himpunan doa
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

. . . Dari sebuah kehilangan


All right,,

Sekarang saya lagi sedikit calming down myself,after having such a quite bold week..well, dimulai dari betapa ‘zoonk’nya saya akan akun, kuis statek  yang selalu ‘mencekam’ karena dosennya galak, dan fenomena adaptasi di lingkungan kampus STAN ini..

Accounting and “Oh My Gosh!”

Let’s skip about lectures…kuliah mah dijalanin aja,,bukan buat dicurhatin,,haha…

Okay…ada banyak poin yang menarik buat saya akhir – akhir ini. Sebenernya bukan hal yang so damn serious or touchy. Ini poin – poin yang akhirnya berhasil saya ‘underline’ dalam pikiran dan idealisme saya.

“People come and go. Things born and die.”

Ini sangat klise pada awalnya. Tapi setelah saya ngobrol sama beberapa orang, tentang sesuatu yang datang di kehidupan mereka dengan caranya masing – masing, menyerap tenaga kita untuk  put some attentions or even efforts, sampai akhirnya menampar kita keras saat sesuatu itu harus pergi.

‘Menampar’ disini bukan cuma berarti membuat kita feeling so suffered, merasa ditinggalkan, atau merasa kehilangan. Saat sesuatu itu pergi dan tepat setelahnya, kita ‘ditampar’ oleh unlimited regrets. Penyesalan; yang bahkan bisa membuat kita merasa lebih bodoh dari definisi bodoh yang selama ini kita ketahui. “Ini terlalu bodoh”. Dan bodoh disini bukan karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini harus pergi, tapi karena kita melakukan kesalahan sampai sesuatu ini pernah DATANG ke kehidupan kita.

“You will never know what you’ve got until you lose them all”

Ini juga klise…dan bisa jadi sangat betul. Tapi saya yakin, ada saatnya dimana kehilangan gak selalu membuat kita sadar kalau sesuatu yang berharga telah pergi, lalu rasanya seluruh dunia bilang,”See! I told you!”, dan akhirnya membuat kita merasa makin..dan makin BODOH untuk alasan yang emosional.
Gak selalu.
Coba kita ganti susunan kata – katanya…

“you will never know what you WILL GET after you lose them all”

Ini terdengar lebih positif buat saya.
Well okay, saya bukan orang yang maniak akan positive thinking. (come on, there are black and white, right and wrong, good and bad. Just be realistic!).
Tapi pada saat saya jatuh, saya gak mau merasa jatuh juga. I  mean, bukan berarti saya egois dan angkuh. People make mistakes. People fall. Dan saya pasti pernah jatuh. Tapi buat saya, being fallen means figure it out! Kalo jatuh, usaha buat kembali berdiri lagi…

Jadi saya lebih suka mendengar sesuatu yang menguatkan saya saat saya jatuh. Jujur, saya bukan orang yang menikmati berlama – lama dikasihani. My brain and my faith dominate more than a half of me. Then I’ve found that sentence mentioned above…

Saat dimana saya menyesali kenapa saya sampai membiarkan itu datang, dan akhirnya pergi saat saya udah terlalu membiarkan diri saya hablur dalam zona abu-abu, gak bisa lagi menilai perilaku saya sendiri karena suatu ketidaksadaran akan betapa tidak seharusnya saya jadi BODOH seperti ini.

Inilah contoh living proof akan subjek yang menyesal. SAYA  yang menyesal.

Dibantu dengan kalimat diatas tadi, saya mulai berusaha mencari sesuatu yang bisa menghentikan “what a fool you?! What did you do?! How could you?!” yang saya tujukan pada diri saya sendiri. It hurt a lot, knowing that you are so damn fool for letting this happened.

Lalu percakapan dengan beberapa teman di sekitar,,menguatkan saya.

*True! If you have problems, then share it with your trusted people…It helps! Even if you are a really and totally introvert people. Every people are to be helped.*

Dan fenomena di sekitar saya…Banyak yang kehilangan. Banyak yang sedih. Bahkan, banyak yang memutuskan untuk menangis…banyak perasaan yang sulit. Menyesal. Marah. Tidak Terima. Kecewa. Putus Asa. Kosong.

Tapi pada satu titik, mereka harus berhenti menjadi ‘feeler’- perasa – and star to be a thinker.
See! Look! Evaluate! and…figure it out!
Kita gak boleh membiarkan a boldness of suffering getting more suffered to be felt. Ini gak boleh terus berlanjut…back again, People fall. Tapi, kita juga gak boleh membiarkan sesuatu yang gak menyenangkan ini terjadi dan terlewati begitu aja.

Inget teori causa prima? Everything has its own reason why it’s exist.
Kenapa harus ‘hitam’..kenapa harus ‘putih’…kenapa harus ‘benar’…harus ‘salah’…harus ‘senang’…atau ‘sedih’..
Kenapa…kenapa…dan kenapa…

Dan itulah yang hanya akan bisa dijawab oleh para ‘thinker’…sementara para ‘feeler’ masih terus mempertanyakan perasaannya sendiri…’gimana ini? Kok jadi kayak gini?’ Dan sebagainya…

Disinilah saya  menyimpulkan sesuatu.

“Losing doesn’t always mean bad. Because it will always give you something..A LEARN”
Dan saya belajar banyak dari kehilangan…yang jauuuh lebih mendewasakan dari saat saya  menghadapi suatu keberhasilan. Merelakan sesuatu itu pergi, ‘menangis’ sebentar di hati, lalu…menjadikannya suatu pelajaran agar suatu saat nanti,,,jangan sampai kehilangan lagi. Atau setidaknya, jangan sampai hilang karena kesalahan yang sama…People do fall, but not to be repeated.

Dari sini juga,,,saya belajar untuk tidak membenci apa yang hilang tadi, tanpa harus memaksakan diri untuk kembali memandangnya sebagai sesuatu yang putih lagi. Ini hak saya untuk memberikan penilaian. Dan saya memilih untuk tidak menilai BENCI. Kalau memang harus pergi, saya hanya bisa bilang “well..thanks for everything. Good luck for us and see you; perhaps…next time”

…..
“People come and go. Things born and die. Either Success or Failure, they will be nothing more than a part of our memories. The point is just how you learn from what you’ve been through”
*these are the pendings words, which had been postponed for couple of time*

Primordial Pagi " Selamat Hari Jadi Bee "


Aku menikmati wajahmu yang terpantul sempurna oleh lantai keramik beranda rumah, diam-diam.

Pagi belia ini bernama Sabtu, kita kembali duduk berdua, dengan kau di ujung timur dan aku di ujung barat. Sesekali kubuang pandang pada para rumput gajah dan tanaman hias Ibu yang masih segar terkecup embun pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau dapati sedang memandangi pahatan yang Tuhan kerjakan pada parasmu. Pekerjaan yang menurutku sempurna, tegas, damai, dan menyenangkan. Kau masih ditemani ranselmu, kali ini tak seraksasa ransel tempo hari, mungkin kau menggantinya. Bibirmu bergerak tenang, bercerita tentang apa saja yang kau ketahui dengan baik dan belum pernah kuketahui sama sekali. Kau selalu menoleh ke arahku  sembari mengulas senyum setiap satu kalimatmu selesai, dan setiap kali itu pula, konsentrasiku mendadak bubar jalan. Aku terlalu sibuk mendidik mata supaya mereka tak terlalu berbinar riang, menatapmu.

Seekor kucing belang tiga melintas di depan pagar. Ah, sepertinya dia sedang menyeringai nakal, menertawakan muka gugupku. Sialan.

Entah apa yang membawamu kemari. Seingatku, belum pernah kita bertukar alamat rumah. Seingatku pula, kita hanya sesekali terlibat obrolan santai di tempat kerja dan beberapa kali berpapasan tak sengaja, tanpa rencana. Kesadaranku belum genap, jiwaku tercengang lalu terasa ringan hingga melayang kesana-kemari, dan otakku sepertinya baru saja pingsan, mendapatimu bertamu ke rumah, memaksaku mati gaya. Kau datang seolah ini merupakan kunjungan ke sekian kali. Bahasa tubuhmu cukup santai dan tenang. Sedangkan aku hilang diantara rimba pertanyaan monolog. Doaku, semoga ini adalah kenyataan. Namun sayang, mekanisme tubuh yang sedang kurang tertib membuatku lebih percaya bahwa pagi ini  dan semua yang terjadi di dalamnya, hanya mimpi belaka. 

Mataku mengerjap, kau masih disana. Kukerjapkan lagi dan kau tetap disana. Oh, baiklah aku  memang tak sedang bermimpi.

Waktu memulihkan semuanya, memungkinkanku menata dan mengembalikan seluruh komponen kesadaran kembali kepada tempatnya. Kita terus berbaur mencicipi kemewahan pagi. Aku mulai mampu mengacuhkan ketaktahuanku. Sementara partikel-partikel oksigen sedikit demi sedikit telah berdifusi ke dalam tubuh, membantu menjadikanku lebih waras dan normal. Aku bertanya ini dan itu dan kau menjawab pertanyaanku bagai guru taman kanak-kanak yang sedang membantu muridnya belajar hal baru. Aku melempar canda, kau melepas tawa. Sesekali gugup melintas dan aku mengabaikannya dengan baik. Sepintas kulihat Ibu sedang mengintip kita dari celah tirai ruang tamu. Sekilas pula, di batas timur, matahari mulai sibuk bertugas menghangatkan bumi, dan lihatlah, tampaknya ia tak sengaja melukis jejak cahaya jingga di wajahmu. Kau berpendar, ruang antara kita terisi biasan lembut cahaya, menjadikan semua berkerlip indah.

Pagi terasa semakin megah dan kau bagaikan makhluk surga yang baru saja diturunkan ke bumi. Aku begitu ingin mengawetkan waktu.

Hari ini bernama Sabtu, ketika akhirnya kau berpamitan dan kita bertukar senyuman. Aku membiarkan mataku mengikutimu hingga kau lenyap di balik tikungan, hingga bunyi deru motormu benar-benar tak lagi terdengar dan aroma asap knalpotmu lesap terlumat udara. Aku ingin episode pagi ini terekam sempurna, tak terpenggal, bahkan untuk sepersekian detik pun. Mungkin saja dapat kuputar kembali nanti, jika rindu mulai benyali hinggap, menjahili imunitas jiwaku.

"Rindu? Ah, bahkan aku tak tahu apakah nanti aku akan merindukanmu", otakku angkat bicara. Kulihat hatiku diam, tampaknya ia sedang khidmat, mendengarkan isyarat semesta.

Satu pesan singkat masuk, mengedipkan layar telepon genggamku, dua jam setelah kau pulang.

"Terima kasih sudah mengijinkanku menemuimu, di rumah. Semoga kelak, kita punya waktu untuk kembali bertemu"

Ada namamu di akhir kalimat. Aku menyublim ke awan, kembali bertanya pada semesta, apakah ia sedang menyiapkan hadiah untukku, melalui wujudmu.

===================================
Setiap kelahiran patut dirayakan
menyelamati niatan
menghargai kesungguhan
menapaktilasi perjalanan

terimakasih semua lamunan
segala patah arang
setiap remuk redam
semua tawa riang
segala reda sesudah lara

terimakasih Tuhan maha penyembuh hati
dengan penuh kesengajaan merancang setiap pertemuan
yang menyempurnakan,
menumbuhkan lalu menyadarkan

Terimakasih untuk jiwa-jiwa yang selalu meramaikan
namun tetap menaruh hormat pada sunyi dan diam

Terimakasih semuanya,

Selamat Dua Tahun
============================================= 

Wanita

... bukan dari tulang ubun ia dicipta
sebab bahaya menjadikannya dalam sanjung dan puja
tak juga dari tulang kaki
sebab nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
tapi dari tulang rusuk kiri
dekat di hati untuk dicintai
dekat di lengan untuk dilindungi...

^_^ mulia seorang wanita ..

Rabu, 04 Januari 2012

Saat penciptaan ibu…

Bismillah..
Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. Kini giliran diciptakan para ibu.
Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut,
“Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?”
dan Tuhan menjawab pelan,
“Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan? Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik. Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai. Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya. Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukkan hati anaknya. Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah dan Enam pasang tangan! “
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasang tangan?”
“Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik” balas Tuhan.
“Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.”
“Bagaimana modelnya?” Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk- angguk.
“Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya: ‘Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?’, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.”
“Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: ‘Saya mengerti dan saya sayang padamu’ Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.”
“Tuhan”, kata malaikat itu lagi, “Istirahatlah”
“Saya tidak bisa, Saya sudah hampir selesai.”
“Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit. Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging. Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi.”
Akhirnya Malaikat membalik-balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat”, kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita.”
“Apakah ia dapat berpikir?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi.
“Eh, ada kebocoran disini”
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan.
“Itu adalah air mata. Air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata, airmata….”
Sudahkah Anda mengucap syukur karena Anda mempunyai ibu yang luar biasa ?

Rabu, 28 Desember 2011

Wanita Itu…

Sejuk gemericik air di padang gersang
Basah terasa aliri pipa yang kering
hangat sentuhannya damai terasa
Berkahi langkah kita di spanjang hayatnya
Kasih sayangnya sehangat mentari pagi
Belaian tangannya selembut kain sutera
Senyum manisnya hiburkan hati nan luka
Pandang matanya tajamkan hati nan suci
Wahai kawan siapakah dia?
Dia adalah wanita paling berjasa
Sejak kita lahir kedunia dan melanglang alam fana
Tiada tandingan pujinya dalam hidup kita
Yang melahirkan kita
menyusui dan membesarkan kita
Pertaruhkan jiwa raga membela kita semua
Dia adalah ibunda dan selalu mendoakan kita
Dalam keadaan lapang suka ataupun duka
Tutur katanya adalah harapan doa
Nasehat yang berguna sepanjang masa
Keredhoannya adalah ridho Illahi
Kemurkaannya adalah murka Illahi
“Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya
ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah
menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu. “
(QS Lukman ayat 14)
Marilah kita bersama mengasihinya
Selagi Alloh izinkan bersama kita
Bila Alloh telah memanggil ibunda
Sertakan doa selalu bagi dirinya
Semoga Alloh lapangkan alam kuburnya
Dan menyinari selalu dengan cahyanya
Memberkahi ibunda dengan  rahmat-Nya
Dan melapangkan jalannya menuju syurga…
(Siapakah Dia, Suara Persaudaraan)
… tak banyak kata yang bisa terucap, sebab lidah ini sungguh kelu jika sudah berbicara menyangkut sosokmu yang sangatamat berarti dalam hidupku …
panjatkan sepucuk doa, semoga Allah senantiasa menjagamu dan membalas semua kebaikanmu… sebab olehku, takkan terbalas hingga ujung waktu…
Happy Mother’s Day 2011.
Please, Mom. Forgive me.

Kamis, 01 Desember 2011

Pelangi Ukhuwah Bidadari

Saat aku terjatuh engkau senantiasa berusaha membuatku bangkit
Saat aku tersenyum, engkau pun tersenyum dengan indah
Saat aku bersedih, engkau senantiasa menghiburku
Dan saat aku melakukan kesalahan, engkau senantiasa menegurku…
Tidak mengenal waktu, tempat, kapan dan dimana
Engkau selalu siap siaga membantuku
Engkau selalu membantuku disaat aku kesulitan
Engkau selalu ada saat aku membutuhkanmu

Saat diri ini futur, dering smsmu di sepertiga malam menjadi obat penentram jiwa..
Saat salah satu hati benar2 membeku, kata ‘Assalamualaikum’ menjadi penyejuk hati, itu katamu..
Saat suatu masalah memuncak, saling diam ternyata membawa muhasabah diri..
Karena saling diam tidak selamanya menunjukkan kebencian..

Sebelas Juni

Bismillahirrahmanirrahim,

Ibu dan ayah yang sangat ananda sayangi dan hormati,
Sungguh, ananda adalah seorang anak yang demikian beruntung karena Allah telah menghadiahi ananda sepasang orang tua sempurna yang penuh cinta kasih, pengertian, dan pemaafan. Bagi ananda, hidup dan bertumbuh bersama Ibu dan ayah telah menjadi suatu perjalanan hidup yang kaya pembelajaran, sebuah proses pendewasaan seorang bocah perempuan yang selalu menyenangkan sekaligus mengharukan.

Ibu, Ayah,
Tidak ada keraguan sedikitpun, kalian merupakan pendamping yang memahami ananda lebih dari siapapun. Penegas segala keluh lemah ananda, pelembut setiap tingkah keras ananda, rumah teduh yang selalu ada, kapanpun hati ananda butuh beristirahat.