himpunan doa

Kamis, 05 Januari 2012

Lamaranmu KuTolak

Lamaranmu Kutolak!

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah (lamaran).
Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.
Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.
Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.
Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’
sang perempuan muda, dari sisinya.
“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.
“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?” tanya sang setengah baya
sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya,” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak
bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model
seperti itu!” balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal
sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku
takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya,
keras.
Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang
lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di
Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok
mau ngatur keluargamu?”
Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus
terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM
ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya
saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?”
Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera
jualan produk saya Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak
terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,
kalau kerja saja nggak becus begitu?”
Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”
“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan
uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”
Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak
saya nge-net.”
“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan
anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,
Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”
Bisikan, “Tapi Ayah…”
“Kamu kesini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya
Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini
namanya payah. Memangnya anakku supir?”
Bisikan, “Ayahh..”
“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini.”
“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”
Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan
soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang
muda yang sudah menyerah pasrah.
“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh
juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.
Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”
Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu
cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja
pun, aku masih tertatih.”
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.
Source :

Tentang Rindu

Kali ini tentang rindu.
Rindu melihat bunga mawar menjadi biru.
Rindu melihat awan beratapkan kelambu.

Rindu.
Yang terlalu menggebu-gebu.

Tentang ketegaran yang disempurnakan.
Meski ringkih di lain kesempatan.

Wahai Tuhan yang mengatur seluruh alam,
Jagalah ia.. selalu.
Seperti ia menjagaku semenjak kecil.

Wahai Pemilik hari pembalasan..
Ringankanlah pundaknya,
dari beban dunia yang memenjara.



Rabu, 04 Januari 2012

Saat penciptaan ibu…

Bismillah..
Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. Kini giliran diciptakan para ibu.
Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut,
“Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?”
dan Tuhan menjawab pelan,
“Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan? Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik. Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai. Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya. Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukkan hati anaknya. Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah dan Enam pasang tangan! “
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasang tangan?”
“Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik” balas Tuhan.
“Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.”
“Bagaimana modelnya?” Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk- angguk.
“Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya: ‘Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?’, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.”
“Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: ‘Saya mengerti dan saya sayang padamu’ Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.”
“Tuhan”, kata malaikat itu lagi, “Istirahatlah”
“Saya tidak bisa, Saya sudah hampir selesai.”
“Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit. Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging. Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi.”
Akhirnya Malaikat membalik-balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat”, kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita.”
“Apakah ia dapat berpikir?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi.
“Eh, ada kebocoran disini”
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan.
“Itu adalah air mata. Air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata, airmata….”
Sudahkah Anda mengucap syukur karena Anda mempunyai ibu yang luar biasa ?

Rabu, 28 Desember 2011

Kanashimi Wo Yasashisa Ni [Little by Little]


Category:
Music
Genre:
Soundtracks
Artist:
Little by Little

sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
mayoinagarademo ii arukidashite
mou ikkai mou ikkai
dareka no kitai ni zutto kotae
homerarerunoga suki nano desuka?
naritai jibun wo surikaetemo
egao wa itsudemo suteki desuka?
hajimaridake yume mite okiru
sono saki nara itsuka jibun no ude de
souda daiji na mono wa itsumo
katachi no nai mono dake
te ni iretemo nakushitemo
kizukanumama
sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
mayoinagarademo ii arukidashite
mou ikkai mou ikkai
zurui otona wa deau tabi
atama gohashi na sekkyou dake
jibun wo sunao ni dasenaku natte
kizutsukinagara sugu ni togatte
atarashii kaze mikata ni tsukete
sagashite iinda itsuka aoi tori wo
souda daiji na mono wa itsumo
katachi no nai mono dake
te ni iretemo nakushitemo
kizukanumama
sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
mayoinagarademo ii arukidashite
namida no ato ni wa nazeka fukkireta
sora ni niji ga deru you ni shizen na koto
ame wa agatta
dakara daiji na mono wa itsumo
katachi no nai mono dake
te ni iretemo nakushitemo
kizukanumama
sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
kiminara kitto yareru shinjite ite
mou ikkai mou ikkai
mou ikkai mou iikai?
—————————————————
English Translation
——————-
turning sadness into kindeness
your uniqueness into strenght
it’s okay to get lost so begin walking
once again, once again
do you like to be praised by
answering everyone’s expectations?
will your smile always be beautiful
even if you hide your true self?
just dreaming the beginning then waking up
the continuation can be reached someday by myself
the most important thing is always
without any shape
even if you have it or lose it
you’ll never know
turning sadness into kindeness
your uniqueness into strenght
it’s okay to get lost so begin walking
once again, once again
unfair adults are always
giving lectures everytime we meet
being unable to show their true selves
they get grouchy as they get hurt
getting the new wind on your side
it’s now okay to search for the blue bird
the most important thing is always
without any shape
even if you have it or lose it
you’ll never know
turning sadness into kindeness
your uniqueness into strenght
it’s okay to get lost so begin walking
it’s natural like the rainbow
that somehow appears after tears
the rain stopped
so the most important thing is always
without any shape
even if you have it or lose it
you’ll never know
turning sadness into kindness
your uniqueness into strenght
believeing that you should be able to do it
once again, once again
once again, are you ready?
——————————————————
Satu lagi soundtrack Naruto yang kusuka…^^

Wanita Itu…

Sejuk gemericik air di padang gersang
Basah terasa aliri pipa yang kering
hangat sentuhannya damai terasa
Berkahi langkah kita di spanjang hayatnya
Kasih sayangnya sehangat mentari pagi
Belaian tangannya selembut kain sutera
Senyum manisnya hiburkan hati nan luka
Pandang matanya tajamkan hati nan suci
Wahai kawan siapakah dia?
Dia adalah wanita paling berjasa
Sejak kita lahir kedunia dan melanglang alam fana
Tiada tandingan pujinya dalam hidup kita
Yang melahirkan kita
menyusui dan membesarkan kita
Pertaruhkan jiwa raga membela kita semua
Dia adalah ibunda dan selalu mendoakan kita
Dalam keadaan lapang suka ataupun duka
Tutur katanya adalah harapan doa
Nasehat yang berguna sepanjang masa
Keredhoannya adalah ridho Illahi
Kemurkaannya adalah murka Illahi
“Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya
ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah
menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu. “
(QS Lukman ayat 14)
Marilah kita bersama mengasihinya
Selagi Alloh izinkan bersama kita
Bila Alloh telah memanggil ibunda
Sertakan doa selalu bagi dirinya
Semoga Alloh lapangkan alam kuburnya
Dan menyinari selalu dengan cahyanya
Memberkahi ibunda dengan  rahmat-Nya
Dan melapangkan jalannya menuju syurga…
(Siapakah Dia, Suara Persaudaraan)
… tak banyak kata yang bisa terucap, sebab lidah ini sungguh kelu jika sudah berbicara menyangkut sosokmu yang sangatamat berarti dalam hidupku …
panjatkan sepucuk doa, semoga Allah senantiasa menjagamu dan membalas semua kebaikanmu… sebab olehku, takkan terbalas hingga ujung waktu…
Happy Mother’s Day 2011.
Please, Mom. Forgive me.