malam ini, hembusan angin lirih pelan-pelan menyudutkan mata, menyempitkan hati dan membekukan emosi.
malam ini, hatiku gundah, terjal dan tak terarah, tak berbentuk dan tidak lagi merah.
malam ini, kembali jariku lembur karena aku ingin bercerita, tentang kalbuku.
tak ayal, sebuah memori menghantui di setiap gerak-gerik hatiku. merasa bahwa sesuatu sedang di"hidangkan" sangat istimewa. aku bisa mencium baunya, dan pernah mencicipi rasanya.
seperti buah anggur merah, namun kudapati dagingnya berulat.
bijinya sirna, hanya terbungkus kulit yang segar dan memikat.
kugigit, dan lidahku berontak tentang sesuatu yang pahit.
sangat pahit dan pahit sekali.
ingin ku muntahkan tapi tak mungkin, karena Sang Pemilik ada didepanku.
ku telan dengan paksa, kunikmati tiap gigitan dengan kepahitan yang luar biasa.
rupa-rupanya, Sang Pemilik memang sengaja menghidangkan anggur itu.
agar bibirku malu dan hatiku tidak kaku.
tak pernah terbayangkan, pahitnya tak terobati dan masih terngiang sampai sekarang.
terus apa hubungannya dengan malam ini?
kucium bau yang sama, bentuk yang sama, warna yang sama.
tentulah aku cukup trauma merasakan pahitnya.
namun "hidangan" ini tidak seperti dulu yang sengaja disiapkan untukku.
"hidangan" ini diatas meja,
maaf, aku harus membatasi derik hatiku dan menutup bibirku....
aku harus menahan nafsuku...
untuk tidak mencintai yang membuat pahit hidupku seperti dahulu....
karena ini sama persis, beda waktu....
waspada mungkin jalan yang tepat, membuat garis pemisah yang akurat...
diantara dua hati, insan yang berbeda...
agar tiada yang tersakiti, tiada yang menyesal dengan ini.
sungguh kurasa, ini adalah pembayaran yang selanjutnya.
mahal dan tak terhingga.
Allah sengaja, agar aku selalu waspada.
Dia berisyarat dengan kehendak-Nya.
kepadaku dan kita....
27/11/2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar