himpunan doa

Senin, 16 April 2012

. . Tentang Perjalanan . .

Aku selalu rindu perjalanan karena di sana ada ruang sempit untuk menaksir jarak antara hatiku dan hatimu. Tak peduli kulalui dengan apa perjalanan itu; bus, pesawat, kereta, angkutan, taksi, becak, sepeda, bahkan dengan kakiku. Dan, saat ini aku sedang berpikir tentang perjalanan yang tak butuh media. Perjalanan dengan sayap. Perjalanan dengan keteguhan hati. Jadi, ayo pergilah bersamaku ke suatu tempat yang tidak membutuhkan jalanan untuk dipijak dan tak seorangpun tahu di mana kita akan mengakhiri perjalanan ini.

Kita akan menyaksikan langit-langit yang warnanya pudar dan hijau dedaunan yang menjelma jadi sephia. Kita akan menyusuri kios-kios di jalan-jalan sempit sepanjang kota impian atau terbang dari satu bintang ke bintang lainnya dengan mata terpejam.

Perjalanan, ke manapun itu akan selalu kumaknai sebagai sebuah rute panjang menuju hatimu, pulang, merumah selamanya di sana. Aku selalu berharap kamu menjemputku di terminal, di stasiun, di bandara, atau di mana pun itu, selama aku bisa menghambur ke pelukanmu setelahnya, menamatkan rindu terpanjang dalam hidupku.  Seperti hari ini, ketika aku hanya mampu duduk di balik kaca yang basah oleh hujan, memandangi kota kita yang diserbu kelabu. Tak ada kamu di bangku semen itu. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa berharap perjalanan ini adalah kepulangan.

Aku tak henti memikirkanmu dalam perjalanan ini. Aku tahu kamu akan menjemputku besok pagi, di terminal, di bandara, di stasiun atau di mana pun itu, berdiri di dekat bangku, memasukkan kedua tanganmu dalam saku jaket, dan tersenyum ketika kau dapati sosokku di kejauhan. Dan, entah kenapa senyumku mendadak pudar, buku kecil dalam genggaman tanganku sudah penuh goresan. Rasanya aku memang rindu. Rindu yang sepi. Padamu.

Bersanding Kepakan Di Bawah Senja
Aku rindu gelak manjamu yang merajut senyum ke buluh waktu.
Langkah ceriamu seperti sepasang kepakan yang mendendangkan angin berlalu.
Kapan kita dapat bersanding langkah kembali, senja tanpa jiwamu menjadi kehilangan arti.
Datanglah wahai beludru perduku, sebelum sinar terakhir menjadi kisah yang lalu.
Karena tanpamu, sepasang sayapku hanyalah kenangan berdebu.

*Sebuah sajak yang dipersembahkan untukku. Dari sahabatku Wuland. Terima kasih, Semoga tulisan ini bisa melengkapi sajakmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar