinya.
Kehilangan kasih-sayang jika perkataan benar yang kita ucapkan tak berkenan di hati orang yang kita sayangi juga harus kita tanggung. Bahkan, tak mustahil, orang yang kita cintai akan berubah menjadi memusuhi kita.
Tapi, apapun, perkataan benar harus tetap diucapkan, walau terasa pahit. Tak masalah orang di sekitar tidak menyangi atau bahkan memusuhi kita, yang penting Allah tetap menyayangi. Apa artinya sekuntum kasih sayang seseorang apabila itu justru membuat Allah murka kepada kita.
Agar perkataan benar itu bisa diterima dengan lapang dada, penting kita memahami cara menyampaikannya dengan lemah lembut. Upayakan agar orang yang ditakuti atau kita sayangi tak merasa ”diceramahi” dengan perkataan benar itu. Insyâ`allâh mereka akan ikhlas menerima.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

    Keep Hamasah ^_^



    Semenjak terjaga dari pukul setengah dua pagi tadi, sudah ada rindu yang menggelitik…
    karena membaca:

    Zhizhie :  Uy.. Proposal ada yang bisa dibantu? #hhe #keluar jalur
    Nurul Fajri  ‎@teh zhie2: udah di print teh, teteh mau liat?
    Arina Sofie : Eh ikutan oot. Alhamdulillah, udh di print? Asik ciecie^^
    Arina Sofie : Bsk bawaaaaaa …
    Nurul Fajri : iya! untung diingetin bawa, wkwkwk. Ciecie apaan eneng? lu biasa jadi sekertaris ge weeee -____-

    trus pas buka-buka fb lagi, menemukan…

    Relina Sofi
    December 18, 2012

    Baru saja 2  tahun yang lalu saya merasakan manisnya kenangan menjadi Koordinator Acara Bina Akhlak Remaja Muslim  dan sekarang diminta menjadi salah satu pengisi acaranya (sekarang namanya OASE), persis seperti yang saya bayangkan 2  tahun yang lalu. Alhamdulillah. InsyaAllah akan saya berikan yang terbaik, untuk 22 Januari nanti. :) Jadi kangen sama tim super waktu itu, Cc: Arianti ,Agus Ikhwan, Hanafi Mursalim, Arfintha Adyanti,Wulandari ahmad dll

    dan tibatiba… kangen. sungguh.
    akan semua kesibukan kebaikan menyenangkan di tahun2 lalu , dengan label :


    “ Karena diriku Muslim Berharga”


    Juga tentang banyak…

    tentang tiga surat mandat bertandatangan Ketum dan Sekretaris 1 DKM  Al-istiqomah  , yang –randomly– dipilih satu sehingga terpilihlah sang Kabid 3 OSIS Zeppelin sebagai Ketua Panitia, dan Ketua 2 KIR Semut sebagai Wakil Ketuanya…

    tentang salah ngomong “Iya, Nda, dibantuin kok…” yang berujung dengan tidak bisa menolak ketika diamanahi jadi Sekretaris 1—dan beberapa saat kemudian menyadari kalau Bendahara 1-nya ‘terjebak’ dalam kasus yang kurang-lebih-sama-juga…

    tentang Sekretaris 2—yang lagilagi—ikhwan, tapi alhamdulillahnya—lagilagi juga—dapat diandalkan :)

    tentang koor acara yang ‘spesial’ dipilih bersama BPH…, dan anggota-anggotaya yang special request sang koor acara dan askoornya…

    tentang syuro pertama BPH, jujur-jujuran mau bilang ke orang tua atau nggak tentang amanah yang harus dipegang sekarang…

    tentang surat mandat dan undangan rabes pertama yang semua tandatangannya asli—pegel luarbiasa, haha…

    tentang ‘dinasihati’ sama bapak koor acara di syuro koordinasi pertama acara-bph…

    tentang terkejutnya karena tempat dan konsumsi berat yang dananya melebihi 50juta…

    tentang dinasihati guru KTK  karena cabut pelajaran beliau demi demi nangkring di TU ngeprint surat—yang entah kenapa nggak bener-bener, heu…

    tentang jualan donat kentang  bersama dengan tim serdadu muslim…

    tentang survey yang sampai malam, dengan setumpuk print-out peraturan yang harus dicap—dan mau nggak mau harus dibawa pulang karena cap cuma ada
    satu…

    tentang syuro unik timsuper acara, di mana koornya duduk di koridor dan anggotanya hilirmudik laporan perkembangan jobdesk macemmacem disela-sela semua kesibukan mereka…

    tentang paniknya mencari PJ, tentang surat khusus untuk pelatihan PJ akhwat, tentang airmata sang co-PJ yang tetap tidak menyerah melaksanakan tugasnya…

    tentang logo yang unyu, baju panitia yang unyu juga walau denge rdenger sablonnya jadi mahal karena warnanya ada sembilan…

    tentang buku panduan ter-oke yang pernah saya lihat, kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya…

    tentang konsep outbond dengan permainan tank-manusia, tentang salah satu anggota tim super acara yang punya usul: “Gimana kalau itu buat jalan
    antarpos aja?” –well, usul yang cukup tidak mungkin, sebenarnya…

    tentang bertumpuk tumpuk berkas, surat salah ketik, fotokopi proposal, dan berbagai lainnya yang memenuhi salahsatu sudut kamar bahkan kasur rimba saya …
    tentang rundown A, AC, dan sebagainya…

    tentang pembicara-pembicara…

    tentang diskusi-diskusi kecil yang penuh makna…

    tentang try-out SIMAK UI di hari ketiga acara, yang benar-benar mereduksi panitia…

    tentang meng-gebruk-kan semua kerjaan ke Sekretaris 2 beberapa hari sebelum hari-H karena harus persiapan orientasi Jenesys…

    tentang harus meninggalkan acara—dengan tidak rela—karena harus datang orientasi….
    ..
    .
    tentang pikiran yang melayang-layang ke tempat lain selama orientasi…

    tentang ketika akhirnya mendapat koneksi internet, membuka Yahoo!Messenger, disapa seorang teman, dan langsung bertanya, “Gimana Acaranya -nya kemarin?”

    tentang dana yang membuat pusing sampai akhir…
    .
    tentang kabar-kabar baik yang datang kemudian…
    .
    dan yang terpenting:

    keyakinan bahwa suatu kebaikan yang diusahakan, akan menjadi pembuka pintu bagi kebaikan-kebaikan yang lain :)
    .
    .
    terima kasih banyak, untuk salahsatu kenangan yang tetap membuat saya yakin untuk berdiri dan menjalani banyak hal sampai sekarang :)
    .

    Mohon doa untuk OASE 2012 yaa ^^ dan bagi panitianya, HAMASAH! luruskan niat agar semua usaha kebaikannya dibalas oleh ALLAH dengan berlipatganda…

    DAN PERJUANGAN ITU BELUMLAH USAI




    Dan perjuangan itu belumlah usai
    Sudah bertahun-tahun, mungkin benak tak lagi menghitung
    Ketika martir dan peluru adalah sarapan sehari-hari
    Ketika pekik takbir adalah musik kehidupan kami
    Ketika batu selaksa berharga... genggam erat,
    lemparkan

    Tapi perjuangan belumlah usai

    Sudah berapa duka?
    Tak terhitung. Tak kami hitung. Mungkin sudah jadi terlalu tegar.
    Tanah ini tanah kami.
    Sudah berapa luka?
    Tak terasa. Tak kami rasa. Sebab perjuangan belum usai.

    Maju. Maju. Maju.
    Singkirkan takut. Percaya.
    Allah bersama kita.
    Genggam erat batu itu, lemparkan.

    Intifadha!
    Perjuangan belum usai.

    Bahkan sejak sebelum kami ada di dunia
    Hingga nanti...
    Seadanya, ya. Seadanya.

    Tapi kami rasa dengan berjuang ini kami kaya.
    Terbuka lebar pintu menuju muara rindu...
    Belum, belum usai.
    Akan terus kami kepalkan tangan kami.
    Kami pekikkan takbir kami.
    Hanya satu ingin kami...

    Hidup mulia,
    Atau mati sebagai syuhada.


    ((in a memory of those intifadha children..))


    -------------

    ya, sampai sekarang perjuangan memang belum usai.
    aku mencari beritaberitanya, kutemukan banyak kontradiksi.

    ada pihak yang mengutuk, tapi bahkan ada pihak yang mendukung!

    gaza in war. massacre. genocide. even holocaust. whatever is it.

    tapi faktanya, sudah ratusan korban jatuh. luka-luka. hancurlebur. gedung pemerintahan, rumah warga sipil, universitas, rumah sakit, sekolah, semuanya. tapi mereka belum juga berhenti. sekalipun dunia sudah mengecam.

    astaghfirullah...


    ((KHAIBAR-KHAIBAR YA YAHUD! JAISYU MUHAMMAD SAUFA YA'UD!!))

    Ukhuwah kita...
    Ayo eratkan! Demi saudara-saudara kita...

    di PALESTINA...


    ------------


    "Saat langit berwarna merah saga, dan kerikil perkasa berlarian
    Meluncur laksana puluhan peluru, terbang bersama teriakan takbir

    Semua menjadi saksi, atas langkah keberanianmu
    Kita juga menjadi saksi, atas keteguhanmu

    Ketika Yahudi-Yahudi membantaimu, merah berkesimbah di tanah airmu
    Mewangi harum genangan darahmu, membebaskan bumi jihad PALESTINA
    Perjuangan telah kau bayar dengan jiwa
    Syahid dalam cintaNYA..."

    -- Merah Saga, Shoutul Harakah


    ALLAHU AKBAR!!!

    Senin, 03 Desember 2012

    Meragu Jarak dan Waktu II

    Segalanya sedang berhenti pada ujung hening yang meletup-letup dan kita terjebak dalam perenungan riuh yang panjang.
    Aku sakit, kamu sakit, kita berdua sama-sama sakit. Tapi, aku hanya ingin jujur. Jujur padamu,
    jujur pada diriku sendiri bahwa secara perlahan-lahan hatiku tak lagi bergetar.


    Hari demi hari, aku semakin tak mampu menatap wajahmu. Hasratku susut entah sejak kapan dan aku sadar, kamu sungguh tidak layak didera.
    Kamu tidak seharusnya kusakiti dengan diam panjang—yang aku sendiri bahkan tak tahu sampai kapan perasaan asing ini singgah—karena aku menyayangimu utuh sejak dulu.
    Kamu satu-satunya yang memahamiku karena kita sama. Namun, rupanya aku butuh kemeriahan yang berbeda.
    Dan ketika kusadari aku tak lagi ‘jatuh’, aku menjadi sedemikian terluka. Tak mampu kurangkum semuanya. Sekali lagi, mengingat kamu tidak layak didera.

    Tapi, kebersamaan yang kupertahankan ternyata tidak mengobati apapun. Lama-lama aku takut kegelisahan itu bertumpuk seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Aku tidak memaksamu untuk mengerti semua ini—bahwa cinta tidak lagi sama—karena aku pun sama denganmu. Lepaskan, lepaskan saja. Biarkan pundakmu lebih ringan dari sebelumnya.

    Tak ada yang perlu kau takutkan. Ini tentang persoalan adaptasi dengan kehidupan baru. Kita hanya perlu keberanian dan penerimaan, bukan sangkalan-sangkalan yang hanya akan berbuah lelah tak bermuara. Kita perlu ruang untuk merenung.
    Kita perlu waktu untuk membaur dengan wacana-wacana yang terlewat dalam hubungan kita.
    Kita perlu jeda untuk kembali merindu, semoga.

    Meragu Jarak Dan Waktu I


    Aku baru saja masuk kamar ketika ponselku yang terselip diantara buku-buku berdering. Badanku letih sekali. Kuaduk-aduk tasku lalu kutemukan layar berkedip-kedip dengan foto timbul tenggelam. Hubby calling.

    Kupandangi lama sekali, sebelum akhirnya kuangkat.

    “Assalamualaikum..”

    Aku rebah di kasur. Mataku yang berat kupejamkan pelan-pelan.

    “Baru pulang ya?”

    “Iya..”

    Hening lama sekali.

    “Sudah makan?”

    “Sudah tadi sama teman”

    Lalu hening lagi, meski tak lebih lama dari sebelumnya.

    “Maaf, Sayang ”  Kata-kata maaf itu entah kenapa membuat aku sesak seketika.

    “Maafkan aku,kau tau bagaimana sifatku bukan ? aku gampang menjadi setan "

    Tambah sesak rasanya, tapi aku hanya ingin mendengarkan Ia  berbicara.

    “aku ragu dengan jarak dan waktu. Sayang tahu kan, aku pernah kecewa dengan dua hal itu. Aku tidak tahu harus memulai dari mana..”

    Sudut mataku meneteskan airmata yang leleh masuk ke telinga.

    “Iya.. Jangan dipaksakan.. Semampumu, sebisamu, sekuatmu. Aku tidak pernah memaksa” kataku.

    “Tapi sungguh, I wish you were here.”

    “Seperti yang selalu kita yakini hubby.. Jembatan itu pasti ada bila takdirku disana”

    “Aku tidak mau kehilangan kamu karena sikapku semalam ”

    “Tidak, Aku tidak pernah kemana-mana. Aku selalu disini.. “

    Seandainya aku bisa membuatmu jauh lebih bahagia, Hubby.

    Aku ingin.

    Aku selalu ingin.

    Seperti kamu juga selalu ingin membahagiakan aku.

    Tapi apa daya kita? Kita sudah mencobanya, dan tetap saja kita ragu pada jarak dan waktu yang merentang begitu panjang.Lalu apa?

    Aku telah menyerah ketika baraku padam beberapa hari lalu. Kamu membiarkan aku dibekukan jeda panjang yang kau buat untuk meyakinkan diri.

    Kamu membiarkan aku dilalap sepi dan dikelilingi ribuan tanda tanya yang tak pernah bisa kupahami.

    Hangatmu yang biasanya mendadak hilang karena keraguan.

    Bagaimana bisa aku tidak meragu? Ini bukan persoalan jarak dan waktu lagi.

    Semuanya telah berubah menjadi masalah keyakinan.

    “Baik-baik disana ya,.. Jaga kesehatan” kataku.

    “Sayang  juga ya,.. Aku kangen kamu”

    “Aku juga.. "

    Kudengar kamu tertawa kecil. Aku menghela nafas panjang untuk membebaskan sekumpulan harapan yang telah menjelma jadi sesal.


    “Sayang tidur ya,.. Sudah jam dua belas, ini jam tidurmu kan..jaga tahajudmu ya ”

    “Iya, ini sudah lima watt,.. Assalamualaikum..”

    “Wa’alaikumsalam”

    Klik!

    Kupandangi langit-langit kamarku yang lama-lama mengabur. Mungkin memang hubby tidak tahu bagaimana memperjuangkan aku. Tapi, lebih dari itu, barangkali akulah yang memang tidak bisa membangun jembatan itu sendiri. Karena, aku tak punya apa-apa. Semoga Tuhan berkenan memeberiku waktu.. untuk memperbaiki diriku agar pantas mendampingimu selalu ..

    • Kasma Maret Jarak dan waktu sebenarnya bukan masalah, jika satu sama lain menjaga kepercayaan.
      Aku telah merasakan bagaimana menjaga kepercayaan seorang lelaki pengecut

    • Citra Atfa Mufida Jarak dan waktu seolah tak bersekat jika saling memahami dan percaya...

    • Dewi Despani SEBENARNYA SANG AKHWAN BUKANLAH PENGECUT TAPI DIRINYA TDK PANDAI MENJAGA AMANAH,,,AMANAH CINTA YG UKHTI TITIPKAN PADANYA,,,,BIARLAH WAKTU YANG DAPAT MENJAWABNYA,,,BERIBU RIBU AKHWAN AMANAH,BAIK HATI DAN JUJUR DI DUNIA INI ,,CUMA SAJA ,ALLAH MASIH MENYIMPANNYA UNTUKMU,,,SABARLAH SANG UKHTI,,,,

    • Arfintha Adyanti Aku berusaha berdamai dengan kata "sebentar,sementara dan tidak pasti teh .. " Doakan.. semoga bisa segera terwujud dan tak lagi ada note2 galau seperti ini ya teh .. ^_^ to Kasma
       
    • Arfintha Adyanti Ya .. kami hanya perlu JEDA,untuk kembali merindu to Citra


    • Dewi Despani DIAM ADALAH SOLUSI TERBAIK UTK MEREDAM SEMUA GUNDAH DIHATI,,,RENUNGKAN SAJA,,,

    • Arfintha Adyanti ^_^ gag sanggup baca koment bunda Dewi ,, membingkai kembali memoriku saat bunda tetap berdiri tegak meski hatinya rapuh ... Aaah .. aku ingin seperti bunda .. T_T

    • Dewi Despani yA SAYANG,,,KERAPUHAN YG ADA DI HATI BUKANLAH SUATU HAL YG HARUS DITAMPAKKAN SBB BERUSAHA TEGAR DIHADAPAN SIAPAPUN WALAU HANYA SEBUAH TOPENG

    • Arfintha Adyanti penge peluuuuuuuk .... T_T

    • Bintang Bersinar ku tak tHU.... betapa rapuhnya aku.... masih terasa luka dimasa lalu, kupernah mencintai setulus hati..... dan kuterluka luka membekas, ............." lagu tu mb fin. " masih ada pangeran cinta yang lain

    • Dewi Despani sayang ani n finta,,pangeran di dunia ni sangat banyak cuma kita yg enggan mencarinya,,sbb biar Allah saja yg mendekatkannya ,,,

    • Bintang Bersinar Biasanya antara dua ciri - ciri klo da jodoh.... apalagi mau merried,.... klo ng putus..... y itu.... bakal bersatu.... merenungkan jalan yang kan membawaku pergi,,,,,, pergi pergi menjauh pergi..... kumenangis kau tersenyum....., bayangkan kuhilang.... hilang tak kembali " CAKrA

    • Arfintha Adyanti kenapa ya.. jadi suka denger lagu " if tomorrow never comes " hahahah galau stadium tingkat akhir kayaknya aku nih

    Senin, 16 April 2012

    PURSUIT of HAPPYNESS

    “Happyness is the meaning and purpose of life, the whole aim and end of human existence”
    - Aristotle -

    Ketika mulai memikirkan apa yang akan saya tulis saat harus menyelesaikan tugas membuat essai tentang tujuan hidup ini saya belum mendapatkan ide apa pun yang cemerlang. Browsing sana-sini, ngubek-ubek situs-situs motivasi, tapi belum juga saya temukan ide itu.

    Betapa sulit ternyata “hanya” untuk memulai menuliskan satu dua kalimat inti apa tujuan hidup kita sebenarnya. Padahal tak jarang dari kita mungkin suatu ketika dihadapkan pada pertanyaan “ Apa tujuan hidup Anda ?” atau mungkin “Apa sih kamu cari di dunia ini” atau “Apa yang ingin kamu capai dalam hidupmu?” .

    Pertanyaan-pertanyaan yang sedikit banyak membuat kita berpikir kembali, merenungkan dan mencari jawabannya dalam hati kita. Ya, tujuan hidup kita. Mengejar kehidupan yang nyaman, kehidupan duniawi yang serba nyaman , hanya memilih hidup dalam kesederhanaan atau hidup dalam penghambaan diri kepada Sang Pencipta. Mungkin itu hanya beberapa alternatif yang dipilih . Masih banyak, tak terhitung jumlahnya, sebanyak populasi manusia itu sendiri mungkin jawaban atas pertanyaan tersebut.

    Lalu, apa tujuan hidup kita sebenarnya? Berpikir. Memutar otak, membuka kembali ingatan, mencari-cari di dalam memori hal-hal yang inspiratif. Nihil. Saya malah membuka folder film, berharap ada yang bisa ditonton dan mendapat inspirasi. Tiba-tiba saya teringat satu judul film yang sangat saya favoritkan. The most touching and inspiring movie ever, I think.

    Film yang bercerita tentang perjuangan seorang manusia mengejar tujuan hidupnya. Cerita film ini berfokus pada seorang kulit hitam, Chris Gardner (Will Smith) dalam usahanya meraih kebahagiaan, sebuah perjuangan panjang yang harus ia tempuh demi membahagiakan keluarganya. Sebenarnya saya sudah menonton beberapa kali, tapi entah, seperti tak ada bosannya saya menyimak kisah yang menyentuh ini, tentang perjuangan mencapai tujuan hidup manusia, meraih kebahagiaan.

    Dalam film tersebut dikutip sebuah kalimat dari “ United States Declaration of Independence “ pada second sentence “ A sweeping Statement of Human Rights “ yang berisi :

    “We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by Creator with certain unalienable Rights, that among these are LIFE, LIBERTY AND THE PURSUIT OF HAPPYNESS”
    …Ada kata yang sangat menarik di sini, yaitu “Pursuit of Happyness”. Mengapa Thomas Jefferson (Author) menulis “Pursuit of Happyness”, bukan “Happy” atau “To be Happy”. Sebuah pemilihan kata yang menurut saya mempunyai arti tersirat. Sebuah pesan coba disampaikan oleh Thomas Jefferson melalui kata tersebut, pesan yang jika kita cermati akan bermakna sangat luas dan mendalam. Pesan itu pula lah yang ingin Chris Gardner terjemahkan dalam film The Pursuit of Happyness ini, film yang dilatarbelakangi kisah nyata.

    Berkisah tentang seorang sales alat kesehatan, Chris berjuang untuk menghidupi keluarganya, seorang istri dan seorang anak laki-laki yang masih kecil. Karena penghasilan yang sangat pas-pasan, dan tekanan ekonomi yang stressful, sang istri terpaksa meninggalkannya. Alhasil, dia sendiri lah yang harus membesarkan anaknya.

    Pekerjaan sebagai agen penjualan tak mencukupi kebutuhan. Ia pun melamar untuk bekerja sebagai broker. Magang selama enam bulan dan tidak mendapatkan bayaran sepeserpun merupakan masa-masa yang sangat menyentuh dalam cerita ini. Bagaimana ia pontang-panting mencari sekedar tempat berteduh untuk anaknya, mulai tempat penampungan tuna wisma hingga toilet umum stasiun kereta api.

    Dan masih banyak kisah-kisah perjuangannya yang membuat kita meneteskan air mata haru. Hingga akhirnya, dengan segala jerih payahnya Chris berhasil masuk sebagai pegawai tetap di perusahaan pialang tersebut, dan mulai menapaki sisi kehidupan yang membaik, hingga akhirnya ia menjadi broker terkenal yang memiliki kekayaan fantastik.

    Chris Gardner mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya. Kebahagiaan akan kita dapatkan, jika kita mau berusaha, dan kita harus bekerja keras serta pantang menyerah untuk mencapai kebahagiaan atau tujuan hidup kita tersebut. Kebahagiaan tidak akan kita dapatkan dengan hanya duduk berdiam diri dan berpangku tangan. Kebahagiaan itu harus kita kejar atau raih. Seperti kalimat Tuhan yang mengatakan “Tuhan tidak akan merubah nasib umatnya, jika umatnya tersebut tidak berusaha untuk mencoba merubah nasibnya sendiri” dengan berusaha dan berikhtiar tentunya…

    Mencoba meraih kebahagiaan sebagai tujuan hidup adalah sesuatu yang sebenarnya kita lakukan setiap hari. Bekerja keras, berangkat pagi pulang larut malam. Semuanya pasti punya tujuan yang hendak dicapai. Pula, setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sangat beragam, dan setiap orang pasti juga mempunyai pendapat yang beragam tentang definisi kata kebahagiaan itu sendiri. Dengan bekerja dan mencari nafkah, maka itu adalah salah satu jalan kita untuk meraih tujuan hidup atau kebahagiaan kita masing-masing…Banyak dari kita, mungkin bekerja tidak sesuai dengan kegemaran kita. Banyak orang yang bercita-cita menjadi dokter akan tetapi berkecimpung di bidang mesin, tidak sedikit pula orang yang ingin menjadi tentara akan tetapi pada akhirnya bekerja sebagai jurnalis, dan banyak sarjana ekonomi yang harus berkarir di bidang komputer, dan sebagainya. Akan tetapi semua itu tidak akan menghalangi kita untuk mencapai tujuan hidup kita, yaitu meraih kebahagiaan…

    Sebagai manusia kita wajib untuk terus berusaha dan pantang menyerah untuk mencapai tujuan hidup kita, apapun kendalanya. Apapun profesi kita, pada suatu waktu mungkin kita akan terbentur pada sebuah batu karang yang kokoh, sehingga perasaan menyerah terkadang menyeruak dalam benak kita…Saat-saat ini, saat yang tepat bagi saya pribadi, untuk memulai kembali perjuangan itu. Perjuangan mencari ilmu, perjuangan meraih masa depan yang lebih baik, serta perjuangan untuk mencapai tujuan menjalani tugas belajar ini. Harus sukses dan ingin membahagiakan orang-orang di sekeliling kita yang senantiasa mendukung, mengasihi, mencintai, dan menjaga kita melalui doa-doa mereka.

    Maka haruslah saya katakan pada diri saya sendiri untuk memulai dari sekarang untuk terus berlari mengejar kebahagiaan, jangan pernah berhenti, jika terjatuh bangkit lagi seperti saat dulu masih kanak-kanak dan balajar berjalan. Kita tidak pernah berhenti belajar berjalan walaupun sering jatuh bangun saat belajar berjalan. Bukankah kita pernah mengalami keberhasilan di masa kanak-kanak dulu. Terus berusaha hingga sukses meraih apa yang kita impikan.

    Dengan demikian saya sadari, bahwa apa yang saya hadapi saat ini, adalah salah satu jalan saya untuk meraih kebahagiaan saya, atau “To Pursue My Happyness”…So.. saya katakan sekali lagi pada diri sendiri Jangan pernah menyerah !! Berjuanglah meraih tujuan hidupmu, raihlah kesuksesan itu, because success is your right !!!Karena sebagai manusia, Kita berhak untuk “Hidup”, Berhak untuk “Bebas” dan berhak untuk “Meraih Kebahagiaan”…

    Ganbatte ^_^

    Ketidaksamaan Segitiga

    Jika kita punya dua titik terpisah satu sama lain, maka jarak tempuh terdekat dari satu titik menuju titik lainnya adalah dengan menarik garis lurus diantara keduanya. Sedangkan kita semua pasti tahu, bahwa semakin pendek jarak tempuh, maka akan semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir, titik tujuan yang kita inginkan.

    Bayangkan, jika ada dua kendaraan diletakkan di posisi awal yang sama, lalu para pengemudi diinstruksikan untuk memacu kendaraan masing-masing dengan kecepatan yang sama, menuju pos pemberhentian yang sama pula, namun diharuskan menempuh jalur berbeda, misalkan satu jalur merupakan garis lurus dan jalur lainnya memiliki beberapa belokan dan tikungan tajam. Nenek-nenek galau pun juga akan mampu memastikan, bahwa mobil dengan jalur lurus akan tiba lebih dahulu di titik pemberhentian terakhir.

    Kunci lekas sampai adalah, tetaplah berjalan pada garis lurus. Itu saja.
    Saya ingin meminjam kaidah ketaksamaan segitiga yang sering digunakan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan matematis, bahwa jika ada tiga titik berbeda, A, B, dan C yang tak segaris, maka secara sederhana, garis (AC) akan selalu kurang dari atau sama dengan garis (AB + BC). Artinya, untuk mencapai Surabaya, dari Bandung, kita tak perlu iseng melewati Pontianak lebih dulu, berlayar dua kali, baru kemudian berlabuh di Tanjung Perak. Kecuali, kita sedang mengalami gangguan rasionalitas pikir atau sial tertipu oleh persekongkolan kejam antara masinis kereta dan nakhoda kapal.

    Namun tampaknya, hidup tak sesederhana ketaksamaan segitiga.

    Andaikan saja dua titik yang saya sebutkan di awal tulisan dikonversikan pada ‘satuan momentum awal dan akhir kehidupan’ maka saya sudah tidak mampu lagi menjelaskan secara presisi, garis macam apa yang telah saya bentangkan selama ini, diantara kedua titik tadi. Beberapa hari lalu, disuatu malam, ketika saya berkesempatan merunut kembali setiap fase hidup yang telah dilewati, akhirnya saya sadar, telah ‘ratusan’ belokan dan ‘puluhan’ tikungan tajam yang sengaja atau tak sengaja dilintasi. Benar bahwa saya turut ‘berkendara’ bersama mereka lainnya, tapi seringkali tiba-tiba tuas kemudi terdistraksi oleh persimpangan yang tiba-tiba muncul ditengah perjalanan. Saya pun lebih sering terpancing untuk berbelok, menikmati ruas jalan lainnya, sementara yang lain istiqomah, lurus-lurus saja.

    Memang, memisalkan akhir kehidupan sebagai titik tujuan akhir saya, meskipun tepat, kelihatannya terlalu muluk dan memberi kesan sok religius. Saya seolah bagai biksuni atau ustadzah yang selalu baik dan benar serta terhindar dari perbuatan tercela, seperti ngupil di sembarang tempat, contohnya. Baiklah, karena saya bukan mereka yang tidak pernah sepakat bahwa Irfan Bachdim lumayan tampan dan facebook dan atau twitter-an itu penting, maka ijinkan saya membuat pemisalan lainnya.

    Saya belum tahu persis bagaimana kira-kira wajah titik akhir saya. Jadi mari sedikit menapaktilasi jalan di belakang saya saja, yang cukup seru, kontroversial, dan menegangkan.

    Selepas SMA, seperti kebanyakan sebaya lainnya, saya pun berkuliah, menjadi mahasiswi. Saya memulainya pada usia hampir 18 tahun, menuntaskan D1 saya di usia 19 tahun.Kalian boleh membayangkan betapa banyak belokan yang saya lewati selama satu tahun itu. Saya berbelok, bahkan kadang hanya memutar. Kekurangan bahan bakar. Berasap, kehabisan air aki. Lalu sesekali tersesat, salah jalan. Destinasi pun terasa semakin jauh.

    Ketika sebagian besar teman-teman, kawan akrab saya telah berhasil menamatkan studinya dan bertahta bangga di panggung penasbihan bersama para guru besar dan petinggi kampus,saya justru mendedikasikan diri pada puluhan rapat koordinasi antar komunitas atau organisasi yang lebih mirip oposisi frontal rektorat daripada rekan bertukar ide dan saran. Saat kawan saya berusaha menemukan cara mudah memahami mata kuliah PPh, subjek pajak & Pengertian subjek dari PPh,Objek pajak umum dan khusus, saya dan kawan lain yang bersudut pandang sama malah bersemangat empat lima berdiskusi spontan, menyusun strategi lanjutan dari A hingga Z, demi menawar kebijakan otoriter kampus. Saat kebanyakan dari mereka duduk manis menyimak ceramah perkuliahan keramat, saya lebih memilih melewatkannya, duduk bercengkerama santai di teras himpunan bersama kawan dari berbagai angkatan, memproyeksikan sistem kaderisasi internal yang kami anggap semakin carut-marut dan terlindas kultur akademis karbitan yang meraksasa dan hiperbola. Saat mereka mengakrabi para dosen untuk sedikit menghisap ilmunya, saya lebih nyaman bercanda dengan para pedagang makanan di kantin yang kerap galau menanyakan peluang mereka untuk tetap dapat menghuni ladang nafkahnya setelah para pejabat rektorat giat menjamahi titik-titik strategis yang telah terlanjur mendapat tempat di hati para mahasiswa. Kami bercanda tentang apa saja, termasuk iseng memberi nama alias untuk setiap tokoh antagonis birokrat, supaya kami bebas membicarakan mereka tanpa harus melirihkan suara. Kawan-kawan saya di kelas sedang melotot serius, sedangkan saya santai-santai saja, tertawa-tawa.

    Mereka berangkat ditemani matahari yang masih segar, lalu kembali beristirahat pulang ketika senja mengendap datang. Aktivitas saya, seringkali malah berada pada rentang waktu yang berkebalikan.

    Tapi bagaimanapun, bagi saya, tidak ada yang salah dengan jalan mereka, juga dengan jalan saya. Destinasi kami pun sepertinya sama, hanya saja entah mengapa kendaraan saya terkadang lebih menyukai jalur berkelok dan sering melupakan resiko semakin memuainya waktu tempuh. Memang, saat kondisi jiwa sedang kurang ‘sehat’, perasaan inferior muncul tiba-tiba dengan menganggap nyinyir diri sendiri bahwa saya masih berada jauh di belakang mereka, bahwa ketika teman-teman saya telah menjelma menjadi ibu-ibu penekun karir ibukota atau juru ganti popok bagi putra-putrinya, saya masih saja sibuk menyusun kata pengantar Tugas Akhir. Kabar baiknya adalah, seluruh komponen kejiwaan saya cukup jarang terjangkit penyakit yang merepotkan. Saya beranggapan, tidak pernah ada konsep jarak pada hidup sesungguhnya. Kejam rasanya ketika kita menyebutkan bahwa si ini sedang berposisi di belakang si itu, si Fulan telah mendahului si Bondan, atau beragam justifikasi posisi lainnya. Bukankah kita ini adalah para individu unik dengan titik destinasi yang bisa jadi sama namun cenderung memiliki beribu cara yang berbeda? Kita mungkin memang sedang berkendara bersama-sama, tapi tampaknya kita tidak sedang beradu kecepatan lalu mendasarkan keberhasilan pada seberapa sering kita mendahului kendaraan lain dan seberapa cepat kita sampai di garis finish. Tidak, hidup akan terasa demikian tergesa jika kita menjalaninya dengan cara seperti itu.

    Hingga kini, saya masih sangat menikmati jalur yang telah  dan akan saya lalui. Sepanjang perjalanan, saya terus belajar bagaimana saling berbagi dan memaklumi bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun, ketika mendadak harus kekurangan bahan bakar atau kehabisan air aki. Saya menyadari sepenuhnya kebodohan diri sendiri ketika ternyata kendaraan saya hanya berputar tanpa kejelasan. Saya belajar menemukan titik balik, mempercayai intuisi, lalu berusaha kembali menuju destinasi. Kadang saya bosan dan kelelahan, tapi tidak akan ada yang mampu mengalahkan kepuasan ketika ada sesuatu berharga yang ditemukan secara sadar dalam satu rentang perjalanan.

    Ada konsep solusi kuadrat terkecil, berakar dari konsep ketaksamaan segitiga, untuk mendapatkan solusi optimal dari suatu permasalahan model matematis. Tapi hidup, sepertinya bukan lagi sekedar model matematis yang dapat sedemikian rupa disederhanakan dan diasumsikan kondisi awalnya. Hidup, mungkin akan lebih memberi arti jika kita bersedia memperlakukannya dengan cara-cara manusiawi.


    Arfintha Adyanti
    Program Diploma III Spesialisasi Pajak – Kurikulum Khusus.
    Kelas II B / 32. NPM 103020008261.

    Barter Politik Sebagai Laboratorium Integritas dan Kepentingan

    “When I do good, I feel good.  When I do bad, I feel bad.  That’s my religion”.~Abraham Lincoln
    Saya selalu yakin bahwa setiap hal besar yang seseorang lakukan, baik atau buruk, adalah suatu hasil kompleksitas hal sederhana yang mendasar. Layaknya wujud lahiriah makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang seiring bertambahnya usia, karakter pun mengalami fase yang berbanding lurus dengan waktu dan segala kesempatan pembelajaran disetiap detiknya. Karakter seorang tokoh besar dunia pun pasti pernah dilewati oleh fase pemikiran naif yang tak mengenal wilayah abu-abu dari suatu kehidupan.

    “Ketika saya melakukan hal yang baik, saya merasa baik. Ketika saya melakukan hal yang buruk, saya merasa buruk. Itulah keyakinan saya”. ~Abraham Lincoln

    Pernyataan diatas kemungkinan besar juga bisa saya dapat dari adik saya yang masih berumur 9 tahun, yang masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar; dalam bentuk yang lebih kanak-kanak tentunya.
    “Kalau Nisa ngehibur teman Nisa yang lagi sedih, Nisa pasti senang karena bisa nolong teman. Kalau Nisa lagi iseng ngejek teman Nisa sampai dia sedih, terus nangis, Nisa  pasti jadi ngerasa nakal”, 

    begitu kira – kira pernyataan yang mungkin adik saya berikan. Aku anak yang baik kalau aku berbuat baik. Aku anak yang nakal kalau aku berbuat nakal. Titik.

    Terdengar naif? Memang. Karena sewaktu kecil, segala konsep kebaikan tidak ditanamkan bersamaan dengan konsep kepentingan. Faktornya bisa jadi ada dua: Daya pikir anak kecil yang belum kompleks atau inilah kaidah pendidikan; dasarilah segala sesuatu dengan yang baik. Kalaupun yang buruk kemudian muncul sebagai pilihan hidup, biarkanlah itu menguji kekuatan dari dasar yang telah tertanam.

    Semakin dewasa dan banyaknya pengalaman seseorang, pasti semakin memengaruhi karakter, idealisme, kualitas dan kuantitas pengetahuan, serta cara pandang seseorang tersebut karena itulah inti dari aspek kognitif sebagai kekuatan internal individu. Cara bicara, gaya konsolidasi dan birokrasi, bahasa tubuh, serta aspek behavioral lainnya adalah bentuk penyajian yang siap menjadi faktor atraktif dalam berinteraksi dengan pihak eksternal – atau bisa jadi, itu hanya bentuk pemikiran masa kanak-kanak yang berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Sementara tindakan di lapangan adalah faktor utama yang mengeksekusi batin; mengeksekusi integritas.

    Sebagai eksekutor sosial, orang lain mungkin bisa menilai, memperdebatkan, memuji, atau bahkan menghujat integritas kita dengan cara dan perhitungannya masing-masing. Tapi, hanya kita sendiriliah yang sebenarnya paling mampu mengeksekusi integritas itu dengan tepat dan jujur.  “Apakah saya sudah melakukan hal yang saya katakan dan saya yakini? Atau saya sudah membohongi diri saya sendiri dengan berpura-pura lupa kalau saya sudah melakukan hal yang bukan ‘saya’?”

    Saya yakin, setiap orang yang bertanya pada diri sendiri, pasti akan tahu jawabannya. Kalaupun ada banyak hal yang menghablurkan jawaban tadi, itu hanya ‘suara-suara mereka’ yang memberikan, mendiktekan, atau mungkin memaksakan opini mereka saja. Ketika integritas dipersoalkan, sebenarnya pikiran sederhana masa kanak-kanak kita tadilah yang dapat menjawab pertanyaan, “am I feeling good after I did this?”

    “Integrity is what we do, what we say, and what we say we do”.~Don Galer 

    Integritas
    Integritas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran” Hal ini erat kaitannya dengan kesesuaian dari apa yang diyakini dengan yang dilakukan sehingga menunjukkan komitmen yang kuat sebagai penghargaan terhadap kualitas diri sendiri.

    Banyak yang menjadikan istilah etika, moralitas, dan integritas sebagai sinonim satu sama lain sementara ketiganya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Etika adalah teori yang menjadi standar akan sesuatu untuk dinilai salah, benar, baik, jahat dan segala penilaian lainnya. Moralitas adalah praktik aktual berupa tindakan dari etika berikut nilai-nilai yang dibawanya. Sementara integritas adalah integrasi dari etika dan moralitas yang apabila keduanya semakin terintegrasi, maka semakin tinggi integritas yang dimiliki.

    Sebagai suatu harmoni, integritas akan menunjukkan suatu keselarasan keyakinan, kemampuan, dan kenyataan. Persoalannya adalah apakah integritas yang dimiliki mengintegrasi etika yang bernilai luhur sehingga menghasilkan tindakan aktual yang bermoral luhur pula?

    Jika melihat dari kecenderungan manusia untuk selalu terlihat baik, tentu saja akan sangat sulit mengakui keburukan diri saat melakukan tindakan buruk. Inilah yang menyebabkan rendahnya integritas manusia; disamping etika dan moralitasnya yang sudah buruk.

    Ada beberapa konsep integritas filosofis yang mengaitkannya sebagai fungsi dari moral. Konsep pertama adalah konsep integritas objektif yang diusung Elizabeth Ashford. Dalam konsep ini, seseorang dapat dikatakan memiliki integritas apabila ia memiliki ‘pegangan’ atau etika yang bernilai benar akan kewajiban moralnya dimana etika tersebut tidak akan mengarahkan ia kepada moral yang salah.
    Konsep ini mungkin akan sedikit ambigu apabila diaplikasikan dalam contoh kasus dimana seseorang tidak setuju akan nilai demokratis oportunis yang dipegang seorang pemimpin karena nilai tersebut tidak sesuai dengan nilai yang dipegang tadi, sementara seseorang tersebut tetap mengakui bahwa pemimpin tersebut memiliki integritas karena nilai demokratis oportunis tersebut benar-benar tercermin dalam moral pemimpin tersebut secara nyata. Dalam kasus ini, inti dari permasalahannya adalah lebih kepada ruang substansi akan ketidaksetujuan nilai yang dipegang tanpa harus menimbulkan sikap ofensif akan integritas pihak lain secara keseluruhan.

    Konsep kedua yang diusung Mark Halfon dimana dijelaskan bahwa integritas merupakan bentuk dedikasi seseorang untuk mengejar kehidupan moral dan tanggung jawab intelektual mereka dalam upaya memahami tuntutan hidupnyaiii. Orang lain mungkin saja menganggap integritas ini memiliki nilai moral yang salah, buruk, atau tidak penting, namun konsep ini lebih menekankan kepada pemenuhan kebutuhan seseorang akan apa yang ia cari dalam hidupnya setelah melalui suatu proses pertimbangan moral yang relevan dengan intelektualnya.

    Konsep terakhir berasal dari pemikiran McFall yang menjelaskan bahwa seseorang dengan integritas adalah seseorang yang bersedia menanggung konsekuensi dari keyakinannya, bahkan pada saat – saat sulitiii. Orang yang hanya mencari kesenangan atau hanya ingin menyenangkan banyak pihak dapat kehilangan integritasnya karena ini mencerminkan pribadi yang banyak berkompromi dengan konsekuensi. Sama halnya dengan orang yang hanya mengejar persetujuan dan penerimaan dari khalayak. Kemungkinan besar, konsekuensi yang bersedia ditanggung adalah bukan lagi konsekuensi dari keyakinannya sendiri melaikan keyakinan khalayak. Dalam hal ini, terlihat jelas cermin ketidakmampuan mengontrol khalayak sehingga berujung pada integritas sendiri yang justru dikontrol oleh khalayak.

    “We live in a world in which politics has replaced philosophy”. ~Martin L. Gross, A Call for Revolution, 1993 

    Integritas dan Politik

    McFall menambahkan bahwa keputusan untuk memandang eksistensi dari integritas pun sangat bergantung pada perspektif serta kepentingan dari sang penilai itu sendiri. Walaupun substansinya, entah itu etika atau moralitasnya, sudah benar dan luhur, namun apabila dalam sudut pandang sang penilai integritas tersebut tidak dapat berharmoni dengan kepentingannya atau dengan lingkungan beserta banyak prosedur kehidupannya yang rumit, bisa saja integritas hanya dipandang sebagai suatu eksistensi normatif semata yang tak perlu menjadi aplikatif dalam kehidupan sang penilai tadi.
    Mempertanyakan integritas dalam dunia politik berarti mempertanyakan suatu retorika. Ketiga konsep filosofis mengenai integritas diatas seakan dirangkum oleh ‘catatan’ yang ditambahkan oleh McFall di akhir konsepsinya. Catatan itu sekiranya relevan dengan eksistensi integritas dalam dunia politik.

    Tujuan utama dari politik adalah untuk meluluskan suatu kepentingan. Dalam prosesnya, tak jarang pihak ‘manajerial’ tidak mengatakan seluruh kebenaran lalu menerapkan konsepsi ‘pengingkaran yang terlihat masuk akal’ pada setiap pemahaman praktikal publik dengan tujuan menghindari penghakiman. Saat inilah, terjadi kesenjangan atau ketidakseimbangan, jika tidak bisa disebut sebagai ‘pelemahan’, pemahaman serta keadaan, sehingga terciptalah ruang yang memaksa sebuah perubahan atau tindakan dilakukan. Dalam ruang inilah, perubahan ditunggangi oleh kepentingan politik tadi sehingga hal ini terlihat seperti kesatuan komponen yang wajar terjadi.

    Memang tidak bijaksana apabila suatu generalisasi dikenakan pada citra keseluruhan dari dunia politik. Namun, apabila kita berbicara masalah kecenderungan, memang hal iniliah yang tampak dominan. Politik adalah seni memanipulasi kepentingan dan kenyataan, bukan mengintegrasi etika dan moralitas. Mengingat etika adalah standar yang seharusnya tidak mudah gamang seperti kepentingan yang kental akan kompleksitas hukum alam ‘siapa kuat dia yang menang’, serta moralitas yang seharusnya berkiblat pada etika, bukan pada kepentingan, sepertinya peran integritas tak lagi diposisikan sebagai hal yang penting dalam penciptaan ‘karya seni’ politik ini. Tidak berarti kepentingan yang menjadi tujuan politik ini selalu berkonotasi buruk. Namun, kepentingan ini sulit untuk disetarakan dengan komitmen integritas. Kepentingan terlalu sarat akan kompromi.

    Politik menuntut kepiawaian bertindak, termasuk kepiawaian menata keyakinan, mengubah filosofi sesuai kepentingan, serta menyajikan kesan perubahan sebagai sebuah keberhasilan dalam menjembatani ‘sungai buatan’. Begitu ‘fleksibel’ hingga ruang bagi sebuah integritas untuk menyelamatkan nilai – nilai kemanusiaan tampak terlalu sempit adanya.

    Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimunculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt.” ~Sri Mulyani Indrawati ~ (mantan Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu II )

    Barter Politik Sebagai Laboratorium Integritas dan Kepentingan

    Barter politik adalah suatu hal yang atributif dalam dunia politik. Konflik kepentingan seringkali memaksa berbagai pihak untuk mencari jalan keluar yang paling menguntungkan bagi pihak-pihak tersebut; entah dalam kadar keuntungan yang seimbang atau tidak.
    Politik dapat menyediakan ruang bagi para pengambil kebijakan atau para pemegang kekuasaan untuk memperhitungkan sesuatu dengan horizon yang lebih luas. Kalaupun ada ‘partisi-partisi’ kecil yang menghalangi, tentu saja itu dapat terpetakan dalam horizon tersebut berikut dengan kemungkinannya untuk ‘dihapus’ oleh sistem kekuasaan. Penghapusan tersebut seringkali dijadikan opportunity cost untuk suatu efek multiplikasi yang lebih besar yang dapat diraih. “Trade-off”; dalihnya…

    Barter politik terbesar di era reformasi adalah barter politik yang ditengarai terjadi dibalik pengunduran diri Sri Mulyani Indrawati dari jabatan Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II untuk menerima tawaran menjadi Managing Director World Bank. Kepergian ibu Ani seperti menjadi ‘kesimpulan’ akan serangkaian kasus bail-out Bank Century, Inkonsistensi koalisi politik pemerintahan SBY, serta integritas seorang Sri Mulyani Indrawati terkait strategi politik-bisnis klan Bakrie yang malang melintang dramatis di berbagai media sedemikian lamanya. Semua atensi publik, semua harapan publik, dan semua nilai kebenaran seakan ditutup oleh barter ini. Walaupun banyak pihak yang memperdebatkan kesahihan kasus barter ini, atau bahkan memperdebatkan istilah barter itu sendiri, apapun itu, barter politik adalah suatu moral yang solutif namun belum tentu mengintegrasi etika publik.

    Mengapa solutif? karena faktor horizon yang lebih luas yang hanya dapat diperhitungkan oleh para pemegang kekuasaan tadi beserta trade-off untuk sebuah efek multiplikasi yang lebih baik. Dalam perdebatan ini, hipotesis yang muncul dapat menyimpulkan bahwa dengan dilakukannya barter tingkat tinggi ini, hampir semua kepentingan para pemegang kekuasaan yang paling dominan akan terakomodasi, baik kepentingan kesatuan koalisi beserta pemerintahan yang sedang berlangsung, kepentingan rahasia negara, kepentingan stabilitas ekonomi, maupun kepentingan kesalahan – kesalahan politik dan bisnis yang hanya bisa dikoreksi dengan barter politik ini tadi. Semuanya adalah efek multiplikasi yang lebih besar tadi.

    Sementara kepergian ibu Sri Mulyani menjadi realita nyata bahwa integritas dan politik memang tidak dapat berjalan berdampingan dalam sistem politik negeri ini; kepergian integritas yang cukup dianggap sebagai opportunity cost dalam sebuah saga ‘trade-off’.

    Terlepas dari perdebatan luhur atau tidaknya nilai yang tercermin, peristiwa ini adalah laboratorium nyata akan pilihan untuk terus mempertahankan eksistensi integritas atau kepentingan dalam politik. Memusingkan perhitungan etika, moralitas, ataupun integrasi keduanya dalam horizon yang menjanjikan efek multiplikasi hanyalah sebuah filosofi yang retoris eksistensinya karena politik adalah tempat bagi para seniman tepat tujuan, bukan seniman dengan keyakinan dan tindakan yang sejalan.
    *
    “am I feeling good after I did this?”, hanya mereka yang memiliki integritas yang dapat menjawab, “Yes, I am”; dan tak perlu mempertanyakannya kepada mereka yang berada dalam dunia politik karena jawabannya pasti serupa. Biarkan mereka mempertanyakannya dalam hati dan akan ada jawaban jujur yang sederhana; tak perlu perhitungkan integrasinya.
    ***

    Critical Essays 2rd winner of Accounting Scientific Competition 2012-Faculty of Taxation of STAN prodip
    Arfintha Adyanti