himpunan doa

Sabtu, 22 Desember 2012

Empat Pekerjaan Paling Sulit

Dari Sayyidina Ali RA, sesungguhnya pekerjaan yang paling sulit dilakukan ada empat: (yaitu) memberi maaf ketika marah, bersikap dermawan ketika dalam kesusahan, bersikap ksatria ketika sedang sendirian, dan berkata benar kepada orang yang ditakuti atau disayangi.

Kualitas kepribadian seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana ia konsisten berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran, bahkan ketika berada dalam situasi sulit, rumit, dan dilematis sekalipun. Tak ada alasan bagi seorang muslim untuk menghindar dari situasi itu, selagi mampu membuatnya menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.

Setidaknya, ada empat pekerjaan yang paling sulit dilakukan, seperti dijelaskan dalam riwayat dari Sayyidina Ali RA di atas. Empat pekerjaan sulit itu, sejatinya menjadi tolak ukur kualitas keimanan seseorang. Seorang muslim yang mampu melakukannya dengan baik, sesungguhnya ia dapat dikategorikan sebagai muslim dengan tingkat keimanan sangat tinggi. Demikian sebaliknya.
Berikut ini uraiannya :

Memberi Maaf Ketika Marah

Dalam situasi normal, memberi maaf mudah dilakukan. Tapi, ketika kita sedang dipuncak amarah, alih-alih mau memberi maaf, malah bisa jadi sebaliknya melakukan balas dendam.
Setelah menumpahkan kemarahan, biasanya batin terasa terobati. Kita merasa senang, menang. Padahal, itu hanya sementara, dan perasaan yang datang kemudian justru sebaliknya. Kita selalu akan dihantui rasa bersalah, atau merasa diri kita lebih buruk dari sebelumnya. Disadari atau tidak, tindakan balas dendam, sesungguhnya bertentangan dengan hati nurani.

Bagi muslim sejati, ikhlas memberi maaf akan dilakukan dalam situasi dan kondisi apapun. Tak terkecuali ketika sedang marah. Walau bagi sebagian orang tindakan memaafkan terasa menyesakkan dada, tapi seorang muslim harus menyadari bahwa memberi maaf, apalagi dilakukan ketika sedang marah, akan mempercepat proses turunnya rahmat dan ampunan Allah yang bermuara pada ketenangan batin.

Bahkan, Allah menjanjikan hadiah khusus berupa bidadari jelita di surga bagi orang yang mau memberi maaf ketika marah. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menahan marahnya, padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka Allah kelak akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan segala makhluk hingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya.” (HR. Tirmidzi)
Selain meraih pahala, memberi maaf dapat menjadi obat mujarab untuk mengobati penyakit psikologis. Memberi maaf bisa membebaskan diri kita dari rasa marah, depresi, kesal, bahkan bisa mendongkrak rasa percaya diri. Juga, kita tidak akan mudah terjebak pada lingkaran dendam yang berkepanjangan. Inilah sesungguhnya modal utama untuk mencapai hidup bahagia, harmonis, dan tentram.

Kemampuan memberi maaf menjadi pertanda ”keberanian” seorang muslim untuk mempererat ikatan ukhuwah islamiyah. Sekaligus ”keberanian” untuk mengakui kelemahan dan kealpaan diri. Patut diingat, keberanian seseorang bukan diukur dari keberaniannya untuk berkelahi, tapi ditentukan oleh kemampuan mengendalikan diri dan memberi maaf ketika sedang marah.
Memberi maaf sejatinya juga adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri, sekaligus menjadi modal penting bagi terciptanya kedamaian sosial.

Dermawan Saat Kesusahan

Sikap dermawan bisa diartikan sebagai sikap murah hati. Sikap ini muncul sebagai panggilan nurani seseorang saat melihat orang lain berada dalam kondisi butuh pertolongan. Ketika seorang tetangga tiba-tiba jatuh miskin atau terkena penyakit kronis misalnya, seorang dermawan sejati akan refleks terketuk hati turut membantu meringankan beban tetangganya itu.

Masalahnya, bagaimana kalau tetangga yang tertimpa musibah itu musuh atau orang yang secara ideologis berseberangan dengan kita? Tetapkah kita membantu atau membiarkannya dalam nestapa? Kalau kita sampai bersikukuh tidak membantunya karena berbagai alasan, maka saat itu pula kita mesti melepas gelar kedermawan, atau paling tidak mempertanyakan motif kedermawanan kita.
Seorang dermawan sejati, tak akan pernah memandang ”status” objek yang akan dibantunya. Karena kedermawanan murni untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, bukan kepentingan tertentu, apalagi didasari unsur riya`. Ingin pamer kekayaan

Memang, sulit rasanya mendermakan harta kepada seseorang yang menjadi ”musuh” kita. Tapi, kalau itu dilakukan, dan dibarengi rasa ikhlas untuk membantu, insyâ`allâh pintu hati musuh kita akan Allah buka dan akhirnya ia akan menjadi ”teman baik” yang loyal kepada kita selamanya.

Perlu kita mencermati riwayat berikut ini: Suatu ketika Abu Qatadah datang menagih utang kepada Abdullah yang selalu berusaha menghindar, namun akhirnya bertemu juga. Abdullah lantas mengaku, ”Aku benar-benar dalam keadaan yang sangat sulit.” ”Kamu mau bersumpah?” balas Abu Qatadah. Abdullah menjawab, ”Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa ingin Allah bebas dari huru-hara hari Kiamat, maka hendaklah ia melapangkan orang yang dalam kesempitan atau memaafkan (tidak menagih piutangnya).” (HR. Muslim)
Jelaslah, harta kekayaan yang mengalir dari sikap kedermawan, sungguh akan menjadi perisai dan payung pengaman kiya yang akan melindungi dari huru-hara alam akhirat kelak.

Ksatria Saat Sendiri

Bersikap ksatria ketika sedang sendirian, artinya bagaimana kita jujur kepada diri sendiri, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan yang terpenting, merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi gerak-gerik kita.
Sikap ini sungguh sangat sulit dilakukan. Apalagi bagi remaja yang tengah puber, atau mereka yang selalu ”ragu” bahwa Allah hadir di lubuk hatinya.
Perlu disadari, ketika kita sendirian, sebetulnya kita tengah ditemani seorang kawan bernama setan. Ia akan membisiki hati kecil kita agar melakukan maksiat. Tanpa iman yang kuat, kita akan mudah terbuai bujuk rayu setan, yang akan menjerumuskan kita pada lubang maksiat. Ia akan menggunakan segala taktik licik untuk memperdayai kita, dan tak akan pernah mundur sampai berhasil menaklukkan kita.
Di sinilah penting upaya memperbanyak dzikrullâh ketika sedang sendirian. Biasakan membaca tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr, dan shalawat, agar hati senantiasa ”hidup” dan “nyambung” dengan Allah. Inilah syarat pertama agar Allah senantiasa melindungi kita. Jika dzikrullâh sudah menjadi ”jiwa” kita, tak perlu lagi ada kekhawatiran kita akan terjebak pada perbuatan maksiat, sekalipun ketika sedang sendirian.
Agar kesendirian berbuah pahala dari Allah, penting mengisinya dengan hal-hal produktif, seperti beribadah, belajar, dan aktivitas pribadi lainnya. Di luar itu, kita perlu waspada bahwa waktu kosong dan kesendirian senantiasa menyimpan ”bom waktu” yang siap meledakkan kepribadian kita.

Berkata Benar kepada Siapapun

Berkata benar tak semudah membalik tangan, apalagi jika perkataan itu ditujukan kepada orang yang paling kita takuti atau sayangi. Terutama kepada orang yang kita khawwatir akan terganggu atau tidak berkenan dengan perkataan itu.
Perkataan benar sering menimbulkan efek negatif bagi kita. Ancaman dinonaktifkan dari jabatan bahkan di-PHK, akan kita hadapi jika direktur atau manajer perusahaan tersinggung dengan perkataan benar yang kita sampaikan. Karena mereka bisa merusak reputasinya.
Kehilangan kasih-sayang jika perkataan benar yang kita ucapkan tak berkenan di hati orang yang kita sayangi juga harus kita tanggung. Bahkan, tak mustahil, orang yang kita cintai akan berubah menjadi memusuhi kita.
Tapi, apapun, perkataan benar harus tetap diucapkan, walau terasa pahit. Tak masalah orang di sekitar tidak menyangi atau bahkan memusuhi kita, yang penting Allah tetap menyayangi. Apa artinya sekuntum kasih sayang seseorang apabila itu justru membuat Allah murka kepada kita.
Agar perkataan benar itu bisa diterima dengan lapang dada, penting kita memahami cara menyampaikannya dengan lemah lembut. Upayakan agar orang yang ditakuti atau kita sayangi tak merasa ”diceramahi” dengan perkataan benar itu. Insyâ`allâh mereka akan ikhlas menerima.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

    Keep Hamasah ^_^



    Semenjak terjaga dari pukul setengah dua pagi tadi, sudah ada rindu yang menggelitik…
    karena membaca:

    Zhizhie :  Uy.. Proposal ada yang bisa dibantu? #hhe #keluar jalur
    Nurul Fajri  ‎@teh zhie2: udah di print teh, teteh mau liat?
    Arina Sofie : Eh ikutan oot. Alhamdulillah, udh di print? Asik ciecie^^
    Arina Sofie : Bsk bawaaaaaa …
    Nurul Fajri : iya! untung diingetin bawa, wkwkwk. Ciecie apaan eneng? lu biasa jadi sekertaris ge weeee -____-

    trus pas buka-buka fb lagi, menemukan…

    Relina Sofi
    December 18, 2012

    Baru saja 2  tahun yang lalu saya merasakan manisnya kenangan menjadi Koordinator Acara Bina Akhlak Remaja Muslim  dan sekarang diminta menjadi salah satu pengisi acaranya (sekarang namanya OASE), persis seperti yang saya bayangkan 2  tahun yang lalu. Alhamdulillah. InsyaAllah akan saya berikan yang terbaik, untuk 22 Januari nanti. :) Jadi kangen sama tim super waktu itu, Cc: Arianti ,Agus Ikhwan, Hanafi Mursalim, Arfintha Adyanti,Wulandari ahmad dll

    dan tibatiba… kangen. sungguh.
    akan semua kesibukan kebaikan menyenangkan di tahun2 lalu , dengan label :


    “ Karena diriku Muslim Berharga”


    Juga tentang banyak…

    tentang tiga surat mandat bertandatangan Ketum dan Sekretaris 1 DKM  Al-istiqomah  , yang –randomly– dipilih satu sehingga terpilihlah sang Kabid 3 OSIS Zeppelin sebagai Ketua Panitia, dan Ketua 2 KIR Semut sebagai Wakil Ketuanya…

    tentang salah ngomong “Iya, Nda, dibantuin kok…” yang berujung dengan tidak bisa menolak ketika diamanahi jadi Sekretaris 1—dan beberapa saat kemudian menyadari kalau Bendahara 1-nya ‘terjebak’ dalam kasus yang kurang-lebih-sama-juga…

    tentang Sekretaris 2—yang lagilagi—ikhwan, tapi alhamdulillahnya—lagilagi juga—dapat diandalkan :)

    tentang koor acara yang ‘spesial’ dipilih bersama BPH…, dan anggota-anggotaya yang special request sang koor acara dan askoornya…

    tentang syuro pertama BPH, jujur-jujuran mau bilang ke orang tua atau nggak tentang amanah yang harus dipegang sekarang…

    tentang surat mandat dan undangan rabes pertama yang semua tandatangannya asli—pegel luarbiasa, haha…

    tentang ‘dinasihati’ sama bapak koor acara di syuro koordinasi pertama acara-bph…

    tentang terkejutnya karena tempat dan konsumsi berat yang dananya melebihi 50juta…

    tentang dinasihati guru KTK  karena cabut pelajaran beliau demi demi nangkring di TU ngeprint surat—yang entah kenapa nggak bener-bener, heu…

    tentang jualan donat kentang  bersama dengan tim serdadu muslim…

    tentang survey yang sampai malam, dengan setumpuk print-out peraturan yang harus dicap—dan mau nggak mau harus dibawa pulang karena cap cuma ada
    satu…

    tentang syuro unik timsuper acara, di mana koornya duduk di koridor dan anggotanya hilirmudik laporan perkembangan jobdesk macemmacem disela-sela semua kesibukan mereka…

    tentang paniknya mencari PJ, tentang surat khusus untuk pelatihan PJ akhwat, tentang airmata sang co-PJ yang tetap tidak menyerah melaksanakan tugasnya…

    tentang logo yang unyu, baju panitia yang unyu juga walau denge rdenger sablonnya jadi mahal karena warnanya ada sembilan…

    tentang buku panduan ter-oke yang pernah saya lihat, kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya…

    tentang konsep outbond dengan permainan tank-manusia, tentang salah satu anggota tim super acara yang punya usul: “Gimana kalau itu buat jalan
    antarpos aja?” –well, usul yang cukup tidak mungkin, sebenarnya…

    tentang bertumpuk tumpuk berkas, surat salah ketik, fotokopi proposal, dan berbagai lainnya yang memenuhi salahsatu sudut kamar bahkan kasur rimba saya …
    tentang rundown A, AC, dan sebagainya…

    tentang pembicara-pembicara…

    tentang diskusi-diskusi kecil yang penuh makna…

    tentang try-out SIMAK UI di hari ketiga acara, yang benar-benar mereduksi panitia…

    tentang meng-gebruk-kan semua kerjaan ke Sekretaris 2 beberapa hari sebelum hari-H karena harus persiapan orientasi Jenesys…

    tentang harus meninggalkan acara—dengan tidak rela—karena harus datang orientasi….
    ..
    .
    tentang pikiran yang melayang-layang ke tempat lain selama orientasi…

    tentang ketika akhirnya mendapat koneksi internet, membuka Yahoo!Messenger, disapa seorang teman, dan langsung bertanya, “Gimana Acaranya -nya kemarin?”

    tentang dana yang membuat pusing sampai akhir…
    .
    tentang kabar-kabar baik yang datang kemudian…
    .
    dan yang terpenting:

    keyakinan bahwa suatu kebaikan yang diusahakan, akan menjadi pembuka pintu bagi kebaikan-kebaikan yang lain :)
    .
    .
    terima kasih banyak, untuk salahsatu kenangan yang tetap membuat saya yakin untuk berdiri dan menjalani banyak hal sampai sekarang :)
    .

    Mohon doa untuk OASE 2012 yaa ^^ dan bagi panitianya, HAMASAH! luruskan niat agar semua usaha kebaikannya dibalas oleh ALLAH dengan berlipatganda…

    DAN PERJUANGAN ITU BELUMLAH USAI




    Dan perjuangan itu belumlah usai
    Sudah bertahun-tahun, mungkin benak tak lagi menghitung
    Ketika martir dan peluru adalah sarapan sehari-hari
    Ketika pekik takbir adalah musik kehidupan kami
    Ketika batu selaksa berharga... genggam erat,
    lemparkan

    Tapi perjuangan belumlah usai

    Sudah berapa duka?
    Tak terhitung. Tak kami hitung. Mungkin sudah jadi terlalu tegar.
    Tanah ini tanah kami.
    Sudah berapa luka?
    Tak terasa. Tak kami rasa. Sebab perjuangan belum usai.

    Maju. Maju. Maju.
    Singkirkan takut. Percaya.
    Allah bersama kita.
    Genggam erat batu itu, lemparkan.

    Intifadha!
    Perjuangan belum usai.

    Bahkan sejak sebelum kami ada di dunia
    Hingga nanti...
    Seadanya, ya. Seadanya.

    Tapi kami rasa dengan berjuang ini kami kaya.
    Terbuka lebar pintu menuju muara rindu...
    Belum, belum usai.
    Akan terus kami kepalkan tangan kami.
    Kami pekikkan takbir kami.
    Hanya satu ingin kami...

    Hidup mulia,
    Atau mati sebagai syuhada.


    ((in a memory of those intifadha children..))


    -------------

    ya, sampai sekarang perjuangan memang belum usai.
    aku mencari beritaberitanya, kutemukan banyak kontradiksi.

    ada pihak yang mengutuk, tapi bahkan ada pihak yang mendukung!

    gaza in war. massacre. genocide. even holocaust. whatever is it.

    tapi faktanya, sudah ratusan korban jatuh. luka-luka. hancurlebur. gedung pemerintahan, rumah warga sipil, universitas, rumah sakit, sekolah, semuanya. tapi mereka belum juga berhenti. sekalipun dunia sudah mengecam.

    astaghfirullah...


    ((KHAIBAR-KHAIBAR YA YAHUD! JAISYU MUHAMMAD SAUFA YA'UD!!))

    Ukhuwah kita...
    Ayo eratkan! Demi saudara-saudara kita...

    di PALESTINA...


    ------------


    "Saat langit berwarna merah saga, dan kerikil perkasa berlarian
    Meluncur laksana puluhan peluru, terbang bersama teriakan takbir

    Semua menjadi saksi, atas langkah keberanianmu
    Kita juga menjadi saksi, atas keteguhanmu

    Ketika Yahudi-Yahudi membantaimu, merah berkesimbah di tanah airmu
    Mewangi harum genangan darahmu, membebaskan bumi jihad PALESTINA
    Perjuangan telah kau bayar dengan jiwa
    Syahid dalam cintaNYA..."

    -- Merah Saga, Shoutul Harakah


    ALLAHU AKBAR!!!

    Senin, 03 Desember 2012

    Meragu Jarak dan Waktu II

    Segalanya sedang berhenti pada ujung hening yang meletup-letup dan kita terjebak dalam perenungan riuh yang panjang.
    Aku sakit, kamu sakit, kita berdua sama-sama sakit. Tapi, aku hanya ingin jujur. Jujur padamu,
    jujur pada diriku sendiri bahwa secara perlahan-lahan hatiku tak lagi bergetar.


    Hari demi hari, aku semakin tak mampu menatap wajahmu. Hasratku susut entah sejak kapan dan aku sadar, kamu sungguh tidak layak didera.
    Kamu tidak seharusnya kusakiti dengan diam panjang—yang aku sendiri bahkan tak tahu sampai kapan perasaan asing ini singgah—karena aku menyayangimu utuh sejak dulu.
    Kamu satu-satunya yang memahamiku karena kita sama. Namun, rupanya aku butuh kemeriahan yang berbeda.
    Dan ketika kusadari aku tak lagi ‘jatuh’, aku menjadi sedemikian terluka. Tak mampu kurangkum semuanya. Sekali lagi, mengingat kamu tidak layak didera.

    Tapi, kebersamaan yang kupertahankan ternyata tidak mengobati apapun. Lama-lama aku takut kegelisahan itu bertumpuk seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Aku tidak memaksamu untuk mengerti semua ini—bahwa cinta tidak lagi sama—karena aku pun sama denganmu. Lepaskan, lepaskan saja. Biarkan pundakmu lebih ringan dari sebelumnya.

    Tak ada yang perlu kau takutkan. Ini tentang persoalan adaptasi dengan kehidupan baru. Kita hanya perlu keberanian dan penerimaan, bukan sangkalan-sangkalan yang hanya akan berbuah lelah tak bermuara. Kita perlu ruang untuk merenung.
    Kita perlu waktu untuk membaur dengan wacana-wacana yang terlewat dalam hubungan kita.
    Kita perlu jeda untuk kembali merindu, semoga.

    Meragu Jarak Dan Waktu I


    Aku baru saja masuk kamar ketika ponselku yang terselip diantara buku-buku berdering. Badanku letih sekali. Kuaduk-aduk tasku lalu kutemukan layar berkedip-kedip dengan foto timbul tenggelam. Hubby calling.

    Kupandangi lama sekali, sebelum akhirnya kuangkat.

    “Assalamualaikum..”

    Aku rebah di kasur. Mataku yang berat kupejamkan pelan-pelan.

    “Baru pulang ya?”

    “Iya..”

    Hening lama sekali.

    “Sudah makan?”

    “Sudah tadi sama teman”

    Lalu hening lagi, meski tak lebih lama dari sebelumnya.

    “Maaf, Sayang ”  Kata-kata maaf itu entah kenapa membuat aku sesak seketika.

    “Maafkan aku,kau tau bagaimana sifatku bukan ? aku gampang menjadi setan "

    Tambah sesak rasanya, tapi aku hanya ingin mendengarkan Ia  berbicara.

    “aku ragu dengan jarak dan waktu. Sayang tahu kan, aku pernah kecewa dengan dua hal itu. Aku tidak tahu harus memulai dari mana..”

    Sudut mataku meneteskan airmata yang leleh masuk ke telinga.

    “Iya.. Jangan dipaksakan.. Semampumu, sebisamu, sekuatmu. Aku tidak pernah memaksa” kataku.

    “Tapi sungguh, I wish you were here.”

    “Seperti yang selalu kita yakini hubby.. Jembatan itu pasti ada bila takdirku disana”

    “Aku tidak mau kehilangan kamu karena sikapku semalam ”

    “Tidak, Aku tidak pernah kemana-mana. Aku selalu disini.. “

    Seandainya aku bisa membuatmu jauh lebih bahagia, Hubby.

    Aku ingin.

    Aku selalu ingin.

    Seperti kamu juga selalu ingin membahagiakan aku.

    Tapi apa daya kita? Kita sudah mencobanya, dan tetap saja kita ragu pada jarak dan waktu yang merentang begitu panjang.Lalu apa?

    Aku telah menyerah ketika baraku padam beberapa hari lalu. Kamu membiarkan aku dibekukan jeda panjang yang kau buat untuk meyakinkan diri.

    Kamu membiarkan aku dilalap sepi dan dikelilingi ribuan tanda tanya yang tak pernah bisa kupahami.

    Hangatmu yang biasanya mendadak hilang karena keraguan.

    Bagaimana bisa aku tidak meragu? Ini bukan persoalan jarak dan waktu lagi.

    Semuanya telah berubah menjadi masalah keyakinan.

    “Baik-baik disana ya,.. Jaga kesehatan” kataku.

    “Sayang  juga ya,.. Aku kangen kamu”

    “Aku juga.. "

    Kudengar kamu tertawa kecil. Aku menghela nafas panjang untuk membebaskan sekumpulan harapan yang telah menjelma jadi sesal.


    “Sayang tidur ya,.. Sudah jam dua belas, ini jam tidurmu kan..jaga tahajudmu ya ”

    “Iya, ini sudah lima watt,.. Assalamualaikum..”

    “Wa’alaikumsalam”

    Klik!

    Kupandangi langit-langit kamarku yang lama-lama mengabur. Mungkin memang hubby tidak tahu bagaimana memperjuangkan aku. Tapi, lebih dari itu, barangkali akulah yang memang tidak bisa membangun jembatan itu sendiri. Karena, aku tak punya apa-apa. Semoga Tuhan berkenan memeberiku waktu.. untuk memperbaiki diriku agar pantas mendampingimu selalu ..

    • Kasma Maret Jarak dan waktu sebenarnya bukan masalah, jika satu sama lain menjaga kepercayaan.
      Aku telah merasakan bagaimana menjaga kepercayaan seorang lelaki pengecut

    • Citra Atfa Mufida Jarak dan waktu seolah tak bersekat jika saling memahami dan percaya...

    • Dewi Despani SEBENARNYA SANG AKHWAN BUKANLAH PENGECUT TAPI DIRINYA TDK PANDAI MENJAGA AMANAH,,,AMANAH CINTA YG UKHTI TITIPKAN PADANYA,,,,BIARLAH WAKTU YANG DAPAT MENJAWABNYA,,,BERIBU RIBU AKHWAN AMANAH,BAIK HATI DAN JUJUR DI DUNIA INI ,,CUMA SAJA ,ALLAH MASIH MENYIMPANNYA UNTUKMU,,,SABARLAH SANG UKHTI,,,,

    • Arfintha Adyanti Aku berusaha berdamai dengan kata "sebentar,sementara dan tidak pasti teh .. " Doakan.. semoga bisa segera terwujud dan tak lagi ada note2 galau seperti ini ya teh .. ^_^ to Kasma
       
    • Arfintha Adyanti Ya .. kami hanya perlu JEDA,untuk kembali merindu to Citra


    • Dewi Despani DIAM ADALAH SOLUSI TERBAIK UTK MEREDAM SEMUA GUNDAH DIHATI,,,RENUNGKAN SAJA,,,

    • Arfintha Adyanti ^_^ gag sanggup baca koment bunda Dewi ,, membingkai kembali memoriku saat bunda tetap berdiri tegak meski hatinya rapuh ... Aaah .. aku ingin seperti bunda .. T_T

    • Dewi Despani yA SAYANG,,,KERAPUHAN YG ADA DI HATI BUKANLAH SUATU HAL YG HARUS DITAMPAKKAN SBB BERUSAHA TEGAR DIHADAPAN SIAPAPUN WALAU HANYA SEBUAH TOPENG

    • Arfintha Adyanti penge peluuuuuuuk .... T_T

    • Bintang Bersinar ku tak tHU.... betapa rapuhnya aku.... masih terasa luka dimasa lalu, kupernah mencintai setulus hati..... dan kuterluka luka membekas, ............." lagu tu mb fin. " masih ada pangeran cinta yang lain

    • Dewi Despani sayang ani n finta,,pangeran di dunia ni sangat banyak cuma kita yg enggan mencarinya,,sbb biar Allah saja yg mendekatkannya ,,,

    • Bintang Bersinar Biasanya antara dua ciri - ciri klo da jodoh.... apalagi mau merried,.... klo ng putus..... y itu.... bakal bersatu.... merenungkan jalan yang kan membawaku pergi,,,,,, pergi pergi menjauh pergi..... kumenangis kau tersenyum....., bayangkan kuhilang.... hilang tak kembali " CAKrA

    • Arfintha Adyanti kenapa ya.. jadi suka denger lagu " if tomorrow never comes " hahahah galau stadium tingkat akhir kayaknya aku nih