himpunan doa

Kamis, 19 Januari 2012

Sedang sakit,cuaca jelek ................


Saya lagi sakit, sakit tapi bisa nulis Note ?

yah begitulah teman…teman…ini sakit emang rada aneh, abis cuaca lagi nyebelin banget….pagi2 teh dingin sampe -4 derajat, udah gitu siang2 0 derajat celsius, tapi matahari bersinar terang benderang kayak matahari di Bengalon  !

jadilah badan saya kerasa panas tapi kalo dipegang dingin. bahasa bekennya mah disebut..panas dingin. Dulu mah praktis, tinggal dikerokin sama Ibu, minum Panadol Cold & Flu (IKLAN ! Panadol harus bayar ke saya ! hehe) makan makanan bergizi+DAGING, tidur..besoknya pasti sembuh.

Eh, sekarang ? metode penyembuhan mutakhir made in Indonesia bernama ‘KEROK’ ! udah jarang.. sakit dikit, ayo..ke dokter !

Bee juga udah nanyain, “mau ke dokter gak ?”
saya bilang aja, GAK. ya iyalah,,gaya bener saya, panas dingin doang langsung ke dokter.

Mau mengaplikasikan metode kurasi PANAS DINGIN ala Ibu aja, jadilah saya pergi ke supermarket terdekat. Mau beli daging ayam+sapi.. Walopun saya lagi sakit, tapi keukeuh lah saya jalan ke supermarket itu. Secara bee belum pulang jam segini..maklum,bee itu sibuknya udah ngalahin Presiden aja, cepet banget ‘ngilang dan muncul’ lagi ! jadilah saya harus fight jalan ke supermarket dengan muka lecek dan mata merah ‘khas’ saya…

DAPAT ! dengan harga Rp 86.000, saya mendapatkan daging sapi+ayam , let's go cooking

saya tinggalin itu daging di kamar (masih dalam kantong plastik yang terikat rapat) coz saya ke kamar mandi bentar, eh…begitu saya balik,

JRENG ! JRENG ! JRENG !

semua daging itu ludes ! tersangka utamanya siapa lagi kalo bukan CAMCAM! Kucing super agresif kesayangan bee yang sedang ‘berguling – guling’ tanpa dosa sambil masih menjilat2 bungkus daging itu…dengan nikmatnya.
Speechless. 

AAAAA…dia kangen makan daging kali yah, giliran begitu saya beli, Haduu…ludes dimakan kucing. BETE ! Mana lagi PMS, tambah BETE, mau BETE sama siapa coba ? sama kucing ?
Gak ada Ibu yang ngerokin, gak ada PANADOL, gak ada daging.. Sabar Pitha .… 
Beee ...... Malam ini gak ada futsal ya,:* 

KATALIS


Bercerita, tampaknya tidak hanya menjadi monopoli huruf atau kata-kata. Sehingga, demi sesekali tak mengikuti arus monopoli, saya coba hadirkan cerita metamorfosa kami, titik balik proses pencarian, kebahagiaan menemukan, dan keharuan pencapaian, dalam beberapa potong kisah sederhana yang rela tertuang bahagia lewat goresan tinta, beberapa waktu lalu.


Retinaku terdistraksi ketika pendar jingga senja yang hendak merambat masuk melalui pintu kaca ruangan terhambat sekejap oleh kelebatmu. Dua atau tiga detik, kira-kira.

Kau sedang terbalut kerudung hitam, kaos longgar merah tua, celana jins panjang coklat pekat, dan sepatu olahraga putih bermotif garis ungu muda. Ya, setidaknya informasi singkat itu saja yang mampu terkumpul oleh lirikan sekilasku. Oh, tidak, aku bahkan tak melirikmu. Tentu saja mata kiriku cukup cerdas untuk mampu merekam otomatis sosokmu yang tiba-tiba muncul di ambang pintu, tanpa perlu repot melirik sedikitpun, bukan? Keping hitam mataku bahkan tak bergeser sejengkal kaki semut pun. Mereka masih setia pada gemerlap layar monitor. Tubuh jangkung ini juga cukup statis, duduk tenang menempel di kursi empuk biru, bersama tangan kanan yang betah menjamahi tetikus mungil, mengajak pointer berjalan-jalan ke beberapa halaman kesukaan.

Langkahmu tertahan. Acuhku yang kadang tingginya nyaris menyentuh ujung menara petir, tempat Pai Su Chen diasingkan, runtuh begitu saja oleh sesuatu, entah apa. Persendian dan tulang-belulang tak lagi menaati instruksi tuannya untuk tetap diam di tempat, tak bergerak. Hingga pada akhirnya, seulas senyum pendek dan anggukan kecil kuisyaratkan demi membalas pertanyaan non verbalmu. "Silakan masuk", begitu kurang lebih maksudku.

Ah, kau lagi. Si wajah polos tanpa dosa, kembali memporak-porandakan sistem pertahanan tubuhku. Mengacaukan disiplin koordinasi antar lini. Bahkan si pelatih keras kepala, bernama Gengsi, tak luput kau buat kehabisan akal. Selalu saja begitu.

Hei, tahukah kau bahwa seandainya dirimu adalah selembar artikel ilmu pengetahuan, niscaya kau adalah salah satu varietas yang selalu sukses menstimulasi otakku untuk terus mencetak berlembar-lembar pertanyaan, ini dan itu. Kau seolah dipenuhi coretan formula unik, sekaligus aneh. Tiap kali semesta menayangkanmu di hadapanku, ribuan tanya selalu jatuh dari langit, menghujan, lalu membanjir tak karuan. Denganmu, aku menjadi makhluk cerewet dadakan.

Sebenarnya siapakah dirimu? Sebelumnya, aku mengenalmu tak lebih dari rekan kerja yang hanya saling bertemu sepintas di ruang makan, dapur, atau selasar gedung. Kau dan wajahmu yang nyaris tak pernah tersapu riasan merah, hijau, kuning, dan biru seperti mereka, kaum hawa lainnya. Kau dan langkahmu yang kerap lebih mirip seperti langkah atlet jalan cepat. Kau dan sepatu ratamu, yang sepertinya tak pernah membuat lantai terketuk berulang penuh derita. Sebelumnya, kau hanya sekadar itu, bukan? Ya, seingatku.

Hingga aku tiba di suatu titik pada dimensi masa dimana tiba-tiba kau, bagiku tak lagi menjadi sekadarnya.

Lihatlah, sore mulai kadaluarsa. Kita masih larut bercengkerama tentang apa saja, bertukar cerita dan saling tertawa. Sesekali kita saling terdiam lalu mencoba memulai berbicara kembali, dan lucunya, kita selalu memulainya hampir di waktu yang bersamaan. Kau lekas tersenyum, bermaksud menunda bicaramu. Sedangkan aku tergagap bodoh, lupa semuanya. Mungkin otakku gegar akibat tertimpa senyum sederhanamu sekian detik lalu.

Ada kita, tersisa enggan di jejak kaki jingga senja. 

Aku yang menunggu malam datang dan kau yang menanti seorang kawan. Begitulah, kita selalu saja diletakkan dalam sebuah kebetulan. Kamus di otakku tak lagi berfungsi baik untuk memberi definisi. Hanya sepertinya ada sesuatu yang terkatalisasi disini, di ufuk timur hati.

========================================================

Ada sesuatu yang tak terpadankan aksara
ketika aku telah menjadi separuh dari kita

ketika jengkal di antara memupus, tiada
dan keentahan bahagia oleh percaya


demikian, semoga kita menjadi cinta
yang bertumbuh menyusuri sungai masa
menjalari pepohonan usia

hingga kelak ketiadaan
mengantar kita, bertemu di taman surga

semoga.

==============================================================

Pannenkoek


Menikah adalah belajar. Belajar apapun, termasuk mempelajari hal yang sebelumnya belum pernah, belum sempat, atau bahkan sama sekali enggan kita pelajari.

Termasuk pula, belajar memasak. 

Bagi saya, memasak adalah kompor, memasak adalah pasar, memasak adalah para bumbu rempah yang membingungkan, memasak adalah ketajaman ingatan, memasak adalah kepekaan lidah dan penciuman, memasak adalah percikan minyak goreng, memasak adalah kepuasan. Bahkan mungkin, memasak adalah kolaborasi simbol kecerdasan, keterampilan, dan pengabdian seorang wanita.

Dibesarkan oleh Ibu yang cukup pandai memasak, selama ini yang terekam di otak saya justru hanya sebatas daftar beberapa resep masakan ringan sederhana. Sudah ringan, sederhana pula. Sungguh memalukan. Mungkin letak kesalahannya adalah, saya hanya rajin menyaksikan Ibu memasak dan kalaupun sedang bersemangat, saya cukup memperhatikan apa-apa saja yang ia racik di dalam masakannya.

Saya belum pernah melakukannya dengan tangan saya sendiri. Maka semua ingatan terasa percuma.

Sekarang, ketika saya tidak lagi hanya menjadi anak dari seorang Ibu, melainkan juga telah menjelma menjadi seorang istri yang tentunya tidak pernah bercita-cita membuat suami kelaparan atau anggaran rumah tangga terus membengkak untuk membeli makanan matang di luar, maka belajarlah saya memasak.

Tidak ada catat-mencatat, tidak ada pula acara membuka-buka buku resep masakan. Karena bagi saya, bagian itu akan membuat proses belajar menjadi lebih lama dan menciutkan nyali. Saya cukup mendengarkan Ibu atau Ibu mertua saya menyebutkan satu-persatu komposisi masakan yang saya tanyakan, lalu jika saya sedang tidak malas, esok harinya, mulailah saya mencobanya. Sederhana, bukan?

Nah, tempo waktu, dengan percaya diri yang meluap-luap, saya mencoba resep kue ringan ini. Dulu, saya hanya kebagian mencetak adonannya di pan/wajan kecil anti lengket, tanpa tahu racikan detailnya. Ini kue favorit saya, pancake (Amerika) atau pannenkoek (Belanda) atau panekuk (Indonesia), kue dadar yang biasanya diisi olesan selai nanas oleh Mama, sekarang sukses saya sajikan untuk suami dan Ibu mertua. Yay!

Silakan dicermati resep berikut, tapi tolong jangan salahkan saya kalau nanti terjadi sesuatu dengan kue kalian. Ah, kita kan masih sama-sama belajar.

Bahan Kulit/Dadar :
§  1/4 tepung terigu
§  1 butir telur ayam
§  1 sendok makan susu bubuk
§  1/2 sendok makan gula pasir
§  1/4 sendok makan garam
§  2 sendok makan mentega, dicairkan, didinginkan
§  Air, secukupnya
§  Selai buah/krim coklat/semacamnya

Metode :
1.     Semua bahan (kecuali mentega) dicampur di satu wadah, diaduk hingga tidak ada tepung yang menggumpal. Jangan terlalu kental, jangan pula terlalu cair. Silakan diestimasi sendiri, sehingga nantinya jika adonan itu dicetak/didadar di pan, ia mampu dengan mudah didistribusikan menjadi bentuk bulatan/lingkaran/cakram sempurna, memenuhi bidang pan. Mentega cair yang telah didinginkan dicampur ke dalam adonan, aduk rata. 
2.     Setelah adonan tercampur sempurna, mulailah mencetak adonan di atas pan/wajan kecil anti lengket.  Gunakan sendok sayur (irus) setiap kali mencetak, tuangkan adonan ke atas pan, lalu segeralah distribusikan adonan itu dengan cara memutar pan perlahan, hingga adonan memenuhi bidang lingkaran. Ulangi membaca instruksi ini, jika merasa kebingungan yang mendalam, lalu pejamkan mata sejenak.
3.     Lakukan proses di langkah 2, hingga adonan habis.
4.     Olesi bagian dalam (maksudnya : bagian atas ketika masih berada di pan) setiap kulit dadar dengan selai pilihan anda, satu-persatu. Kuantitas olesan diserahkan sepenuhnya pada penyaji.
5.     Lipat kulit dadar yang telah terolesi selai/semacamnya, menjadi bentuk akhir seperempat lingkaran, susun di piring saji serapi mungkin.
6.     Pancake/pannenkoek/panekuk siap dinikmati.

Pannenkoek/Pancake/Panekuk

Rahasia :
Demi mempermudah proses pencampuran adonan kulit dadar, libatkan saringan (alat saring, biasanya untuk menyaring santan) dengan ukuran sedang untuk menyaring seluruh campuran adonan cair. Sehingga kita tidak perlu lagi berlama-lama memastikan tak ada lagi gumpalan disitu. cukup campur, aduk, lalu saring. Luar biasa!

Jika adonan terlalu kental, maka ia akan terasa lebih tebal dan kurang matang pada proses pencetakan. Sebaliknya jika adonan terlalu cair, ia akan menjadi lebih tipis dan rentan sobek. Jadi, dosis air sangat menentukan. Waspadalah!

Semoga bermanfaat, menyenangkan, dan layak dicoba. Have a great cooking time, people!

Primordial Pagi " Selamat Hari Jadi Bee "


Aku menikmati wajahmu yang terpantul sempurna oleh lantai keramik beranda rumah, diam-diam.

Pagi belia ini bernama Sabtu, kita kembali duduk berdua, dengan kau di ujung timur dan aku di ujung barat. Sesekali kubuang pandang pada para rumput gajah dan tanaman hias Ibu yang masih segar terkecup embun pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau dapati sedang memandangi pahatan yang Tuhan kerjakan pada parasmu. Pekerjaan yang menurutku sempurna, tegas, damai, dan menyenangkan. Kau masih ditemani ranselmu, kali ini tak seraksasa ransel tempo hari, mungkin kau menggantinya. Bibirmu bergerak tenang, bercerita tentang apa saja yang kau ketahui dengan baik dan belum pernah kuketahui sama sekali. Kau selalu menoleh ke arahku  sembari mengulas senyum setiap satu kalimatmu selesai, dan setiap kali itu pula, konsentrasiku mendadak bubar jalan. Aku terlalu sibuk mendidik mata supaya mereka tak terlalu berbinar riang, menatapmu.

Seekor kucing belang tiga melintas di depan pagar. Ah, sepertinya dia sedang menyeringai nakal, menertawakan muka gugupku. Sialan.

Entah apa yang membawamu kemari. Seingatku, belum pernah kita bertukar alamat rumah. Seingatku pula, kita hanya sesekali terlibat obrolan santai di tempat kerja dan beberapa kali berpapasan tak sengaja, tanpa rencana. Kesadaranku belum genap, jiwaku tercengang lalu terasa ringan hingga melayang kesana-kemari, dan otakku sepertinya baru saja pingsan, mendapatimu bertamu ke rumah, memaksaku mati gaya. Kau datang seolah ini merupakan kunjungan ke sekian kali. Bahasa tubuhmu cukup santai dan tenang. Sedangkan aku hilang diantara rimba pertanyaan monolog. Doaku, semoga ini adalah kenyataan. Namun sayang, mekanisme tubuh yang sedang kurang tertib membuatku lebih percaya bahwa pagi ini  dan semua yang terjadi di dalamnya, hanya mimpi belaka. 

Mataku mengerjap, kau masih disana. Kukerjapkan lagi dan kau tetap disana. Oh, baiklah aku  memang tak sedang bermimpi.

Waktu memulihkan semuanya, memungkinkanku menata dan mengembalikan seluruh komponen kesadaran kembali kepada tempatnya. Kita terus berbaur mencicipi kemewahan pagi. Aku mulai mampu mengacuhkan ketaktahuanku. Sementara partikel-partikel oksigen sedikit demi sedikit telah berdifusi ke dalam tubuh, membantu menjadikanku lebih waras dan normal. Aku bertanya ini dan itu dan kau menjawab pertanyaanku bagai guru taman kanak-kanak yang sedang membantu muridnya belajar hal baru. Aku melempar canda, kau melepas tawa. Sesekali gugup melintas dan aku mengabaikannya dengan baik. Sepintas kulihat Ibu sedang mengintip kita dari celah tirai ruang tamu. Sekilas pula, di batas timur, matahari mulai sibuk bertugas menghangatkan bumi, dan lihatlah, tampaknya ia tak sengaja melukis jejak cahaya jingga di wajahmu. Kau berpendar, ruang antara kita terisi biasan lembut cahaya, menjadikan semua berkerlip indah.

Pagi terasa semakin megah dan kau bagaikan makhluk surga yang baru saja diturunkan ke bumi. Aku begitu ingin mengawetkan waktu.

Hari ini bernama Sabtu, ketika akhirnya kau berpamitan dan kita bertukar senyuman. Aku membiarkan mataku mengikutimu hingga kau lenyap di balik tikungan, hingga bunyi deru motormu benar-benar tak lagi terdengar dan aroma asap knalpotmu lesap terlumat udara. Aku ingin episode pagi ini terekam sempurna, tak terpenggal, bahkan untuk sepersekian detik pun. Mungkin saja dapat kuputar kembali nanti, jika rindu mulai benyali hinggap, menjahili imunitas jiwaku.

"Rindu? Ah, bahkan aku tak tahu apakah nanti aku akan merindukanmu", otakku angkat bicara. Kulihat hatiku diam, tampaknya ia sedang khidmat, mendengarkan isyarat semesta.

Satu pesan singkat masuk, mengedipkan layar telepon genggamku, dua jam setelah kau pulang.

"Terima kasih sudah mengijinkanku menemuimu, di rumah. Semoga kelak, kita punya waktu untuk kembali bertemu"

Ada namamu di akhir kalimat. Aku menyublim ke awan, kembali bertanya pada semesta, apakah ia sedang menyiapkan hadiah untukku, melalui wujudmu.

===================================
Setiap kelahiran patut dirayakan
menyelamati niatan
menghargai kesungguhan
menapaktilasi perjalanan

terimakasih semua lamunan
segala patah arang
setiap remuk redam
semua tawa riang
segala reda sesudah lara

terimakasih Tuhan maha penyembuh hati
dengan penuh kesengajaan merancang setiap pertemuan
yang menyempurnakan,
menumbuhkan lalu menyadarkan

Terimakasih untuk jiwa-jiwa yang selalu meramaikan
namun tetap menaruh hormat pada sunyi dan diam

Terimakasih semuanya,

Selamat Dua Tahun
============================================= 

Wanita

... bukan dari tulang ubun ia dicipta
sebab bahaya menjadikannya dalam sanjung dan puja
tak juga dari tulang kaki
sebab nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
tapi dari tulang rusuk kiri
dekat di hati untuk dicintai
dekat di lengan untuk dilindungi...

^_^ mulia seorang wanita ..